Korea Akan Bangun
Penggilingan Padi
Modern di Gorontalo
Rabu, 09 Juli 2003
Gorontalo-ROL--Pengusaha
asal Korea bukan hanya membantu petani memanfaatkan lahan tidur seluas
300 hektare melalui program pengembangan tanaman jagung, melainkan
juga akan membangun penggilingan padi modern di Provinsi Gorontalo. Manajer
PT Indora, Bayu Grahananda mewakili Direkturnya, pengusaha asal Korea,
Harry Oha, Rabu (9/7/2003) mengatakan bahwa penggilingan padi itu
menggunakan teknologi canggih agar produksi meningkat dan menghasilkan
beras berkualitas.
Grahananda mengatakan bahwa
gilingan padi tersebut berkapasitas enam ton setiap jam, sehingga akan
sangat membantu petani dalam mempercepat proses pengolahan hasil panen
menjadi beras, dan langsung siap dipasarkan. "Begitu panen, maka petani
langsung dapat menikmati hasil berasnya, karena tidak perlu menunggu lama
di penggilingan padi, "kata Bayu Grahananda. Bila selama ini petani menghasilkan
beras yang tingkat keutuhannya hanya 25 persen, dan 75 persen pecah, maka
dengan penggilingan tersebut akan dihasilkan beras berkualitas tinggi dengan
keutuhan 100 persen. Melalui pengadaan penggilingan padi tersebut diharapkan
tingkat pendapatan dan kesejahteraan para petani di Gorontalo semakin membaik,
kata Grahananda, tanpa merinci nilai investasi penggilingan itu.ant/mim
Tunjang Agropolitan
Jagung:
Pengusaha Korea Investasi
10 Miliar ke Gorontalo
Rabu, 9 Juli 2003
Marisa – Gorontalo Post---Secara
beruntun masyarakat Pohuwato mendapat kabar menggembirakan karena
kemarin secara bersamaan dua investor asal Korea bertandang ke Pohuwato.
Keduanya secara bergantian diterima langsung Bupati Pohuwato, Drs.
Jahya K. Nasib, bersama jajarannya. Investor pertama pengusaha
dari petani adalah Korea Jo Bong Ku yang didampingi Yamin Tahir dari PT
Barin Niaga Semesta dan Agus Sakbani dari PT Monogro Kimi. Dalam paparanya
pengusaha Korea ini akan menanamkan investasi dalam bidang Agropolitasn
Jagung Hibrida dengan varietas C7 dan C9.
Rencana awal pengembangan
jagung hibrida ini seluas 1500 hektare, dengan nilai investasi 10 miliar
di luar bantuan peralatan pertanian. Dari investasi ini pengembanganya
akan dibangun pabrik pengolah hasil pertanian berupa pakan ternak, pupuk,
dan tepung. Seluruh hasil produksinya selanjutnya akan dipasarkan ke negara
Korea.
Menanggapi keinginan investor
Pejabat Bupati sangat mendukungnya, dan beliau akan memberikan bantuan
berupa kemudahan berinvestasi karena hal itu akan meningkatan kesejahteraan
masyarakat, khususnya petani di Kabupaten Pohuwato. Humas dan Protokol
Kabupaten Pohuwato, Armand Mohammad, menambahkan bahwa usai
pertemuan dengan pengusaha yang tergabung dalam The Federation of Korea
Advance Farmers ‘Federasi Petani Korea’ selanjutnya mereka
yang didampingi Staf Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato akan meninjau lokasi
lahan di Desa Manawa, Suka Makmur, dan Balayo.
Gaet Pengusaha Korea
Bangunkan
Lahan Tidur
Senin, 7 Juli 2003
Bonebolango –Gorontalo Post---
Lahan seluas 300 hektar akan ditanami jagung. Pemilik lahan kritis
di Kabupaten Bonebolnago (Bonbol) boleh berbangga, sebab dalam waktu dekat
lahan yang selama ini ‘ tidur ’ akan menjadi produktif dengan bantuan pengusaha
asal Korea yang akan menanami jagung.
Pengusaha di bidang pertanian
asal Korea yang juga mitra kerja Yamin Tahir membutuhkan lahan seluas 1500
hektare di Gorontalo dan dipastikan 300 hektare di antaranya berlokasi
di Kabupaten Bonbol. Lahan yang luas tersebut seluruhnya akan ditanami
jagung sebagai penunjang program agropolitan yang dicanangkan Gubernur
Gorontalo Fadel Muhammad.
Penjabup Ismet Mile saat
mendampingi Yamin Tahir bertatap muka dengan petani berharap agar masyarakat
turut mendukung program agropolitan. Demikian elemen lain seperti BUMD
dan pihak swasta juga mendukung program agroplitan ini. “Masyarakat hanya
menyiapkan lahan saja, kemudian akan menikmati hasilanya,” ujar Ismet.
Dikatakannya pula, petani akan senang sebab bukan hanya buah jagung yang
dapat dijual, melainkan juga semuanya, mulai dari akar, batang,
sampai daun pun akan dibeli pengusaha Korea. “Untuk lahan kritis,
kami prioritaskan untuk ditanami jagung yang hanya untuk diambil batang
dan daunnya,” lanjut Ismet.
Usai memberikan pengarahan
kepada petani, Ismet Mile bersama Direktur BUMD dan Yamin Tahir mendampingi
pengusaha Korea untuk meninjau lokasi pertanian yang akan dijadikan lahan
penanaman jagung.
Korea akan Bangun Pabrik
Panggiliran Beras Modern
di Provinsi Gorontalo
Senin, 7 Juli 2003
Gorontalo – Gorontalo Post---Ini
kabar gembira bagi petani Gorontalo. Pemerintah Korea berkeinginan membantu
teknologi untuk peningkatan produksi dan kualitas beras di Gorontalo. “
Jika selama ini produksi padi hanya 4-5 ton per hektar, maka dengan tekonologi
yang baru ini produksinya akan mencapai 9-10 ton per hektare,” kata Bayu
Grahananda, salah seorang Manajer PT Indora yang menerjemahkan paparan
Presiden Direktur PT Indora Mr.Harry Oha dari Korea.
Menurut Mr. Harry, petani
Gorontalo setahun bisa panen sampai tiga kali. Untuk itu, dia berkeinginan
membangun pabrik penggilingan beras yang bisa menghasilkan beras kualitas
tinggi. Pabrik ini mampu memproduksi beras enam ton dalam satu jam. Kehebatan
lainnya adalah, padi yang baru di panen langsung bisa diproses jadi beras.
“ Jadi, para petani tidak perlu menunggu beberapa hari dikeringkan di matahari.
Pokoknya begitu dipanen langsung bisa diproses jadi beras,” jelas Mr. Harry
Oha.
Bayu menambahkan bahwa pabrik
yang rencananya akan dibangun di Gorontalo itu akan menciptakan beras dari
tiga segmen. Pertama akan menghasilkan beras kualitas tinggi dengan keutuhan
100%. Tentu saja beras dengan kualitas seperti itu untuk kalangan atas,
sedangkan yang kedua adalah beras yang tingkat keutuhannya tiga perempat
persen untuk kalangan menengah ke atas dan yang ketiga beras yang tingkat
keutuhannya 50% untuk menengah ke bawah. Para petani bisa menjual berasnya
dengan harga bervariasi. Dengan sistem penggilingan selama ini, tingkat
keutuhan beras yang dihasilkan hanya 25 %, sedangkan 75% pecah. “ Para
petani tidak bisa menikmati hasil berasnya dengan sempurna,” tuturnya.
Ditanya berapa dana yang
akan diberikan Pemerintah Korea untuk membantu proyek ini? Bayu mengaku
tidak bisa tidak bisa memprediksi. Sebab bantuan yang akan diberikan Pemerintah
Korea itu bergantung kepada tingkat kasus yang terjadi di Gorontalo. Dia
mencontohkan soal pertanian di Bengkalis. Kendala para petani di sana adalah
soal air. Demikian pula dengan Tembilahan di Provinsi Riau, di sana kendalanya
adalah soal irigasi. Karena itu, bantuan yang diberikan adalah untuk membiayai
pembangunan irigasi.
Lalu bagaimana dengan Gorontalo?
Bayu mengatakan, petani Gorontalo lebih hebat daripada Sumatra: rajin
dan rapi. Demikian pula irigasi yang ada di Gorontalo masih cukup bagus,
hanya saja masalah yang dihadapi Gorontalo adalah soal kualitas padinya.
“ Kami sudah memeriksa di beberapa tempat dan menemukan kasus yang agak
aneh. Bagian atas dari kumpulan padi banyak yang kosong, kemudian di bagian
tengahnya sudah ada yang matang, sedang di bagian bawah masih belum matang,”
katanya.
Direncanakan dalam waktu
dekat ini, tim Pemerintah Korea akan datang ke Gorontalo untuk melakukan
observasi serta bantuan apa yang cocok untuk Gorontalo. Sementara itu,
Drs. H. Zamharir A.R.,M.Sc. Wakil Ketua Hubungan Luar Negeri dan Antarlembaga
DPP Golkar yang mendampingi tim dari PT Indora mengatakan bahwa inti
dari kerja sama antara Pemerintah Gorontalo dengan PT Indora yang merupakan
konsultan dari Pemerintah Korea, khusunya di bidang pertanian adalah menjadikan
pertanian sebagai pekerjaan utama. “ Kalau selama ini pertanian hanya menjadi
pekerjaan sambilan, maka dengan adanya teknologi dari Korea ini, pertanian
benar – benar menjadi pekerjaan utama,” paparnya.
Ditambahkan nantinya beras
Gorontalo bisa melayani kebutuhan pegawai negeri, sebab kualitasnya sudah
sangat bagus. Selain itu, Gorontalo akan memiliki jenis beras sendiri,
yakni beras Gorontalo.
Sementara itu, Gubernur Gorontalo
Ir.Fadel Muhammad usai menandatangani MOU (Memorandum of Understanding)
‘nota kesepahaman’ antara Pemerintah Gorontalo dengan PT Indora malam
tadi di Rudis Gubernur mengatakan bahwa Pemerintah Korea akan memberikan
bantuan dalam bentuk Grant. ‘hibah’. Kita sudah harus mampu menerobos
ke luar negeri untuk bisa melakukan kerja sama diberbagai bidang. Khusus
untuk pertanian, saya sudah mengirim Ketua Bappeda Nurdin Mokoginta berangkat
ke Korea, sedangkan di bidang perhubungan kita mencoba melakukan hubungan
dengan Malaysia, dan saya sudah mengirim Kepala Dinas Perhubungan,” ungkapnya.
Selangkah
Lagi Gorontalo Jadi Bank Kelapa di Asia
Kamis, 3 Juli 2003
Gorontalo—Gorontalo Post---
Seluruh varietas kelapa dunia bakal ditanam di Gorontalo. Untuk merealisasi
hal tersebut, Balai Penelitian Kelapa ( Balitka ) Manado segera turun ke
lapangan untuk menentukan lokasi tempat pusat bank kelapa. Ada tiga
lokasi yang ditawarkan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo, yakni Desa Suka
Makmur, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato; Desa Sari Tani, Kecamatan
Wonosari, Kabupaten Boalemo; dan Desa Mongiilo, Kecamatan Tapa,
Kabupaten Bonebolango.
Kadubsin Pengelolaan Kebun
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Gorontalo, Suhardi Hadju bahwa
menjelaskan sebenarnya lokasi bank kelapa terbesar di Asia itu rencananya
dipusatkan di Riau. Akan tetapi, karena ada pertimbangan tertentu,
maka lokasnya dipindahkan ke Gorontalo. Bank kelapa tersebut rencananya
akan menempati lahan seluas 300 hektar. “ Sengaja kami mencari
lokasi sebanyak mungkin, biar Balitka yang menentukan lokasi mana yang
paling pas,” ungkap Suhardi kemarin. Lokasi seluas 300 hektar itu rencananya
bukan hanya ditanami kelapa, tetapi juga akan dibuat perkantoran
untuk menunjang bank kelapa, yang seluruhnya dibiayai oleh soft loan
‘pinjaman lunak’ dari luar negeri. Untuk seluruh dunia bank kelapa
berpusat di Malaysia dengan nama International Cocount Gene (ICG).
Apa keuntungan bila bank
kelapa itu untuk Gorontalo? Suhardi menjelaskan bahwa keuntungannya cukup
banyak. Yang paling besar adalah, Gorontalo akan menjadi pusat kelapa dunia.
“ Gorontalo akan menjadi pusat perhatian dunia bilamana ada orang membicarakan
masalah kelapa. Dan, boleh jadi, Gorontalo akan menjadi pusat penelitian
kelapa dunia karena seluruh varietas kelapa dunia ditanam di Gorontalo,”
ujarnya. Keuntungan lainnya adalah tertariknya minat wisatawan mancanegara
untuk melihat pusat kelapa di Asia, dan dari bank kelapa juga kita
bakal mendapatkan tambahan pendapatan asli daerah (PAD).
Jepang Bantu Rp 500 Miliar
Atasi Banjir di Gorontalo
Senin, 30 Juni 2003
MANADO, Suara Pembaruan
Online- Pemerintah Jepang lewat Japan International Cooperation Agency
(JICA) tahun ini memberikan bantuan sekitar Rp 500 miliar
kepada Provinsi Gorontalo untuk mengatasi banjir di sekitar Danau Limboto.
Gubernur Gorontalo Ir. Fadel Muhamad mengatakan kepada Pembaruan di Manado,
Sulawesi Utara, Sabtu pekan lalu, pihaknya sudah mendapat pemberitahuan
dari pemimpin JICA di Jepang mengenai bantuan itu. "Tinggal kami akan menemui
Presiden Megawati untuk menyampaikan hal tersebut," katanya.
Ia optimistis tahun ini pemberian
bantuan terealisasi karena sangat penting untuk mengatasi banjir di Gorontalo.
Ia mengatakan, sudah sejak lama Danau Limboto meluap pada saat turun hujan
lebat hingga mengenangi permukiman penduduk. Bahkan, kalau hujan lama banjir
dari danau itu mencapai Kota Gorontalo. "Kami melihat warga menderita,
karena itu kami mencari jalan keluar dengan mencari dana dan JICA ingin
membantu," kata Gubernur.
Fadel mengatakan, dengan
pembangunan tanggul di sekitar Danau Limboto, pengerukan, serta penghijauan
kembali, tidak akan terjadi lagi banjir di Gorontalo. Kemudian air Danau
Limboto dapat digunakan untuk irigasi teknis mengingat areal sawah cukup
luas di sekitar danau itu.
Berdasarkan catatan, Danau
Limboto yang luasnya sekitar 8.000 hektare terus mendangkal. Bahkan, di
beberapa bagian kedalamannya tinggal dua meter dan luasnya terus menyempit.
Fadel vs. Kejaksaan:
Tarik-Menarik Lokasi Peradilan
terhadap 24 Kapal Asing
Selasa, 30 Juni 2003
BITUNG –Gorontalo Post--
Tidak mudah memperjuangkan pelaksanaan proses hukum terhadap 24 kapal asing
yang nyata-nyata memasuki perairan Gorontalo tanpa berkas-berkas dokumen.
Beberapa fakta mencuat dalam pertemuan serta kunjungan Gubernur Gorontalo
ke Pelabuhan Armada Pangkalan Utama ke TNI AL (Lantamal) Bitung. Termasuk
di antara soal beking kuat para pengusaha dan pensiunan TNI AL di balik
kasus itu. Karena itu, menurut Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, penanganannya
harus ekstra hati-hati dan mengacu kepada hukum yang berlaku.
Bukan hanya segelintir orang
yang menduga soal adanya beking orang kuat tersebut. Sebut saja Komandan
Lantamal Bitung Laksamana Bitung (Mar) FX Eddy Santoso pun mengakui dan
menjelaskan soal itu. Katanya pihaknya kadang-kadang mengalami kewalahan
dan tidak mampu melawan kuatnya arus para senior di jajaran TNI AL yang
punya bisnis di bidang perikanan itu.
Keganjilan kedua dan sempat
terjadi tarik-menarik yang sengit adalah soal pelaksanaan peradilan terhadap
24 kapal asing tersebut. Menurut versi Kejaksaan Negeri (Kejari) Bitung
yang didukung Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara bahwa proses peradilan
terhadap kapal asing itu harus dilakukan di Bitung atau di wilayah Sulut
karena keberadaan kapal-kapal tersebut. Mereka bersikeras dan mati-matian
agar proses peradilan hukum kapal asing tersebut dilakukan di wilayah hukum
Bitung.
Ironisnya, meski Gubernur
Fadel sudah menyatakan berulang-ulang soal keinginannya agar proses hukum
dilakukan di Gorontalo dengan alasan tiga faktor, tetap saja tidak digubris.
Faktor-faktor versi Gubernur Fadel itu sendiri: (1) lokasi tertangkapnya
kapal-kapal asing diperairan Gorontalo yang dilakukan langsung oleh rakyat
setempat; (2) akibat ulah para nelayan asing itu, rakyat setempat mengeluh
dan melakukan demonstrasi. Bahkan ada juga yang nekat dan membakar
dan menjadikannya rumpon; dan (3) ingin mengingatkan masyarakat Indonesia,
bahwa kawasan Teluk Tomini tidak bisa lagi dijadikan kawasan penjarahan
oleh kapal-kapal besar. Lagi pula sudah ada kesepakatan antara tiga Pemda
Gorontalo, Sulut, dan Sulteng, bahwa kawasan itu hanya untuk menghidupi
nelayan. “Karena itu, keinginan untuk menuntaskan secara hukum serta
bisa diketahui langsung oleh masyarakat Gorontalo harus segera diwujudkan,”
tegas Fadel yang dalam acara tersebut didampingi aparat di Pemda Provinsi,
antara lain Asisten II, Bony M. Ointoe; Asisten III, Hamdan Datunsolang;
Kadis Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo, Nasrun Patadjai; Kajati
Gorontalo, Sumardjono; serta salah seorang anggota DPR Provinsi Gorontalo
yang juga dari TNI AL, yakni Letkol (Mar) Agung Pramono.
Tarik-menarik dan sikap maju
mundur yang diperlihatkan pihak Kejati Sulut dan Kejari Bitung ini sempat
bertahan lama dalam dialog yang digelar Gubernur Fadel di Hotel Grand Puri
Manado selama hampir tiga jam. Kesan yang tampak pada mereka seperti ada
tekanan yang cukup dahsyat, yang membuat mereka terpaksa berargumen agar
pelaksanaan proses hukum dilakukan di Bitung.
Syukurlah, argumen
yang disampaikan Kejati Sulut dan Kejari Bitung di penghujung dialong
mulai melemah, ketika para peserta lainnya berbalik mendukung argumen yang
disampaikan Gubernur Fadel. Gubernur Fadel yang memiliki alasan kuat itu
berhasil menggiring forum pada kesepakatan akhir bahwa pelaksanaan peradilan
terhadap kapal-kapal asing itu dilakukan di wilayah hukum Gorontalo.
Penyerahan Berkas
Sebagai realisasi dari kesepatakan
Grand Puri Hotel Manado, usai peninjauan ke lokasi penambatan kapal asing,
akhirnya dilakukan serah terima berkas pemeriksaan yang dilakukan oleh
Gugus Keamanan Laut (Guskamla) yang dipimpin Laksamana Pertama (Mar) Moechlas
kepada Gubernur Fadel dan dilanjutkan kepada pihak Kejaksaan dan diterima
langsung oleh Kejati Gorontalo.
Akan tetapi, sebagaimana
ditegaskan Kajari Bitung Dominggu Agan, pemeriksaan dianggap belum tuntas
karena masih akan menghadirkan saksi penguat di antaranya Kepala Dinas
Perikanan dan Kelautan Nasrun Patadjai. Untuk itu, forum menyepakati
agar seluruh berkas dalam dua pekan ini bisa tuntas dan langsung diajukan
ke pengadilan.
Gorontalo Ekspor 68
Ribu Ton Jagung ke Malaysia
Senin, 30 Juni 2003
Manado, Suara Pembaruan
Online--Pada bagian lain, Gubernur Gorontalo mengatakan, tahun 2003 ini
daerahnya akan mengekspor jagung ke Malaysia sebanyak 68.000 ton serta
mengantarpulaukan sekitar 230.000 ton ke beberapa daerah di Tanah Air.
Dia mengatakan, jagung yang akan diekspor itu saat ini ditanam pada lahan
70.000 hektare yang melibatkan sekitar 4.800 kepala keluarga (KK) petani
di beberapa keecamatan. Tahun lalu pihaknya mengekspor ke Malysia ratusan
ton jagung. Ia mengatakan, ekspor ini merupakan, bagian dari program "agropolitan"
yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo sejak beberapa tahun
lalu.
Dikatakan, dengan program
agropolitan pendapatan petani cukup tinggi. Jagung petani dibeli oleh pemerintah
daerah dan kemudian dijual kepada pengusaha untuk diekspor. Petani tidak
menjual langsung kepada pengusaha atau eksportir melainkan kepada pemerintah,
dengan harga yang cukup tinggi, Rp 700/kg. Menurut Gubernur, Gorontalo
sangat cocok untuk tanaman jagung. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus
mengembangkannya dalam upaya meningkatkan ekonomi kerakyatan. Dalam pengembangan
jagung ini pihaknya melibatkan banyak pakar dan aparat pemerintah yang
berpengalaman. Ini merupakan langkah pemerintah daerah utnuk mengatasi
kemiskinan.
Selain jagung, pihaknya juga
mengembangkan sektor perikanan. Potensi ikan di perairan Gorontalo besar.
Dalam pengembangan perikanan ini diberikan bantuan kepada nelayan. (136)
Sejumlah 23 Kapal Nelayan
Asing Ditahan di Gorontalo
Senin, 30 Juni 2003
MANADO, Suara Pembarauan
Online - Gubernur Gorontalo Ir Fadel Muhamad meminta agar 23 kapal ikan
berbendera Cina yang ditangkap mencuri ikan di sekitar perairan Gorontalo
atau Teluk Tomini beberapa waktu lalu diproses secara hukum hingga ke pengadilan.
Foto: SCTV
|
"Kasus kapal ini
jangan didiamkan, harus diproses secara hukum, karena ini pelanggaran hukum,"
kata Gubernur Fadel Muhamad kepada Pembaruan pekan lalu di Manado usai
melakukan pertemuan dengan jajaran Dan Latamal VI Bitung yang wilayah kerjanya
hingga Gorontalo.
Pertemuan tersebut untuk
membahas masalah penangkapan 23 kapal ikan milik nelayan Cina yang mencuri
ikan di wilayah perairan Gorontalo. Ke-23 kapal itu langsung digiring oleh
TNI AL ke Pangkalan TNI AL di Bitung untuk diproses secara hukum.
Dukungan
Ia mengatakan, Kepala Staf
TNI AL Laksamana Bernard Kent Sondakh mendukung kasus ini diproses secara
hukum.
|
"Jadi, kita akan proses terus,"
kata Fadel yang didampingi Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Gorontalo Soeharjono,
S.H. dan beberapa pejabat lainnya. Saat ini kapal asing tersebut ditahan
di Dan Lantamal Bitung Sulut dan diperiksa oleh aparat TNI AL dan selanjutnya
diproses di Kejari Bitung untuk dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri di
Gorontalo. (136)
Gorontalo Ambil Alih Peran
Sulut:
Buka Bandara Kargo dan Pemda
se-KTI
Digandeng Pelindo VI
Rabu, 25 Juni 2003
Gorontalo—Gorontalo Post--Hari
ini seluruh Bappeda dan Kimpraswil se-Sulawesi bertemu di Jakarta membahas
soal Tata Ruang Sulawesi. Pertemuan yang rencananya akan dibuka Menteri
Kimpraswil DR.Ir. Soenarto itu dihadiri Gubernur Gorontalo, Ir. Fadel Muhammad,
selaku Ketua Badan Kerja Sama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) yang
juga menjadi salah seorang pembicara dalam acara tersebut. Diperoleh informasi
bahwa Gorontalo akan memulai langkah awalnya mengambil alih peran
Sulut sebagai pintu gerbang di Sulawesi bagian utara. “ Gorontalo akan
memosisikan dirinya sebagai provinsi penting di Sulawesi,” kata Fadel yang
dihubungi malam tadi.
Menurut Fadel yang ingin
mengangkat Gorontalo ke pentas nasional itu, materi pembahasan Tata Ruang
Sulawesi itu menyangkut soal pengembangan energi listrik se-Sulawesi, lintasan
rel kereta api di Sulawesi, dan pengembangan jalan trans-Sulawesi. Yang
tidak kalah pentingnya, kata Fadel, adalah program pemantapan pengembangan
Teluk Tomini, status Pelabuhan Anggrek, dan Pelabuhan Gorontalo menjadi
pelabuhan bebas. Demikian pula pengembangan Bandara Jalaluddin menjadi
bandara kargo internasional. “Jika Tata Ruang Sulawesi ini rampung, maka
Gorontalo akan memetik banyak keuntungan karena posisinya amat strategis.
Apalagi konsep pembangunan Gorontalo sudah jelas,” paparnya.
Menyinggung soal perubahan
wajah Kota Gorontalo, Wakil Ketua APPSI Pusat ini mengatakan bahwa
Kota Gorontalo sebagai Ibu Kota Provinsi Gorontalo tentu harus didandani,
yang tentu saja membutuhkan dana yang kini sedang diperjuangkan untuk mendapatkan
dana dari Pemerintah Pusat. “Mudah-mudahan kita bisa memperoleh dana itu,”
katanya.
Pelindo IV Gandeng Pemda
KTI
Sementara itu, sebagaimana
dilansir Republika, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV yang saat ini sulit
memperoleh suntikan dana untuk mengembangan sejumlah pelabuhan di Kawasan
Timur Indonesia ( KTI ), terpaksa harus menjalin kerja sama dengan sejumlah
pemerintah daerah setempat. “Kami sulit investasi. Untunglah, ada pemerintah
daerah yang cukup baik, misalnya Provinsi Gorontalo, yang mau menanamkan
investasinya di bidang pelabuhan,” ucap Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia
IV, Djarwo Suryanto, pada acara Rapat Dengar Pendapat Umum (RPDU) DPR di
Jakarta akhir pekan lalu.
Selain Gorontalo, pemerintah
daerah lain yang ikut menanamkan investasi adalah Manokwari dan Ternate.
Manokwari menanamkan investasinya sebesar Rp 2 miliar, dan Ternate menginvestasikan
dana senilai Rp 1 miliar. “Pemerintah daerah mengalokasikan dana APBD-nya
untuk investasi di sejumlah pelabuhan yang dikelola Pelindo IV,” ujar Djarwo
sambil mengungkapkan mengenai share-nya semua bergantung kepada besarnya
dana investasi yang ditanam oleh pemerintah daerah. Diakui Djarwo, Pelindo
IV saat ini sulit memperoleh dana investasi untuk pengembangan pelabuhan
di KTI. Di pihak lain, tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelabuhan
di KTI makin tinggi. “Untuk memenuhi harapan tersebut, kami menjalin kerja
sama dengan pemerintah daerah untuk melakukan investasi,” ungkap Djarwo.
Peluang investasi juga dapat
diperoleh melalui program merjer Pelindo III dan Pelindo IV. Menurut Djarwo,
Pelindo IV dan Pelindo III telah melakukan studi banding mengenai proses
merjer dua Pelindo tersebut. “Untuk masalah merjer Pelindo itu, kami mengajak
Universitas Hasanuddin untuk melakukan studi banding,” tutur Djarwo. “
Kita akan kaji kualitas prasarana pelabuhan, dan kemungkinan pembangunan
pelabuhan di kawasan Timur.”
Rencana penggabungan Pelindo
III dan Pelindo IV mendapat reaksi keras dari Kementerian Percepatan Pembanguan
Kawasan Timur (PPKTI) karena kebijakan merjer dinilai tidak sejalan dengan
semangat otonomi daerah. Ditanya mengenai pendapat tersebut, Djarwo mengatakan
bahwa Pelindo tidak memiliki wewenang untuk memutuskan. “Semua keputusan
berada pada Kementerian Negara BUMN sebagai pemegang saham. Pelindo tugasnya
hanya melakasanakan. Apabila diminta untuk dikerjakan, kami kerjakan.
Kami tidak berada pada posisi untuk memutuskan merjer atau tidak,” tandas
Djarwo.
Fadel Bicara Soal
Entrepreneur Government
di Makassar
Rabu, 25 Juni 2003
Makassar—Gorontalo Post--Konsep
Entrepreneur-Government
(EG) atau 'pemerintahan wirausaha' kini bukan menjadi
wacana yang baru lagi. Buktinya konsep EG saat ini telah diangkat menjadi
materi pada Diklatpim II untuk menduduki jabatan eselon II yang dilaksanakan
oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) se-Indonesia Timur yang berlangsung
di Makassar. Hebatnya lagi, Diklatpim kali ini diikuti oleh 140 peserta
perwakilan se-Indonesia Timur. Yang membanggakan kita adalah untuk yang
ketiga kalinya Gubernur Gorontalo, Ir. Fadel Muhammad, menjadi pembicara
seputar konsep EG di Makassar.
Kepala Badan Kepegawaian
Daerah (BKD) Provinsi Gorontalo, Dra. Hanna Rauf, menjelaskan bahwa
dipilihnya Gubernur Fadel Muhamamad menjadi pembicara konsep EG menjadi
sebuah kebanggan karena di antara lima gubernur se-Sulawesi hanya Fadel
Muhammad menjadi pembicara konsep EG. Ini adalah sebuah kebanggaan
“Alasan utama dipilihnya Fadel, karena EG bukan hanya konsep, merlainkan
sudah benar-benar di implementasikan di Gorontalo. Karena itu, LAN
tidak salah mengundang Fadel guna membawakan seputar EG tersebut,”
ujar Hanna Rauf.
Sementara itu, Winarni Monoarfa
yang khusus diundang untuk hadir pada acara Diklatpim guna memberikan perbandingan
kepada peserta menjelaskan bahwa sekalipun ada kendala birokrasi ala sentralistik
berpuluh tahun yang kurang mendukung adanya inovasi dan kreasi, tetapi
penerapan EG di Gorontalo telah berhasil, dan telah mengangkat citra Gorontalo
menjadi setara dengan daerah lainnya.
Identik dengan paparan Winarni
Monoarfa, beberapa pokok pikiran seputar konsep EG juga disampaikan oleh
Fadel Muhammad kepada para peserta Diklatpim Indonesia Timur di Makassar.
Di antaranya adalah konsep otonomi daerah yang memungkinkan daerah untuk
berkreasi sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. “Harapan rakyat kepada
pemerintah sangatlah besar, sehingga pemerintah juga harus bisa memberikan
sesuatu yang berharga kepada mereka,” ujar Fadel Muhammad. Pendapat senada
juga disampaikan oleh Kepala Balitbangpedalda Provinsi Gorontalo, Dr.Ir.Hj.Winarni
Monoarfa,M.S. juga ikut berbicara dalam diklat tersebut.
Mendiknas Setuju IKIP Menjadi
Universitas
Rabu, 25 Juni 2003
Gorontalo- Gorontalo Post--Kerinduan
masyarakat Provinsi Gorontalo untuk mendapatkan perguruan tinggi negeri
berlabel universitas tampaknya tidak lama bakal tercapai Hal ini tampak
dari tanggapan Menterri Pendidikan Nasional, Prof.Dr.Malik Fajar
saat menerima kedatangan para Petinggi IKIP Gorontalo yang menyampaikan
keinginan tersebut di Jakarta kemarin.
Dengan ditengarai oleh Gubernur
Gorontalo, Fadel Muhammad, jajaran IKIP yang terdiri dari Rektor ,DR.Ir.Nelson
Pomaling; mantan rector, Prof.DR. Nani Tuloli; serta seorang guru
besar, Prof. Drs. Tahir Musa; mereka menyampaikan langsung proposal permohonan
alih status IKIP Gorontalo menjadi universitas kepada Mendiknas.
Hampir semua provinsi di
Indonesia sudah memiliki universitas negeri unggulan. Akan tetapi, Provinsi
Gorontalo hanya memiliki kampus terbesar dengan status institut,
yang kadarnya lebih rendah daripada universitas, yakni IKIP Negeri
Gorontalo. Apakah masyarakat Gorontalo sudah merasa puas dengan status
itu? Tentu saja tidak. Kita tidak boleh tinggal diam. Sama halnya dengan
perjuangan untuk mendapatkan status provinsi mandiri, terlepas dari Sulut,
yang juga membutuhkan semangat dan kerja sama seluruh komponen masyarakat,
dan peralihan status STIKIP menjadi IKIP Gorontalo sekarang ini, yang terwujud
berkat adanya sikap proaktif dari unsur civitas akademik IKIP Gorontalo,
maka perjuangan mendapatkan universitas pun, masyarakat Gorontalo
harus bersatu padu untuk meraihnya.
Demikian pula, pihak IKIP
yang kini dipimpin Dr.Ir Nelson Pomalingo melakukan hal yang sama. Tekad
Nelson, mantan Ketua Presnas P2G (Presidium Nasional Pembentukan Provinsi
Gorontalo), adalah agar Provinsi Gorontalo sudah memiliki universitas negeri
yang representatif pada tahun 2004.
Sedikit perbedaan antara
perjuangan beralih status ke IKIP tahun 2000–2001 lalu, di mana kala itu
pihak perguruan tinggi yang dipimpin Prof.Nani Tuloli boleh dikatakan hanya
berjuang sendirian. Kali ini perjuangan untuk mendapatkan universitas,
boleh dikatakan sedikit lebih ringan karena didukung sepenuhnya oleh Pemerintah
Provinsi Gorontalo.
Berkat lobi Gubernur Gorontalo,
Ir. Fadel Muhammad, yang terkenal dekat dengan pihak Jakarta, maka tidak
sulit perjuangan mereka di Jakarta. “Alhamdulillah, Pak Menteri menanggapi
positif dengan keinginan IKIP Gorontalo untuk beralih status menjadi universitas,”
tandas Fadel kemarin via HP dari Jakarta. Lagi pula, tambah Fadel, keinginan
meraih universitas sangat beralasan. Di samping tuntutan akademik sebagaimana
yang diharapkan pihak IKIP, lebih daripada itu adalah tuntutan masyarakat,yang
juga tuntutan sebuah daerah yang sudah berstatus provinsi.
“Bukankah hampir seluruh
Provinsi di Indonesia sudah memiliki universitasnya sudah lebih dari satu.
Jadi, mengapa tidak dengan Gorontalo,” papar Fadel mengemukakan alasan
– alasan saat bertemu Mendiknas. Tanggapan baik Malik Fajar atas usulan
itu menjadi tantangan bagi pihak IKIP. Mendiknas meminta supaya keinginan
universitas tidak senata didasari eufouria emosional, melainkan harus tetap
mengikuti prasayarat – prasyarat akademik yang harus dipenuhi.
Perguruan tinggi adalah lembaga
akademis yang mengedepankan kriteria – kriteria akademik yang harus dipenuhi.
Bila kriteria itu tidak dipenuhi, maka hal itu tidak dapat dipaksakan,
bahkan sekalipun tuntutan dan desakan itu berasal dari seluruh warga,”
papar Malik Fajar seperti disampaikan Fadel Muhammad. Pada pertemuan
itu, Rektor Nelson menyampaikan langsung proposal permohonan alih status
IKIP menjadi universitas.
Pemprov Gorontalo Membuat
Posko Agropolitan di Setiap
Kecamatan
Selasa, 24 Juni 2003
Gorontalo-ROL--- Pemerintah
Provinsi (Pemprov) Gorontalo dalam waktu dekat segera membuat posko agropolitan,
khusus bagi tanaman jagung di setiap kecamatan di provinsi tersebut. Gubernur
Gorontalo Fadel Muhammad, Selasa, mengatakan bahwa semua camat akan diberdayakan
dalam program tersebut agar bisa menjadi manajer produksi, terutama untuk
menampung semua hasil petani.
Melalui pembentukan posko
tersebut, para rentenir yang selama ini banyak merugikan petani tidak bisa
lagi dengan sesuka hati mempermainkan harga ataupun mendikte petani, sehingga
petani bisa semakin sejahtera dari hasil pertaniannya.Para camat akan diberikan
modal sebesar Rp1 miliar dengan rincian untuk mendirikan Bank Perkreditan
Rakyat (BPR) sebesar Rp 500 juta dan biaya operasional, seperti pembelian
bibit, transportasi sebesar Rp 500 juta. "Kepercayaan petani terhadap rentenir
yang lebih besar daripada terhadap pemerintah harus segera kita dihilangkan
agar para petani bisa lebih maju, dan perekonomian masyarakat setiap
tahun makin meningkat, "kata Gubernur Fadel. ant/mim
Gorontalo – Malaysia Buka
Jalur Agrobisnis
Senin, 23 Juni 2003
GORONTALO-Gorontalo Post--Tekad
Provinsi Gorontalo untuk menggenjot pembangunan lewat pemberdayaan sektor
ekonomi terus diupayakan lewat berbagai cara. Dalam pertemuan dengan Indonesia-Malaysia
Businees Council (IMBC) di Makassar, Jumat (20/06/2003) malam,
Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, meminta kepada delegasi bisnis Malaysia
untuk lebih mengintensifkan hubungan bisnis dengan Indonesia, khususnya
dengan wilayah Sulawesi. Apalagi delegasi bisnis Malaysia ini, kebanyakan
bergerak dalam segmen agroindustri, khususnya perikanan dan perkebunan,
maka hubungan bisnis dengan Sulawesi terutama dengan Gorontalo sangatlah
menjanjikan, karena hal itu sangat klop dengan potensi wilayah Gorontalo.
Dalam kapasitasnya sebagai
Ketua Dewan Pembina Badan Kerja Sama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS),
Fadel menjelaskan bahwa sebagian besar potensi daerah di Sulawesi adalah
pada sektor perikanan dan perkebunan tadi. Dia memberikan contoh bahwa
Gorontalo sebagai penghasil jagung dan kelapa, Sulut sebagai pengahasil
cengkih dan kelapa, Sulsel penghasil kakao, dan Sultra sebagai penghasil
jambu mente. “Potensi Sulawesi sangat menjanjikan terutama pada sektor
perikanan dan perkebunan. Kalau delegasi bisnis Malaysia mau berinvestasi
di Sulawesi untuk menggarap potensi itu, maka kami akan mendukung,” ujar
Fadel yang juga Ketua BKPRS menggantikan Zainal Basri Palaguna. Fadel
Muhammad juga berharap agar kunjungan delegasi bisnis seperti ini dapat
diintensifkan pada waktu yang akan datang.
Tanri Abeng yang tampil setelah
Gubernur Sulsel, menjelaskan bahwa kesiapan Pemerintah Daerah, Gubernur,
Bupati, dan Walikota untuk memaparkan potensi daerahnya kepada para delegasi
IMBC adalah sangat penting. Sebab dari keterbukaan para pimpinan daerah
itulah, menurut Abeng, para pengusaha dari negeri jiran itu mau membuka
usahanya di Sulawesi. Lima sektor usaha yang menjadi perhatian delegasi
bisnis Malaysia ini di antaranya adalah pertanian, industri pengolahan
dan perikanan, infrastruktur, energi, telekomunikasi, keuangan, perbankan,
properti, perdagangan, logistik, dan sumber daya manusia. Misi investasi
dan perdagangan tersebut, tambah Tanri Abeng, tidak akan jalan
sekaligus, melainkan secara bertahap.
Setelah mengikuti pertemuan
dengan jajaran delegasi IMBC, Sabtu siang sebelum menuju ke Jakarta, Fadel
Muhammad menggelar pertemuan dengan pengurus BKPRS di Menara Makassar.
Dua agenda penting dalam pertemuan tersebut adalah finalisasi tata ruang
Sulawesi yang akan dibahas bersama menteri Kimpraswil RI, Soenarno pada
tanggal 25-26 Juni 2003 mendatang. Yang kedua adalah prakondisi penyegaran
di tubuh BKPRS, di mana berkembang isu bahwa akan segera diadakan pergantian
Direktur Eksekutif dari Taslim Arifin kepada DR. Ikrar Muhammad Saleh.
Rumor itu menyebutkan bahwa Taslim Arifin segera menempati posisi sebagai
Ketua Dewan Pakar.
Pemprov Gorontalo Beli Kotoran
Kuda
Senin, 23 Juni 2003
Gorontalo-ROL---- Pemerintah
Provinsi (Pemprov) Gorontalo akan membeli kotoran kuda agar tidak lagi
berceceran di jalanan dalam Kota Gorontalo. Hal ini merupakan upaya
menjadikan kota tersebut tetap bersih. "Saya sudah perintahkan kepada
Kepala Dinas Pertanian Provinsi untuk membeli kotoran kuda itu dengan harga
Rp1.000 per kilogram (kg), kata Gubernur Fadel Muhammad. Pemprov
terus membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo supaya ibu kota provinsi
ini tetap bersih, dan semua warga dan para tamu yang bertandang ke daerah
ini makin merasa nyaman.
Salah satu bentuk bantuan
Pemprov adalah dengan jalan membeli semua kotoran kuda. “Selama ini kotoran
itu berceceran di jalan-jalan, jatuh dari kendaraan tradisional bendi,”
kata Gubernur. Pemerintah tidak akan mungkin menghilangkan kendaraan tradisional
angkutan umum khas daerah Gorontalo. Tetapi untuk menjaga agar kotoran
kuda tidak berceceran dimana-mana, maka Pemporv siap menampung kotoran
tersebut.
Menurut Gubernur Fadel, kotoran
kuda manfaatnya sangat besar untuk dijadikan pupuk bagi tanaman. Akan
tetapi, jika kotoran itu dibiarkan menumpuk atau berceceran di jalan,
maka hal itu akan menimbulkan bahaya penyakit dan polusi udara. "Bagaimana
perasaan kita jika turun dari kendaraan, seperti motor atau mobil,
lalu pakaian kita kena debu yang bercampur kotoran kuda kering? Tentu akan
menimbulkan bau tidak enak dan sangat mengganggu,” kata Gubernur Fadel.
ant/mim
Kasus 23 Kapal China akan
Disidangkan di PN Gorontalo
Senin, 23 Juni 2003
Manado-ROL--Kasus 23 kapal
asing berbendera China memasuki perairan Teluk Tomini tanpa memiliki izin
dan saat ini sedang disidik Lantamal Bitung, akan disidangkan di Pengadilan
Negeri (PN) Gorontalo. Anggota DPRD Provinsi Gorontalo selaku salah seorang
tim pemantau kasus tersebut, Jootje Nento, Senin, mengatakan
bahwa Danlantamal VI Bitung, Laksamana Pertama, Edi Susanto setuju kasus
itu disidangkan di PN Gorontalo.
Jootje Nento mengatakan,
dalam pertemuan tim pemantau dengan Danlantamal VI itu belum lama ini,
juga telah dibicarakan mengenai koordinasi instansi terkait untuk penanganan
lebih lanjut atas kasus tersebut. Misalkan diperlukan koordinasi Kejaksaan
Negeri Bitung dengan Kejaksaan Negeri Gorontalo, terutama mengenai tempat
persidangan kasus kapal-kapal asing dari negeri "tirai bambu" tersebut.
Dalam penanganan kasus tersebut,
Provinsi Gorontalo masih kekurangan fasilitas sehingga timbul tiga
opsi. Opsi pertama, disik di Bitung dan persidangan di Bitung, Provinsi
Sulawesi Utara (Sulut); opsi kedua, sidik di Bitung, tetapi persidangannya
di PN Gorontalo; dan opsi ketiga, disik di Gorontalo dan persidangan
di Gorontalo. Akhirnya, berdasarkan aspirasi masyarakat, maka yang dipilih
adalah opsi kedua, kata Jootje Wanta.
Ketua DPRD Provinsi Gorontalo,
Amir Piola Isa, mengatakan bahwa legislatif sebagai wakil rakyat
akan terus memantau proses hukum terhadap kasus tersebut sampai tuntas.
Kasus kapal asing menangkap ikan secara ilegal di Teluk Tomini mendapat
perhatian serius oleh berbagai kalangan masyarakat karena sangat merugikan
pemerintah maupun nelayan di daerah ini. "Setiap tahun Provinsi Gorontalo
mengalami kerugian sekitar Rp 3 triliun akibat penangkapan ikan secera
ilegal oleh kapal-kapal asing, "kata Ketua Dewan Amir Piola Isa. ant/mim
PT PLN-Pemprov Gorontalo
Sepakat
Kembangkan PLTA Waduk Dumbaya
Bulan
Sabtu, 21 Juni 2003
Gorontalo, Fokus
Online ---Potensi Waduk Dumbaya Bulan menjadi perhatian PT PLN dan
Pemerintah Provinsi Gorontalo. Bahkan, dengan menggandeng Departemen Permukiman
dan Prasarana Wilayah, potensi air di daerah Gorontalo tersebut akan dikembangkan
menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang diharapkan menambahkan
keandalan pasokan listrik di provinsi termuda di Pulau Sulawesi tersebut.
|
Untuk itulah, pihak
PT PLN dan Pemprov Gorontalo pada tanggal 30 Oktober 2002 telah menandatangani
Memorandum of Understanding (MOU) ‘nota kesepakatan’. Acara pendatanganan
dilakukan oleh Dirut PT PLN, Eddie Widiono S., dengan Gubernur Gorontalo,
Fadel Muhammad.
Hadir pula pada acara yang
berlangsung di kantor pusat PT PLN itu tersebut antara lain, Rustam Syarif,
Dirjen Sumber Daya Air Depkimpraswil, Ketua DPRD Gorontalo, dan sejumlah
pejabat dari Kimpraswil dan PT PLN.
|
Pembangunan PLTA Dumbaya
Bulan, menurut Eddie Widiono, akan memberikan keuntungan bagai semua pihak.
Bagi PT PLN kehadiran PLTA di Provinsi Gorontalo diharapkan bisa menekan
biaya operasional pembangkitan listrik yang selama ini didominasi oleh
PLTD. Sebab biaya operasional PLTD kini terus meningkat seiring dengan
naiknya harga bahan bakar.
Selain itu, kehadiran PLTA
di Gorontalo diharapkan akan menambahkan pasokan listrik di daerah yang
masuk dalam unit PT PLN Wilayah Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo ini.
Sementara itu, Gubernur
Gorontalo Fadel Muhammad mengungkapkan bahwa akibat masih didominasinya
pasokan listrik oleh PLTD, maka daerah yang dipimpinnya saat ini masih
mendapat subsidi listrik sebesar Rp 15 miliar setiap tahun. Subsidi itu,
papar Fadel, akibat hasil penjualan listrik kepada masyarakat masih di
bawah biaya operasional pembangkitan listrik yang dikeluarkan oleh PT PLN.
‘’Karena itu, kita akan mengembangkan Waduk Dumbaya Bulan,’’ ujar
Fadel.
Pengusaha yang kini menjadi
Gubernur ini mengungkapkan Waduk Dumbaya Bulan memiliki kedalaman lebih
dari 15 meter, dan juga tergolong sebagai waduk yang besar. sehingga memiliki
potensi untuk dikembangkan menjadi PLTA. Apalagi masyarakat setempat sudah
lama menghendaki pengembangan Waduk Dumbaya Bulan menjadi PLTA. Pihak Pemprov
Gorontalo, papar Fadel, menyiapkan dana sebesar Rp 1 miliar untuk studi
kelayakan. Meskipun studi kelayakan baru akan dilakukan, persiapannya sudah
rampung. ‘’Pihak Depkimpraswil menangani waduk, PT PLN akan menyediakan
turbin, sedangkan pengelolaannya akan dilakukan bersama dengan Pempov,’’
ujar Fadel. Selanjutnya pembangunan proyek PLTA Dumbaya Bulan diharapkan
akan mendapat pembiayaan dari Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia.
Fadel Muhammad:
Rp 57 M Untuk Bangun Ibu
Kota Gorontalo
Sabtu, 14 Juni 2003
Gorontalo, Suara Karya Online--Pemerintah
Provinsi (Pemprov) Gorontalo dalam tahun anggaran 2003 mengalokasikan dana
sebesar Rp 57 miliar untuk Kota Gorontalo. Dana tersebut bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dana dekosentrasi, kata
Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, Jumat (13/6/2003) di Gorontalo. Gubernur
Fadel mengatakan, dana tersebut diarahkan untuk membiayai berbagai sektor
pembangunan, antara lain, parawisata, pertanian, perikanan, kelautan, serta
perhubungan. "Sebagai ibu kota Provinsi Gorontalo wajar Kota Gorontalo
memperoleh dana sebesar itu sehingga nanti bisa makin maju dan sejajar
dengan kota lain, "kata Fadel.
Pemprov berusaha memberikan
perhatian khusus terhadap Kota Gorontalo sehingga bisa menarik investor
dan terbuka lapangan kerja. Menurut Gubernur Fadel, pemerintah juga
selalu melibatkan masyarakat dalam usaha memajukan kota ini agar tercipta
suatu rasa tanggung jawab bersama untuk memelihara dan menjaga fasilitas
perkotaan. "Peran warga sangat menunjang dalam pembangunan di era sekarang
ini, "kata Fadel, sambil menambahkan bahwa tanpa partisipasi aktif masyarakat
akan sulit mencapai keberhasilan. Sebab itu, masyarakat diminta membantu
mengawasi pelaksanaan pembangunan di Kota Gorontalo, termasuk penggunaan
dana dari APBN dan dekosentrasi agar benar-benar digunakan sesuai peruntukannya.
Begitu juga kepada para pejabat instansi terkait atas penggunaan dana pembangunan
tersebut agar pemanfaatannya benar-benar diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat, kata Gubernur Fadel.
Sementara itu Rabu, 11 Juni
2003 lalu, Medi Botutihe dilantik kembali menjadi Walikota Gorontalo bersama
dan A.R. Koniyo menjadi Wakil Walikota Gorontalo oleh Gubernur Gorontalo,
Fadel Muhammad atas nama Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Hari Sabarno.
Pelantikan tersebut berlangsung di Gorontalo, berdasarkan Surat Keputusan
Mendagri Nomor 13.55-296 Tahun 2003 serta SK Nomor 132.55-296 Tahun
2003 tentang Pengesahan Pengangkatan Walikota
dan Wakil Walikota Gorontolo Periode 2003-2008. Acara
pelantikan tersebut berlangsung dalam rapat paripurna dewan dengan dihadiri
para pejabat teras instansi pemerintah terkait di daerah itu serta para
undangan dari berbagai lapisan masyarakat.
Medi Botutihe dan A.R. Koniyo
terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Gorontalo dalam sidang dewan
setempat pada tanggal 5 Mei 2003 dengan memperoleh 13 suara dari 25 anggota
DPRD Kota Gorontalo. Terpilihnya Medi Botutihe menjadi Walikota Gorontalo
untuk kedua kalinya, merupakan suatu sejarah baru bagi kota tersebut karena
selama ini belum pernah terjadi.
Gubenur Gorontalo, Fadel
Muhammad, atas nama Mendagri mengatakan, pemilihan Walikota dan Wakil Walikota
ini telah berlangsung sangat demokrasi serta berdasarkan aturan normatif
dan memperhatikan aspirasi rakyat. Menurut dia, hasil tersebut dapat mencerminkan
bahwa masyarakat Gorontalo sangat menghargai demokrasi serta peduli terhadap
masa depan Provinsi dan Kota Gorontalo. Fadel Muhammad mengingatkan, pada
era sekarang ini pejabat hendaknya menghindari sifat egois, karena hal
itu dapat merusak semangat untuk membangun Gorontalo. "Saya minta agar
pejabat bisa memperjuangkan kepentingan daerah dan rakyatnya,"kata Fadel.
(Ant/D-2)
Gubernur Fadel Muhammad
Letakan Batu Pertama Quality
Hotel
Kamis, 12 Juni 2003
GORONTALO –KPDE Kota Gorontalo---Hotel
bertaraf internasional pertama di Gorontalo, dan yang kedua di Pulau Sulawesi
setelah Makassar, pembangunannya kini telah dimulai dengan peletakan batu
pertama oleh Gubernur Gorontalo kemarin. Dengan demikian, dambaan
masyarakat Gorontalo segera terpenuhi.
Turut hadir bersama Fadel
adalah Walikota Gorontalo, Medi Botutihe; Ketua DPRD Provinsi, Amir Piola
Isa; Wakil Gubernur, Gusnar Ismail; Kejati Gorontalo, Soehardjono,
S.H.; Wakil Walikota, A.R. Konio; Dekot Gorontalo, Rahman Pakaya.
Peletakan batu pertama itu merupakan tanda dimulainya pembangunan Hotel
Bintang Tiga yang berlantai empat. Sekalipun hotel tersebut meruapakan
hotel berbintang tiga, tetapi standar pelayanannya setara dengan hotel
bintang lima.
Mengawali acara peletakan
batu pertama Quality Hotel, General Manager Choice Hotel Indonesia, Ellen
Riupassa, menjelaskan banyak hal tentang Quality Hotel. Menurutnya,
Quality Hotel Gorontalo adalah yang kedua di Sulawesi setelah Makassar,
dan merupakan Hotel Internasional pertama di Gorontalo. Quality Hotel Gorontalo
akan menjadi kebanggaan masyarakat Gorontalo, dan bisa menyerap tenaga
kerja yang cukup banyak.
Soal jaringan, Riupassa
menjelaskan bahwa Quality Hotel adalah memiliki jaringan internasional.
Untuk Indonesia, Qualty Hotel mengelola 12 hotel, yang menggunakan merk
Quality and Clarion yang tersebar di Jakarta. Yogyakarta, Solo, Makassar,
Medan, dan Prapat. Targetnya, lanjut Riupassa, akan menangani sampai 40
Hotel pada waktu-waktu yang akan datang. Untuk jaringan internasional,
Qualty Hotel juga tergolong sangatlah besar. Saat ini Quality sudah tersebar
di 46 negara dan sedang mengelola 5.000 hotel.
Sementara itu, Walikota Gorontalo,
Medi Botutihe, yang mendapat kesempatan memberikan sambutan menjelaskan
bahwa kehadiran hotel itu sudah menjadi impian masyarakat sejak lama.
Kehadiran hotel ini juga akan sangat menguntungkan masyarakat Kota Gorontalo
karena lokasinya berada di pusat Kota Gorontalo.
Fadel Muhammad, Gubernur
Gorontalo, yang memberikan sambutan sebelum melakukan peletakan batu pertama
mengibaratkan sebagai wanita, Kota Gorontalo adalah wajahnya Provinsi
Gorontalo. Karena itu, tidak salah kalau wajah provinsi itu dipercantik
dengan beragam fasilitas. Dengan dibangunnya Quality Hotel di Gorontalo,
maka dengan sendirinya Gorontalo sudah masuk ke dalam jaringan hotel internasional.
“Siapa pun investor yang datang, baik itu datang dari luar negeri
maupun nasional tidak akan ragu lagi datang ke Gorontalo karena sudah tersedia
fasilitas yang dibutuhkan ,” tandasnya.
Fadel Muhammad:
Serap Aspirasi Warga dari
Aksi Unjuk Rasa
Selasa, 10 Juni 2003
Gorontalo--Suara Karya:
Pada era reformasi sekarang ini, aksi unjukrasa sudah menjadi suatu hal
yang lumrah dalam menyampaikan aspirasi mengenai suatu masalah. Salah satu
sasaran yang banyak dikunjungi adalah kantor Pemprov, di antaranya kantor
Pemprov Gorontalo.
Menghadapi hal itu, Gubernur
Gorontalo Fadel Muhammad termasuk terbuka menerima para pengunjuk rasa.
Dengan mendengar langsung aspirasi itu, suatu masalah diharapkan bisa diselesaikan
segera. Paling tidak, kebijakan itu bisa meredam kemungkinan timbulnya
gejolak yang tidak diinginkan. Seperti tanggal 5 Juni 2003 lalu, ratusan
pedagang meminta Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, segera turun tangan
mengatasi semakin semerawutnya tempat penjualan di Pasar Sentral dalam
Kota Gorontalo.
Para pedagang dari pasar
sentral itu, mendatangi kantor gubernur dan diterima langsung oleh Gubernur
Fadel Muhammad. "Kami sudah bosan dengan janji Pemerintah Kota Gorontalo
akan membenahi pasar sentral tersebut. Akan tetapi, hingga saat ini
tidak ada realisasi, kata Mahdi salah seorang dari para pedagang itu. Menurut
Mahdi, keadaan pasar tradisional itu saat ini sangat semerawut, tidak ada
ketegasan dari Pemerintah Kota Gorontalo untuk membagi areal berjualan,
berbagai jenis bahan kebutuhan membaur.
"Sekarang ini banyak toko
di Lantai II Pasar Sentral dalam keadaan kosong karena pengelola pasar
tidak tegas, "kata Mahdi, sambil menambahkan, semua pedagang sudah terlanjur
berjubel dilantai dasar. Menurut dia, dari awal pembagian petak/toko
sudah tidak sesuai dengan kesepakatan, sehingga banyak pedagang tidak memperoleh
jatah terpaksa berjualan di emperan pasar sentral.
Gubernur Gorontalo, Fadel
Muhammad mengatakan, pemerintah provinsi akan membantu penyelesaian masalah
Pasar Sentral karena lokasi tersebut merupakan salah satu tempat perekonomian
warga Gorontalo. Para pedagang diharapkan agar bersabar dan menahan diri
jangan terpancing melakukan perbuatan melanggar hukum, karena bisa merugikan
diri sendiri dan masyarakat pada umumnya, kata Gubernur Fadel ketika menerima
pedagang itu.
Sebelumnya, tanggal 2 Juni
2003, ratusan nelayan melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Gubenur dan DPRD
Gorontalo, seraya meminta aparat pemerintah dan instansi terkait menindak
tegas masuknya kapal asing berbendera Cina ke perairan Gorontalo, Selasa.
Nelayan-nelayan tradisional itu meminta kepada pemerintah provinsi serta
aparat hukum di Gorontalo menahan kapal-kapal asing tersebut karena beroperasi
di perairan Gorontalo tidak di lengkapi dengan dokumen resmi.
Pengunjuk rasa itu memberikan
ultimatum kepada Pemerintah Gorontalo dalam waktu tiga hari segera menyelesaikan
masalah tersebut, jika tidak jangan salahkan nelayan akan berbuat tindakan
anarki dengan membakar kapal-kapal asing. "Sebagai rakyat kecil tolong
diperhatikan nasib kami yang telah banyak dirugikan oleh kehadiran kapal
asing tersebut," kata sejumlah nelayan ketika berorasi di hadapan Gubernur
Gorontalo, Fadel Muhammad.
Para nelayan itu juga meminta
agar Pemerintah Gorontalo mengganti kepala Adpel Gorontalo saat ini dijabat
Hendri Siwu karena disinyalir telah melakukan permainan sehingga kapal
asing tersebut dengan leluasa bisa masuk perairan Gorontalo.
Gubernur Gorontalo, Fadel
Muhammad mengatakan bahwa keberadaan 23 kapal asing berbendera Cina tersebut
di perairan Gorontalo ilegal karena dokumen tidak jelas, hanya fotokopi.
Kehadiran kapal asing tersebut telah merusak program Pemerintah Gorontalo
tentang "etalase perikanan" karena kebijakan Peprov tidak dibenarkan kapal
bertonase diatas 30 GTO beroperasi di perairan Gorontalo, tetapi kapal
asing itu bertonase 150 hingga 300 GT.
Dia juga telah meminta kepada
aparat hukum serta imigrasi Gorontalo menyita kapal asing itu dan menahan
anak buah kapal tersebut untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku
di negara ini. Gubernur Fadel meminta agar para nelayan tetap tenang dan
jangan bertindak anarki, karena masalah tersebut telah ditangani instansi
pemerintah terkait.
Ketua DPRD Propinsi Gorontalo,
Amir Piola Isa, mengatakan, kapal - kapal asing itu di sita untuk menjadi
aset daerah, karena kehadiran di daerah ini tidak memiliki izin resmi dari
Pemerintah. Dia juga telah meminta kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo
untuk segera mengadakan kapal patroli laut, sehingga perairan Gorontalo
makin aman dari penangkapan ikan secara ilegal dilakukan kapal asing. (Ant/D-2)
Achmad Hoesa Pakaya:
Peningkatan Sumber Daya
Manusia Jadi Prioritas
Senin, 9 Juni 2003
JAKARTA (Suara Karya): Bupati
Gorontalo, Achmad Hoesa Pakaya, memprioritaskan peningkatan sumber daya
manusia (SDM) sebagai strategi menggerakkan roda pembangunan di Gorontalo.
 |
Dalam kaitan itu,
Pemkab Gorontalo telah membangun sarana pendidikan seperti universitas
dan membebaskan biaya pendidikan sejak tingkat sekolah dasar (SD) hingga
sekolah menengah umum (SMU). "Kami sadar, tanpa sumber daya manusia yang
berkualitas, pembangunan yang berlandaskan pada sektor ekonomi rakyat tidak
akan bisa berjalan," kata Hoesa Pakaya kepada Suara Karya, di Jakarta,
pekan lalu.
|
Meningkatkan kualitas sumber
daya manusia, papar Hoesa Pakaya, merupakan salah satu catur program unggulan
yang dicanangkan Pemkab Gorontalo. Tiga program lain adalah (a) membangun
ekonomi kerakyatan; (b) meningkatkan kualitas agama dan budaya sebagai
perekat pembangunan dan perekat sumber daya manusia; serta (c) membenahi
struktur organisasi lembaga daerah.
"Empat program ini menjadi
visi dan misi saya dalam membangun Gorontalo," kata Hoesa Pakaya yang dilantik
sebagai Bupati Gorontalo pada 26 Februari 2000. Sebagai bentuk konkret
langkah peningkatan sumberdaya manusia di Gorontalo, Pemkab setempat telah
membangun Universitas Gorontalo yang memiliki tujuh fakultas: (a) pertanian,
(b) sosial politik, (c) teknik, (d) kesehatan masyarakat, (e) ekonomi,
dan (f) hukum. Universitas yang dibangun tiga tahun lalu ini terdiri dari
enam gedung bertingkat dan dua laboratorium serta memiliki tiga program
pascasarjana: (a) magister hukum, (b) magister manajemen, dan (c) magister
pembangunan daerah.
Mahasiswa Universitas Gorontalo
tercatat sebanyak 2.250 orang. Untuk membantu mereka yang tidak mampu,
Pemkab Gorontalo memberikan beasiswa dan melakukan subsidi silang. Dana
operasional tahun ini dianggarkan sebesar Rp 1,5 miliar. Sementara untuk
biaya awal pembangunan universitas telah dihabiskan sebanyak Rp 3,7 miliar.
Di sisi lain, tahun depan
Pemkab Gorontalo membebaskan biaya sumbangan penyelenggaraan pendidikan
(SPP) bagi murid SD hingga SMU. "Pemda akan membiayai penuh dana pendidikan
SD hingga SMU ini, sehingga diharapkan tidak ada lagi murid yang putus
sekolah karena alasan tidak ada biaya," ucap Hoesa Pakaya.
Sementara untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, khususnya kalangan masyarakat miskin, Pemkab
Gorontalo meluncurkan program pembangunan rumah rakyat miskin serta plesterisasi
lantai rumah. Program ini ditujukan kepada sekitar 17 persen rakyat miskin
dari 560.000 warga Kabupaten Gorontalo. "Jumlah warga miskin ini sudah
jauh menurun. Waktu awal saya menjadi bupati, rakyat miskin mencapai sekitar
48 persen warga Kabupaten Gorontalo," tutur Hoesa Pakaya pula.
Pemkab Gorontalo menargetkan,
tahun ini membangun 4.000 rumah bertipe 36. Rumah ini dilengkapi atap seng,
beton, dan diplester. "Rumah ini sudah memenuhi kriteria sebagai rumah
sehat dan layak didiami," ujar Hoesa Pakaya juga menjadi Ketua DPD II Partai
Golkar Kabupaten Gorontalo. (Vc-1)
Pemprov Gorontalo Serahkan
Proses Hukum
Kapal Asing kepada TNI -AL
Jumat, 06 Juni 2003
Gorontalo-ROL-- Perintah
Provinsi (Pemprov) Gorontalo telah menyerahkan proses hukum terhadap 23
kapal penangkap ikan asing berbendera Cina kepada Lantamal TNI-AL Bitung,
Sulawesi Utara (Sulut). Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, Jumat di Gorontalo,
mengatakan bahwa proses penyelidikan kapal-kapal asing tersebut diserahkan
kepada Lantamal Bitung karena fasilitas di Gorontalo belum memadai."Kita
belum memiliki fasilitas untuk melakukan proses hukum terhadap kapal-kapal
penangkap ikan itu sampai ke pengadilan, "kata Fadel sambil menambahkan,
Pemprov Gorontalo akan membentuk tim untuk memantau proses hukum itu.
Kapal-kapal asing itu akan
digiring dari Pelabuhan Gorontalo ke Lantamal Bitung dengan menggunakan
kapal Perang KRI Untung Suropati. Menurut Gubernur Fadel Muhammad, 23 kapal
asing itu ditangkap saat memasuki perairan Gorontalo sedang menangkap ikan
tanpa dilengkapi dokumen izin penangkapan sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Sementara itu, Dan Guskamlatim,
Laksma Mouchlas Sidik mengatakan bahwa penanganan kapal asing tersebut
proses hukumnya dilakukan di Lantamal Bitung sekaligus pihaknya akan mengawasi
agar kapal tersebut tidak akan lari. "Kami akan terus mengadakan koordinasi
dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo terhadap perkembangan kasus kapal
asing ini,"kata Sidik.
Dia juga telah meminta kepada
Pemprov Gorontalo agar memantau perkembangan kasus ini serta mengadakan
pemantauan bila terdapat lagi kapal asing memasuki Gorontalo tanpa dilengkapi
dokumen resmi. Baik Gubernur maupun Dan Guskamlatim mengatakan akan menangani
kasus ini secara transparan sehingga masyarakat dapat mengetahui dengan
jelas prosesnya tanpa ada yang disembunyikan. ant/abi
Pemkab Gorontalo Bebaskan
Siswa dari SPP dan BP3
Jumat, 06 Juni 2003
Gorontalo-ROL-- Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Gorontalo mulai tahun 2004 mendatang akan membebaskan
seluruh siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dari kewajiban
membayar SPP, BP3, serta iuran lain. Bupati Gorontalo, Ahmad Pakaya, Kamis
di Gorontalo mengatakan bahwa kebijakan tersebut ditempuh dengan tujuan
agar seluruh anak usia sekolah di daerah ini dapat menikmati pendidikan
secara merata.
Sebagai langkah awal, kata
Bupati Pakaya, kini telah diadakan pendataan jumlah sekolah dan anak usia
sekolah serta siswa mulai sekolah dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat
pertama (SLTP), hingga sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) di daerah itu.
Pemkab Gorontalo akan mengalokasikan dana sekitar Rp1,4 miliar sebagai
pengganti Sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) dan dana badan pelaksana
pengelola pendidikan (BP3) melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) tahun 2004.
Sementara itu, secara terpisah,
Sekda Kabupaten Gorontalo, David Bobihoe, mengatakan bahwa ada beberapa
faktor yang melatarbelakangi kebijakan pembebasan SPP dan BP3 tersebut.
Faktor-faktor itu, antara lain, dalam beberapa kali kunjungan ke beberapa
tempat di Kabupaten Gorontalo ditemukan keluhan anak -anak usia sekolah
tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya SPP dan BP3. "Banyak
anak-anak usia sekolah terpaksa sudah turun ke ladang untuk membantu orangtuanya
mengolah lahan pertanian karena tidak mampu membayar SPP dan BP3, "kata
David Bobihoe.
Dengan adanya kebijakan bebas
SPP dan BP3 itu, diharapkan anak-anak usia sekolah bisa melanjutkan pendidikan
hingga selesai, sedangkan usaha orang tua murid tinggal terfokus kepada
pengadaan alat tulis menulis, kata Bobihoe. ant/abi
Pemprov Gorontalo Subsidi
Rp 2,5 M untuk Harga Jagung
Kamis, 05 Juni 2003
Gorontalo-ROL-- Pemerintah
Provinsi (Pemprov) Gorontalo akan berikan subsidi sebesar Rp2,5 miliar
untuk membantu transportasi jagung agar harga komoditas pertanian itu tidak
anjlok. Wakil Gubernur Gorntalo, Gusnar Ismail, Kamis di Gorontalo mengatakan
bahwa Pemprov Gorontalo tidak akan menurunkan harga jagung, melainkan akan
memberikan subsidi sehingga para petani tidak rugi, dan program agropolitan
tidak akan sia - sia. "Kami akan membicarakan dengan pihak legislatif terhadap
rencana subsidi tersebut, "kata Gusnar.
Selain itu, Pemprov Gorontalo
akan melibatkan pimpinan daerah dalam mengatasi turunnya harga jagung sehingga
harga komoditas tersebut akan tetap Rp 800 per kilogram (kg) di tingkat
petani. Anjloknya harga jagung bukan merupakan kebijakan Pemprov Gorontalo
atau BUMD serta pengusaha pengumpul komiditas itu, melainkan pasaran nasional
saat ini sedang tidak menentu sehingga berimbas pada turunnya harga jagung
di Gorontalo.
Wagub Gusnar juga meminta
kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar dapat membantu petani. Jangan
kalah bersaing dengan "lintah darat" yang sering menyusahkan para petani
di daerah tersebut. ant/abi
Gorontalo & Sulut Bangun
Pembangkit Listrik Sekam
Senin, 2 Juni 2003, 06:37:45
JAKARTA, Bisnis
Online--: Perusahaan daerah Gorontalo bersama dengan Sulawesi Utara
mendapat pinjaman lunak dari Spanyol sebesar 32,2 juta euro plus hibah
800.000 euro untuk proyek pembangkit listrik tenaga sekam. Kepala perwakilan
Cobra International di Indonesia, Wilton Tjugiarto, mengatakan kedua provinsi
tersebut mendapatkan dana pinjaman lunak ditambah dengan hibah untuk membangun
pembangkit di kedua daerah tersebut dengan total kapasitas 10,5 MW.
"Dana 32,2 juta euro itu
total pinjaman untuk keduanya. Hanya saja Gorontalo akan mendapat lebih
besar karena proyeknya juga lebih besar daripada Sulut," katanya menjawab
Bisnis kemarin. Dia menuturkan pinjaman dari Spanyol tersebut diperoleh
oleh kedua provinsi tersebut setelah mereka melakukan kerja sama dengan
perusahaan dari Eropa untuk membangun pembangkit tenaga sekam padi masing-masing
4,2 MW di Sulut dan 6,3 di Gorontalo.
Profil proyek kerja sama
sama Gorontalo dan Sulut dengan Eropa
-
Jenis proyek : Proyek pembangkit
listrik tenaga sekam padi
-
Total kapasitas : 10,5
MW
-
Gorontalo : 6,3 MW
-
Sulawesi Utara : 4,2 MW
-
Investasi : 32,2 juta Euro
-
Asal pinjaman : Spanyol
-
Jadwal proyek : 2003-2004
Gorontalo, tuturnya, bekerja
sama melalui perusahaan daerah PT BUMD Agro Gorontalo yang akan berubah
nama menjadi PT Gorontalo Fitrah Mandiri, dan Sulut akan bekerja sama melalui
PD Gardasera. Dalam kerja sama tersebut, jelas dia, perusahaan dari Eropa
bertindak sebagai engineering yang akan memberikan bantuan teknik
terhadap proyek tenaga listrik tersebut. Wilton mengatakan kedua proyek
pembangkit tersebut akan mulai dibangun tahun ini juga dengan proyeksi
penyelesaiannya pada 2004.
Lebih lanjut, dia menuturkan
pemerintah Provinsi Gorontalo mendapat pinjaman lunak sebesar 18,5 juta
euro ditambah hibah 400.000 euro. Sedangkan Sulut, lanjutnya, memperoleh
pinjaman lebih kecil daripada Gorontalo yaitu 13,7 juta euro ditambah nilai
hibah yang sama 400.000 euro. Dia mengatakan jatah hibah yang didapatkan
kedua daerah tersebut adalah realisasi dari kesepakatan antara Asean dan
Komisi Eropa bidang energi.
Dalam kesepakatan kedua lembaga
kerja sama tersebut, ungkapnya, disepakati bahwa setiap kerja sama pembangunan
listrik terbarukan dengan Eropa oleh negara Asean akan mendapatkan hibah
dari lembaga donor tersebut dengan nilainya yang telah ditentukan. Sementara
soal pinjaman dari Spanyol, katanya, adalah pinjaman lunak berbentuk two
step loan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Spanyol.
Sektor hilir
Cobra International, lanjut
Wilton, dalam proyek tersebut akan bertindak sebagai pihak pendukung yang
akan terlibat di sektor downstream, yaitu
pengadaan sekam. Dalam hal
ini, lanjutnya, Cobra akan berkoordinasi dengan petani dan pemilik penggilingan
padi (rice milling) di daerah untuk menyuplai kebutuhan sekam bagi pembangkit
tersebut. "Kami hanya akan mem-back up kekurangan suplai dari rice milling
yang ada sekarang. Artinya, kami akan punya rice milling sendiri untuk
meningkatkan suplai dari yang disediakan oleh rice milling milik petani,"
kata Wilton. Kebutuhan sekam untuk pembangkit tersebut, menurut dia, sangat
besar yaitu mencapai 105.000 ton untuk 10,5 MW.
Dia memberikan contoh untuk
30.000 ha sawah akan menghasilkan sekitar 60.000 ton sekam padi. "Sekarang
lahan sawah yang sudah diperuntukan untuk itu baru sekitar 30.000 ha saja."
Untuk itu, katanya, Cobra bersama dengan pemda akan melakukan pendataan
ulang terhadap penggilingan padi yang sudah ada saat ini di kedua provinsi
tersebut untuk konsolidasi pengadaan sekam nantinya. (02)
Gubernur Fadel Muhammad Akan
Melantik Medi
Kembali Jadi Walikota Gorontalo
GORONTALO--Suara
Karya Online (Rabu, 28 Mei 2003): DR. H .Medi
Botutihe, S.E. terpilih lagi menjadi Walikota Gorontalo periode
2003-2008, bersama pasangannya A.R. Koniyo sebagai Wakil Walikota Gorontalo,
dalam rapat paripurna istimewa DPRD Kota Gorontalo, pekan lalu. Menurut
rencana, Medi akan dilantik oleh Gubernur Gorontalo, Ir. Fadel Muhammad,
pada tanggal 9 Juni 2003 mendatang. Medi/Koniyo berhasil meraih 13
suara, sedangkan rival terdekat pasangan Nurdin Monoarfa/AR Koniyo memperoleh
12 suara dalam suatu "pertarungan" sengit memperebutkan 25 suara anggota
Dewan Kota Gorontalo. Pada pemilihan tahap pertama, pasangan Medi/Koniyo
mendapat suara sebanyak 13, Nurdin/Koniyo mendapat 10 suara, dan
pasangan Hamzah Isa/AW Thalib hanya 2 suara.
Berdasarkan ketentuan bahwa
hasil pemilihan tahap pertama itu belum memenuhi syarat, sehingga dilanjutkan
dengan pemilihan tahap kedua yang menampilkan dua pasangan, yakni
pasangan Medi/Koniyo dan pasangan Nurdin/Koniyo. Pasangan Isa/A.W. Thalib
telah gugur pada putaran pertama.
Pada pemilihan tahap kedua
itu pasangan Medi yang saat ini masih menduduki jabatan Walikota Gorontalo,
bersama pasangannya, Koniyo, berhasil mengungguli rivalnya Nurdin/Koniyo
dengan kemenangan suara tipis 13 - 12.
Berdasarkan kesepakatan dan
permintaan para anggota DPRD Kota Gorontalo, maka kartu suara yang digunakan
untuk proses pemilihan tahap satu dan tahapan kedua, setelah disahkan oleh
anggota dewan harus dibakar. Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Gorontalo
periode 2003-2008 berlangsung secara demokrasi, aman, dan tertib. Masing-masing
kontestan saling memberikan salaman setelah pasangan Medi/AR Koniyo terpilih.
Sidang paripurna itu dihadiri oleh Wakil Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail;
Ketua DPRD Propinsi Gorontalo, Amir Piola Isa; serta unsur muspida di daerah
tersebut.
Medi lahir tanggal 12 September
1941 di Desa Motolalu, Kabupaten Gorontalo, yang kini telah menjadi bagian
dari Provinsi Gorontalo. Putra dari Datau Batutihe dan Aisah Hulopi itu
adalah cucu dari Sultan Batihe sebagai pendiri kota Gorontalo. (Ant/D-2)
Total 557.906 Wajib Pilih
Terdaftar di Gorontalo
GORONTALO – Gorontalo Post
(22 Mei 2003) ---Sampai saat ini jumlah wajib pilih yang sudah terdaftar
sebagai pemilih pada pemilu 2004 telah mencapai 557.906 jiwa. Demikian
data terakhir yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo
selaku pelaksana P4B (pendaftaran pemilih dan pendataan penduduk berkelanjutan)
di wilayah ini. Kabag Tata Usaha BPS Provinsi, Nizam Ismail, mengatakan
bahwa capaian tersebut masih bersifat sementara karena usaha pencacahan
masih terus dilakukan .
Perlu diketahui selain pendataan
wajib pilih pada proses P4B juga dilakukan pencacahan jumlah pendududk
keseluruhan. Tercatat jumlah penduduk Provinsi Gorontalo per 19 Mei 2003
sebanyak 878.542 jiwa. Bila dicermati capaian BPS ini sudah cukup memadai.
Angka penduduk keseluruhan (termasuk bukan wajib pilih) tersebut sudah
lebih tinggi dari jumlah penduduk total hasil sensus penduduk terakhir,
tahun 2000, di mana saat itu berkisar 855 ribu jiwa.
Nizam Ismail memprediksi
bahwa 90-an persen wajib pilih yang telah beroleh kartu pemilih. Diakuinya
masih ada warga yang belum terdata pada pencacahan regular yang dilakukan
aparat desa. Karena itu, pendaftaran wajib pilih masih terus dibuka hingga
akhir Juni 2003 ini. Akan tetapi, proses pendataannya sudah diserahkan
kepada wajib pilih untuk secara proaktif melaporkan langsung ke kantor
desa/ kelurahan tempat tinggal yang bersangkutan.
Batalion 713 Gorontalo Siap
Berangkat ke Aceh
Sabtu, 31 Mei 2003 15:57:00
Gorontalo-ROL-- Batalion
713 Gorontalo dalam waktu dekat akan segera diberangkatkan ke Nanggroe
Aceh Darusalam (NAD) untuk melaksakan tugas pengamanan operasi terpadu
di daerah bergejolak itu. Komandan Batalion 713 Gorontalo, Letkol Inf Agung
Juwarsono, Sabtu di Gorontalo mengatakan bahwa jumlah pasukan yang akan
dikirim ke daerah tersebut tercatat 433 orang. Mereka ditugaskan di garis
depan sebagai pasukan pemukul.
Jadwal pemberangkatan pasukan
ini belum bisa dipastikan. Wakad Letjen TNI Darsono bersama rombongan ke
Gorontalo belum lama ini untuk melihat langsung kesiapan Batalion 713 Gorontalo
untuk mengemban tugas tersebut. Berbagai persiapan dan pelatihan telah
dilaksanakan oleh Pasukan 713 Gorontalo, sehingga tidak ada masalah,. Mereka
sewaktu-waktu dapat diminta segera menuju ke medan perang, siap melaksanakan
tugas untuk mepertahankan keutuhan wilayah Indonesia, kata Agung.
Ant/Zis
Gubernur Gorontalo Minta
Bupati dan Walikota Bantu TVRI
Selasa, 27 Mei 2003
Gorontalo-ROL-- Gubernur
Gorontalo, Fadel Muhammad, meminta kepada para bupati dan walikota membantu
stasiun TVRI Gorontalo yang sejak tanggal 1 Mei 2003 telah mengudarakan
informasi tentang Provinsi Gorontalo. Jajaran TVRI Gorontalo diminta agar
tetap melakukan siaran dan memperluas jangkauan siaran sehingga informasi
pembangunan bisa diketahui masyarakat, kata Gubernur Fadel, Selasa, ketika
meninjau stasiun TVRI tersebut.
Pada kesempatan itu, Gubernur
Fadel menjanjikan akan membantu berbagai perlengkapan, baik untuk
siaran maupun studio. Pemerintah Gorontalo juga akan memfasilitasi media
elektronik tersebut agar bisa lebih optimal dalam memberikan informasi
kepada masyarakat di Gorontalo maupun di luar daerah itu. Pimpinan TVRI
Gorontalo, M. Sanusi mengatakan, pihaknya bertekad akan memberikan layanan
sebaik mungkin kepada masyarakat dengan berbagai informasi pembangunan.
"Kami tidak akan menyia-nyiakan bantuan dari Pemerintah Propinsi Gorontalo
dan secepatnya akan melengkapi peralatan studio, "kata Sanusi. ant/mim
Polresta Gorontalo Menahan
12 Kapal Asing
Senin, 26 Mei 2003
Gorontalo-ROL-- Hasil kerjasama
Polresta Gorontalo dengan Syahbandar Gorontalo, akhir pekan lalu menahan
12 kapal penangkap ikan asing yang beroperasi secara ilegal di sekitar
perairan daerah tersebut.Kapolresta Gorontalo, AKBP Rozimi, Senin di Gorontalo,
mengatakan bahwa kapal asing yang berbendera Cina itu menggunakan pukat
harimau sebagai alat penangkapan ikan yang dilarang digunakan di Indonesia.
Kapal-kapal asing tersebut saat ini ditahan di Pelabuhan Gorontalo dibawa
pengawasan aparat keamanan setempat, untuk diproses lebih lanjut dengan
berkoordinasi instansi pemerintah terkait.
Aparat kepolisian akan tetap
mengawasi kapal-kapal penangkap ikan itu sambil menunggu kedatangan pimpinan
PT Tuna Mas Samudra (TMS) berkantor pusat di Jakarta, selaku agen kapal
untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Kepala Seksi Eksplorasi dan
Eksploitasi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, Resma K. mengatakan
bahwa kapal-kapal asing itu yang berukuran masing-masing 100 gross ton
(gt), setelah diperiksa tidak memiliki izin menangkap ikan. Mereka itu
diduga hanya mendapat izin perusahaan PT TMS merupakan agen mereka untuk
melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia.
Ketua DPRD Provinsi Gorontalo,
Amir Piola Isa, mengatakan bahwa untuk mencegah usaha penangkapan ikan
secara ilegal oleh kapal asing maupun kapal lokal sebaiknya kita segera
membentuk santuan Polairud di daerah ini. Pemerintah setempat juga harus
menyiapkan fasilitas berupa kapal berkecepatan tinggi guna menangkap kapal-kapal
tersebut yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Gorontalo.
"Sepanjang usulan Pemerintah
setempat menyangkut kepentingan bagi pengamanan wilayah dan kepentingan
rakyat, DPRD Provinsi Gorontalo pasti akan memberikan dukungan. Misalnya,
usaha pengadaan kapal cepat, "kata Amir. ant/mim
Debut Sinetron Prouduksi
Gorontalo
“Janjia” Siap
Tayang
Gorontalo—GP (26 Mei 2003)--Akhirnya
Gorontalo mampu membuktikan kemampuannya dalam memproduksi sebuah sinetron.
Sinetron “Janjia” yang proses syuting dan editingnya yang rampung beberapa
waktu lalu sudah dilaksanakan pemutaran perdana di Rumah Dinas Walikota
Medi Botutihe.
Sinetron ini mengisahkan
tentang janjia ‘janji’ orang mahasiswa ini dipastikan dapat diterima oleh
masyarakat Gorontalo. Selain cerita yang menarik, disutradarai oleh sutradara
kawakan Pitrajaya Burnama, juga didukung oleh pemain–pemain berbakat, seperti
Jefri Husain dan Irwan Wantogia.
Iwan yang juga anggota Deprov
ini dalam sinetron yang diproduksi Dinas Pariwisata Kota Gorontalo ini,
berperan sebagai Pak Bone, ayah Lisa pacar Fadly (Jefri Husain). Irwan
merasa sangat bangga dengan kemampuan Gorontalo yang bisa memproduksi sinetron
perdana ini.
Pemutaran debut sinetron
Janjia ini dihadiri oleh Walikota, seluruh kepala dinas, para pemain, dan
Sutradara Pietrajaya Burnama.
Dengan debut produksi sinetron
ini, menurut Irwan, Kota Gorontalo tahun ini mampu menciptakan dua sejarah
sekaligus. Pertama, Medi Botutihe dua kali menjabat sebagai Walikota Gorontalo
yang selama ini belum pernah terjadi; dan kedua, adalah lahirnya sinitron
produksi Gorontalo yang telah menjadi dambaan masyarakat Gorontalo sejak
tahun 60-an ini.
Selanjutnya, sinetron Janjia
ini akan ditayangkan di Gorontalo Televisi (tv swasta milik Gorontalo)
dengan durasi 1 jam 7 menit,” ujar Irwan. Dengan hadirnya sinetron ini,
Irwan berharap Pemkot bisa mendukung dan memberi motivasi terhadap seniman-seniman
di Gorontalo untuk lebih mengembangkan bakat masing-masing guna mengangkat
harkat dan martabat Pemkot, khususnya bidang Pariwisata.
BKPRS Jajaki Pemberlakukan
Visa Tunggal se-Sulawesi
Makassar—Fajar Online (Ahad,
18 Mei 2003)--Dalam usaha merangsang pertumbuhan ekonomi kawasan, Badan
Kerja Sama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) tengah menjajaki kemungkinan
pemberlakukan fiskal tunggal di Sulawesi. Inilah agenda sekaligus terobosan
besar, Fadel Muhammad yang juga sang Gubernur Gorontalo, pada
hari pertama pengukuhannya sebagi Ketua BKPRS di bidang fiskal dan tarif
ekspor.
Fadel menjadi Ketua BKPRS
menggantikan HZB Palaguna yang habis masa tugasnya Januari 2003 lalu. Upacara
serah terima jabatan itu berlangsung di Gubernuran Sulsel, Sabtu (17/5/2003)
pagi lalu. Gagasan perberlakuan fiskal tunggal Sulawesi itu katanya,
merupakan bagian 'differential policy' pembangunan yang akan segera diusulkan
BKPRS ke tingklat pusat. Ide itu sendiri sempat menyisakan curiga pada
sekitar 20-an wartawan cetak dan elektronik yang hadir di Hotel Sedona,
Makassar pada siang harinya. Pemberlakuan fiskal tunggal Sulawesi tersebut
dinilai sarat muatan politik.
Pasalnya, Fadel yang juga
fungsionaris DPP Golkar itu mengharapkan peran dan keterlibatan DPRD se-Sulawesi
untuk menyuarakan satu dari sekian gagasan pemberdayaan ekonomi regional
Sulawesi. "Mungkin tahap awal kita membentuk Legislative Board di Sulawesi,"
katanya. Guna memuluskan gagasan itu atas nama BKPRS, dia mengaku
segera menggelar rangkaian pembicaraan dengan DPR dan Menteri Keuangan,
Juni 2003 mendatang. "Awal Juni nanti saya akan bertemu dengan Menteri
Keuangan di UGM. Pada pertemuan dengan anggota DPR, saya juga akan menyampaikan
gagasan tersebut," katanya terpisah.
Sebelumnya pada pengantar
penjelasan persnya, Fadel memaparkan bahwa agenda BKPRS selama setahun
ke depan adalah pemberdayaan agroekonomi berbasis kerakyatan. "Focus Sulawesi
in coorporated” adalah ekonomi, bukan politik," tandasnya, sambil
menambahkan bahwa jabatan ini akan diembannya hanya sampai
Mei 2004 (tahun depan) atau sebulan sebelum Pemilu 2004.
Dia menjelaskan pula bahwa
pemberlakuan fiskal tunggal itu akan sangat membantu lalu-lintas perdagangan
komoditas unggulan di Sulawesi. Selama ini tambahnya, pajak ekspor cengkeh,
kakao, jagung, dan hasil perikanan laut, dan tangkap di Sulawesi, masih
merujuk kepada situasi mikro pembangunan di Jawa. Padahal, katanya, infrastruktur
pendukung kegiatan ekonomi di Pulau Jawa sangat berbeda dengan di kawasan
timur Indonesia (KTI), terutama Sulawesi. Ia menambhakan bahwa rencana
itu merupakan skenario untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sulsel di
atas enam persen.
Semangat dan ide pemberlakukan
fiskal tunggal Sulawesi itu mendapat tanggapan positif dari ekonom asal
Unhas, Dr.Taslim Arifin. Menurut dia, dari segi regulasi, usulan itu bisa
diakomodasi dan ditindaklanjuti pemerintah daerah dan DPRD se-Sulawesi.
"Infrastrukur pendukung kegiatan ekonomi di Sulwesi mamang membutuhkan
kebijakan ekonomi mendasar, khususnya bidang moneter, fiscal, dan tarif
bea masuk barang," katanya.
Pada kesempatan yang sama,
Ketua DPRD Gorontalo, H. Amir Piola Isa, menyatakan bahwa dirinya amat
mendukung rencana pembentukan 'Legislative Boarding' se-Sulawesi itu. Setidaknya
kata dia, untuk membahas isu-isu strategis yang berkaitan dengan kebijakan
dan regulasi nasional. "Kita amat mendukung rencana itu," jelasnya. (rp25-nit/zs)
Merjer Pelindo IV Rugikan
Masyarakat Sulawesi
Ahad, 18 Mei 2003
Makassar-Fajar
Online--Rencana kementerian BUMN menggabungkan manajemen PT Pelindo
III (Surabaya) dan IV (Makassar) terus mendapat sandungan. Kali ini sandungan
datang langsung dari Badan Kerja Sama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPR)
yang disampaikan sang ketuanya, Fadel Muhammad.
Dengan tegas sang Gubernur
Gorontalo itu menolak rencana restrukturisasi BUMN yang akan menggabungkan
dua menajemen pelabuhan (PT Satelindo III Surabaya dan PT Pelindo IV Makassar).Sebelumnya,
atas nama Kadin se-Kawasan Timur Indonesia (KTI), H.M. Aksa Mahmud juga
menyatakan penolakan terhadap rencana merger dua Pelindo tersebut.
Pada kesempatan lain, dalam seminar nasional soal merger dua Pelindo tersebut,
Ketua DPRD Sulsel, H. Eddy Baramuli, juga mengisyaratkan penolakannya.
Ketua BKPRS Fadel Muhammad
di depan wartawan, Sabtu (17/5/2003) lalu mengatakan, sebagai sebuah korporasi
besar, maka alasan merger PT Pelindo itu amatlah rasional. Restrukturisasi
anak perusahaan yang rugi adalah sebuah kebijakan bagus dan tepat.
Akan tetapi, dari aspek pemerataan ekonomi pembangunan kawasan, merger
itu akan sangat merugikan masyarakat se-Sulawesi. "Merger bukanlah jalan
keluar terbaik bagi pembangunan ekonomi di Sulawesi. Karena rencana ini
akan mengebiri kebijakan dan tata niaga perdagangan komoditas yang ada
di kawasan ini," tandasnya.
Jika merger dipaksakan, menurut
Fadel, maka kemungkinan terburuk akan menghadang pembangunan ekonomi regional
Sulawesi. Salah satu kemungkinan buruk adalah makin tidak diperhatikannya
pengembangan infrastruktur pelabuhan di Sulawesi. Selama ini saja
katanya, pemerintah daerah masih terus berupaya meminta dana pengembangan
pelabuhan, tetapi hal itu tidak pernah direalisasikan dengan alasan Pelindo
IV terus merugi.
Menurut Gubernur Gorontalo
itu, tertundanya usulan dan rencana pengembangan pelabuhan 'transport'
di Sulawesi, seperti Makassar, Bitung, Kendari, dan Gorontalo, kerena penilaian
pelabuhan di bawah koordinasi Pelindo IV terus merugi. Dari sisi
korporasi tambah Fadel, perusahaan yang rugi terus menerus, jika diilakukan
merger pasti anggaran pengembangannya akan sedikit, bahkan cenderung tidak
ada. "Karena itu, jika merger terlaksana, maka pelabuhan di KTI akan makin
merana," ujarnya. (rp25-nit/zs)
Kabupaten Boalemo Terapkan
Wajib Berbusana
Muslim Bagi Aparat Pemda
Selasa, 18 Februari 2003, 09:34
WIB
Boalemo-Gorontalo--RRI-Online--Bupati
Boalemo Iwan Bokings, tampaknya ingin memberi nuansa tersendiri bagi kehidupan
aparatur di daerahnya, dengan menetapkan suatu kebijakan berupa kewajiban
memakai jilbab dan songkok bagi aparatur Pemerintah Kabupaten Boalemo,
Provinsi Gorontalo. Anjuran itu ditetapkan Bupati Iwan Bokings, setelah
dilakukan uji coba pada apel awal kerja tahun 2003. Bupati Boalemo Iwan
Bokings menjelaskan bahwa kewajiban memakai jilbab bagi wanita dan songkok
untuk laki-laki itu dilakukan karena hal itu telah menjadi salah satu unsur
penilaian untuk faktor disiplin.
Menanggapi berbagai tanggapan
yang muncul berkaitan dengan kewajiban itu, Bupati Iwan Bokings melihatnya
sebagai suatu dinamika yang wajar terjadi di kalangan aparatur untuk langkah
awal ini. Sebab menurutnya yang diinginkan adalah perubahan sikap untuk
menegakkan akidah Islam. Apalagi mayoritas penduduk di daerahnya 99 % beragama
Islam. Bagaimana kebijakan itu diterapkan kepada apartur non-Muslim, menurut
Bupati Iwan Bokings kewajiban itu tidak diharuskan, tetapi jika turut serta
disilakan saja sepanjang hal itu tidak memberatkan.
Sementara itu, tanggapan
dari sebagian masyarakat bahwa kewajiban memakai jilbab dan songkok itu
sebagai sebuah kebijakan yang terkesan memaksa dan sangat bertentangan
dengan nuansa era reformasi sekarang ini (Azhari Bahariawan).
Lima Anggota KPU Provinsi
Gorontalo Ditetapkan
Gorontalo—GP (22 Mei 2003)--
Setelah melalui proses seleksi hingga seleksi langsung oleh KPU Pusa, lima
anggota Komisi Pemilihan Umum ( KPU ) Provinsi Gorontalo akhirnya ditetapkan.
Nama-nama mereka yang telah terjaring secara berurutan, Ahmad Abdullah,
S.Ag, Prof.Dr.Hi. Jassin Tuloli.M.Pd., Hi. Abdul Aziz Isa, S.H, Maspa Mantulangi,
S.Ag, serta Hamim Pou, S.Kom.
Ketetapan KPU Pusat tentang
anggota KPU Provinsi Gorontalo tersebut tertuang dalam Berita Acara KPU
No.38/15-BA/V/2003 tertanggal 19 Mei 2003 yang telah diterima oleh Sekretariat
KPU Provinsi Gorontalo.
Dalam Berita Acara itu juga
tercantum nama seluruh anggota KPU Pusat, yakni Nazarudin Syamsudin, Ramlan
Surbakti, Rusadi Kantaprawira, Mulyani W. Kusuma, Hamid Awaluddin, Valina
Singka Subakti, Anas Urbaningrum, serta Chusnul Mariyah. Penetapan anggota
KPU Gorontalo tersebut bersama anggota KPU Provinsi se–Indonesia yang lain
merupakan hasil Rapat Pleno KPU Pusat tanggal 19 Mei 2003.
Kepala Perwakilan Sekretariat
KPU Provinsi Gorontalo, Abu Bakar Mopangga mengatakan bahwa kelima anggota
KPU tersebut Kamis ( 23/5/2003 ) besok akan menghadiri acara pelantikan
di Jakarta. Acara yang dipusatkan di hotel Indonesia hingga 26 Mei 2003,
kemudian akan dilanjutkan dengan Rapat Kerja (Raker) KPU dan dihadiri seluruh
anggota KPU Provinsi bersama Kepala Perwakilan Sekretariat KPU Provinsi.
Seluruh biaya keperluan untuk kegiatan tersebut sepenuhnya ditanggung KPU.
Dana PPK untuk Meningkatkan
Perekonomian
Kamis, 08 Mei 2003
Gorontalo-ROL-- Gubernur
Gorontalo, Fadel Muhammad, mengingatkan kepada para Camat yang mendapat
dana Program Pengembangan Kecamatan (PPK) agar dana tersebut dipergunakan
untuk meningkatkan pembangunan serta perekonomian masyarakat kecil.
Di Gorontalo, Kamis, Gubernur
Fadel Muhammad mengatakan, sepuluh kecamatan provinsi tersebut mendapat
bantuan dana PPK, masing-masing sebesar Rp 1 miliar, harus dikelola secara
profesional. Pengawasan terhadap pemanfaatan dana tersebut akan diperketat
agar jangan sampai terjadi penyimpangan atau praktik kolusi, kol
usi, dan
nepotisme (KKN). Dana PPK tersebut tidak langsung diserahkan kepada para
Camat, melainkan akan dibentuk suatu wadah di kecamatan, kemudian dana
bantuan itu akan dikirim Pemerintah Pusat ke rekening wadah dimaksud.
"Jangan ada anggapan bahwa
dana PPK langsung diserahkan kepada para Camat, "kata Gubernur Fadel, seraya
menambahkan bahwa ia akan membentuk satu tim monitor terhadap penggunaan
dana bantuan tersebut. Pemerintah Gorontalo bersama masyarakatnya harus
bangga serta menghindari segala penyimpangan yang merugikan, karena selama
ini perhatian Pemerintah Pusat kepada Gorontalo sangat besar, sehingga
kita perlu untuk menjaga kepercayaan itu, kata Fadel. ant/abi
Pemerintah Pusat Kucurkan
Dana Rp 34 M untuk Gorontalo
Selasa, 06 Mei 2003
Gorontalo-ROL-- Provinsi
Gorontalo kembali mendapat kucuran dana Rp 34 miliar dari Pemerintah Pusat
yang akan dialokasikan kepada berbagai program pembangunan di provinsi
tersebut, terutama untuk peningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Gubernur Gorontalo, Fadel
Muhammad, Selasa di Gorontalo, mengatakan, Pemerintah Pusat mempunyai perhatian
sangat besar terhadap provinsi ini karena itu setiap sen dana tersebut
harus digunakan sebaik mungkin demi kepentingan masyarakat. Dana
Pemerintah Pusat itu akan disalurkan secara merata kepada seluruh kecamatan
di Provinsi Gorontalo untuk peningkatan kesejahteraan perekonomian masyarakat.
"Setiap kecamatan di Provinsi
Gorontalo akan mendapat kucuran dana sebesar Rp1 miliar, "kata Gubernur
Fadel, sambil menambahkan, bantuan tersebut akan dimodifikasikan dengan
pembentukan posko agropolitan.
Dana sebesar Rp1 miliar untuk
setiap kecamatan akan dimanfaatkan untuk pengembangan usaha ekonomi produktif
berkaitan program agropolitan dengan sistem bergulir sebesar Rp 500 juta
dan lainnya akan digunakan untuk proyek fisik pembangunan.
Khusus untuk dana bergulir
akan dikelola oleh salah satu wadah, yakni Baitul Mal Watamwir (BMT) berkedudukan
di setiap ibu kota kecamatan, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan asalkan
dikembalikan sesuai dengan perjanjian. ant/abi
Debut TVRI Stasion Gorontalo,
Diperkuat 10 Personel
Jumat, 02 Mei 2003
Gorontalo—GPO--Alhamdulillah,
media informasi di Provinsi Gorontalo bertambah satu lagi. Jadi, penyampaian
informasi dan perkembangan daerah makin cepat diketahui dan disaksikan
masyarakat.
Kehadiran TVRI Gorontalo
telah menambah jumlah media elektronik yang menyajikan dan melayani kebutuhan
masyarakat yang haus akan informasi. Sebelumnya TVRI di Gorontalo hanya
sekadar stasiun transmisi, tetapi sekarang telah ditingkatkan menjadi stasiun
TVRI yang memproduksi dan menyajikan berita daerah Gorontalo. Menurut karyawan
TVRI Gorontalo, Abdulah Badoh dan Jimy Gioh, peningkatan status ini merupakan
impian masyarakat Gorontalo selama ini setelah provinsi mandiri.
Dalam pemberitaan, TVRI Gorontalo
akan menayangkan perkembangan mulai dari kota hingga pelosok daerah di
Provinsi Gorontalo. Yang jelas, TVRI yang menjadi media informasi akan
tampil lebih optimal, dan siap menjadi sosial kontrol terhadap pemerintah
dan masyarakat.
Selain itu, TVRI juga menjadi
media penyampaian kepentingan masyarakat umum. Dijelaskan kedua karyawan
pindahan dari TVRI Manado ini, bahwa TVRI akan menyajikan paket acara lokal
mulai pukul 16.00--21.30 Wita. Sisa waktu lainnya, digunakan untuk merelai
siaran TVRI Jakarta.
Untuk siaran paket lokal
acaranya dimulai pukul 16.00--17.00, Info Manasuka, yang meliputi pemberitaan
seputar Gorontalo. Pukul 18.00 Wita Azan Magrib untuk Wilayah Gorontalo
dan Sekitarnya. Pukul 18.30--19.00 Wita Pelangi Gorontalo, yang mengulas
berita-berita terkini dari dataran Bonepantai hingga Popayato dan Atinggola
hingga Tulinggula. Pukul 21.00-21.30 Wita ulangan paket gabungan Info Manasuka
dan Pelangi Gorontalo, yang menyajikan seluruh acara liputan, termasuk
budaya, adat, dan agama.
“Kami mulai hadir dan mengudara
di Gorontalo sejak mulai Kamis, 01 Mei 2003,” kata keduanya. TVRI Gorontalo
menggunakan saluran (chanel) yang sama, dan diperkuat oleh 10 personal.
(GP-44)
Gubernur Yakin Gorontalo
Mampu
Lampaui Ekspor Jagung Nasional
Kamis, 01 Mei 2003
Gorontalo-Gorontalo Post--Patut
diacungi jempol. Program Agropolitan yang kini mmmasih pilot proyek nasional,
tidak lama lagi bakal menjadi program nasional. “ Saya yakin dengan kemampuan
Fadel mengelolo program Agropolitan bisa menjadi program nasional,” kata
Menteri Pertanian Bungaran Saragih di sela – sela acara pembukaan Rapat
Sinkronisasi Nasional Pelaksanaan program dan Proyek Pembangunan Pertanian
Tahun 2003 di Hotel Seraton Mustika, Yogyakarta kemarin.
Di depan Bungaran Saragih
berjanji kepada Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad akan berkunjung ke Gorontalo
sekitar pertengahan Mei 2003 mendatang. Dia mengaku kagum melihat kemajuan
yang dicapai provinsi termuda ini, khususnya mengenai ekspor jagung bulan
April 2003 yang angkanya mencapai 23 ton.“ Saya ingin melihat dari
dekat ekspor jagung Gorontalo. Saya tidak tanggung–tanggung untuk membantu
sepenuhnya agropolitan jangung Gorontalo,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Gorontalo,
Fadel Muhammad, yang mendapat kehormatan karena daerahnya bakal menjadi
pusat komoditas jagung nasional terus memacu diri mengembangkan tiga program
unggulnya. Bahkan di depan forum, Fadel membawakan makalah bertajuk Koordinasi
Pertanian di Provinsi Gorontalo yang mengupas habis persoalan pertanian
jagung di Bumi Hulondalo.
Fadel yang selalu mendapat
aplus peserta tampil beda dengan gubernur lainnya. Dia bertekad ekspor
jagung Gorontalo bisa melampaui ekspor jagung Indonesia yang tahun 2000
sebanyak 28 ribu ton dan tahun 2001 sebanyak 76 ribu ton. “ Saya yakin
Gorontalo bisa mencapai target itu,” lanjut Fadel.
Mendesak, Peningkatan Status
Sub-Dolog Menjadi Dolog
Gorontalo
Kamis, 01 Mei 2003,
Gorontalo-Gorontalo Post--
Pengalaman adalah guru terbaik. Belajar dari pengalaman kelangkaan
gula akhir – akhir ini, Pemerintah Provinsi Gorontalo mendapat inspirasi
untuk segera mempercepat pembentukan Dolog Gorontalo agar kebijakan distribusi
sembako strategis tidak lagi melalui Manado, melainkan langsung dilakukan
Dolog Gorontalo.
Wakil Gubernur, Ir. Gusnar
Ismail, M.M., menjelaskan bahwa kelangkaan gula pasir belakangan ini memberikan
hikmah yang positif buat Gorontalo. Hal itu menyadarkan kita untuk
segera mengambil alih kebijakan distribusi sembako strategis yang dibutuhkan
masyarakat. “ Sub-Dolog Gorontalo tidak bisa berbuat apa–apa untuk mengatasi
kelangkaan gula pasir. Karena kebijakan distribusi gula pasir itu menjadi
kewenangan Dolog, bukan Sub-Dolog. Sub-Dolog Gorontalo hanya menjalankan
kebijakan yang telah digariskan dari atas (Dolog),” papar Gusnar.
Gusnar tampak tidak bisa
menerima perlakuan terhadap Gorontalo yang layaknya sebagai daerah tingkat
dua. “ Sub-Dolog itukan ada di wilayah tingkat dua. Kalau Sub-Dolog Gorontalo
tidak segera dinaikan statusnya menjadi Dolog, maka sama saja Provinsi
Gorontalo masih diperlakukan sebagaimana daerah tingkat dua lainnya,” urainya
lebih lanjut.
Belajar dari pengalaman pahit
itulah, Gusnar menandaskan bahwa kelangkaan akan menjadi langganan Gorontalo
bila upaya peningkatan status Sub-Dolog menjadi Dolog Gorontalo tidak segera
ditangani secara serius.
Bisakah hal ini upayakan?,
Wagub Gusnar Ismail menjelaskan bahwa hal itu tidak terlalu sulit.
Gusnar yang mantan wakil Ketua AMPI Sulut ini mengatakan bahwa Kepala Bulog
sekarang, Wijanarko Puspoyo, adalah mantan Ketua AMPI Pusat. “Saya sudah
menelefon Kepala Bulog. Sayangnya, beliau sedang berada di luar negeri.
Tetapi saya yakin, ia akan mengabulkan permintaan Pemerintah Provinsi Gorontalo,”
ujarnya yakin sambil menambahkan bahwa kemarin siang ia menelefon ulang
kepada Bulog.
Keinginan untuk segera diadakannya
Dolog Gorontalo sebenarnya bukan semata keinginan Pemerintah Provinsi.
Kepala Sub-Dolog Gorontalo, Ibrahim Muhammad, yang ditemui GPO pada Selasa
menyatakan keinginan yang sama. Tetapi ia mengaku tidak bisa mewujudkan
hal itu. Karena itu, Pemerintah Privinsi yang harus proaktif, dan dari
upaya Pemprov itulah, saya akan mengomunikasikannya dengan Dolog Wilayah
dan Pusat (Bulog),” ungkap Ibrahim.
Fadel Memelopori Reformasi
Sistem Keuangan Daerah
Rabu, 30 April 2003
JAKARTA –GPO-- Terobosan
baru ditempuh Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad mengenai sistem keuangan
daerah. Dia memelopori reformasi administrasi keuangan daerah yang bakal
diterapkan oleh pemerintah daerah seluruh Indonesia.
‘’Kami sudah mempraktikkan
sistem akuntansi keuangan daerah di Pemprov Gorontalo. Kini kami telah
mempunyai neraca kauangan daerah,’’ ungkap Fadel Muhammad pada acara penandatanganan
nota kesepahaman (memorandum of understanding,MOU) antara Pemprov
Gorontalo dengan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan di BPPK di Jalan
Purnawarman Jakarta Selatan kemarin.
Ikut menyaksikan penandatangan
MOU antara Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad dengan Ketua BPPK Drs. Noor
Fuad M.Sc. itu adalah Ketua Deprov Gorontalo, Amir Piola Isa; Karo Keuangan
Pemprov, Andha Fauzie; Karo Humas, Adrian Lahay; dan sejumlah pejabat di
lingkungan Depkeu dan BPPK.
Selanjutnya, Fadel mengatakan
bahwa terobosan yang ditempuhnya merupakan langkah peningkatan kemampuan
dalam pengelolaan keuangan daerah sehingga sasaran penerapan entrepreneur
government di Gorontalo bisa benar-benar tercapai. ‘’Kami ingin pengelolaan
keuangan daerah berjalan tertib, dinamis, dan akuntabel,’’ bebernya yang
disambut aplaus.
Mengapa perlu dilakukan reformasi
keuangan? Menurut Fadel, berdasarkan fakta di Pemprov Gorontalo sebelumnya
prosedur keuangan yang ada cukup panjang. Birokrasi berbelit-belit, dan
yang paling penting kekayaan dan aset Pemda tidak diketahui secara jelas.
‘’Itu yang membuat kami harus membuat neraca keuangan daerah layaknya perusahaan
swasta. Hal itu sudah kami terapkan pada tahun 2003 ini dan kami berhasil
menyusun anggaran berbasis kinerja,’’ paparnya. Karenanya, kata Fadel,
jangan heran bila nanti Provinsi Gorontalo, khususnya mengenai keuangan
daerah akan menjadi tempat studi banding pemda-pemda lainnya.
Meski sudah menerapkan sistem
tersebut, Fadel mengaku mengeluh karena terbentur oleh SDM yang kurang
mendukung. Untuk itu, kami perlu meningkatkan SDM menuju perbaikan sistem
dan prosedur. ‘’Kami ingin mengajak BPPK STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi
Negara) Depkeu untuk menyelenggarakan D-3 Spesialisasi Akuntansi Keuangan
Daerah,’’ ungkapnya.
Selanjutnya Fadel mengatakan,
untuk tahap pertama yang ikut program tersebut sebanyak 60 orang semuanya
dari pegawai di lingkungan Pemprov Gorontalo yang diberikan beasiswa. ‘’Nanti
kalau berhasil akan dibuka sekolah spesialias akuntansi keuangan daerah,’’
ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris
BPPK FX Yuwono yang mewakili Ketua BPPK Noor Fuad yang beralangan hadir,
mengatakan bahwa gubernur pertama yang mengunjungi Kantor BPPK selama berdiri
adalah Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad. ‘’Saya merasa mendapat kehormatan,’’
ujarnya. Program reformasi sistem keuangan daerah yang diterapkan di daerah
sebagai langkah untuk mewujudkan otonomi daerah yang diharapkan,
khususnya bidang keuangan daerah. (GP-30)
Fadel Muhammad:
Ekspor Jagung Gorontalo
Meningkat Pesat
Gorontalo—Suara
Karya Online (Rabu, 30 April 2003)--Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad,
pekan lalu di Pelabuhan Gorontalo melepas pemberangkatan KM Sejati II yang
mengangkut 6000 ton jagung menuju ke Belawan, Medan, dan selanjutnya diekspor
ke Malaysia. Ekspor jagung dari daerah itu mengalami kemajuan yang pesat,
sehingga memungkinkan pada waktu mendatang hasilnya akan lebih baik lagi,
kata Gubernur Fadel ketika melepas ekspor jagung tersebut. Gubernur
Fadel mengatakan, sampai saat ini ekspor jagung dari daerah itu telah mencapai
lebih dari 20.000 ton, yang semuanya hasil dari program agropolitan dan
dikapalkan langsung di Pelabuhan Gorontalo.
Sebelumnya muatan jagung
melalui angkutan laut masih menggunakan karung dan petikemas, tetapi sekaranag
ini dengan sistem curah jumlah muatan akan lebih banyak dan tingkat keamanannya
akan lebih baik, terutama dalam menjamin kualitas jagung sampai ke tempat
tujuan.
Ekspor jagung dari Gorontalo
mempunyai prospek yang baik pada masa depan, karena selain produksi jagung
makin membaik, juga karena angkutan makin lancar. Ini adalah keberhasilan
seluruh rakyat Gorontalo bersama pemerintah daerah, ujar Fadel Muhammad
saat melakukan pengguntingan pita melepas keberangkatan kapal yang mengangkut
jagung tersebut. Acara tersebut dihadiri Ketua DPRD Provinsi Gorontalo,
Amir PIola Isa; para pejabat teras instansi pemerintah terkait di
daerah itu, pengusaha, dan undangan lainnya.
Upaya Pemprov Gorontalo mengembangkan
ekspor jagung memang sudah menampakan hasil positif. Akan tetapi,
masih ada banyak hal yang harus diperhatikan agar potensi masyarakat itu
terus berkembang baik. Laporan Antara menyebutkan bahwa sejumlah
petani jagung di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, mengeluhkan harga
komoditas tersebut sejak beberapa pekan terakhir ini makin tidak menentu
dan cenderung merugikan petani.
Menurut para petani di kabupaten
tersebut, permasalahan tersebut sebagai akibat permainan para pedagang
pengumpul, sehingga harga di tingkat petani tidak lagi sesuai dengan ketetapan
Gubernur Gorontalo, yakni Rp 700 sampai Rp 800 per kg. Mewakili para petani,
Saleh Hilimi menjelaskan bahwa harga jagung saat ini tinggal sekitar Rp
675 per kilogram (kg) sehingga sangat hal itu akan "memukul" kehidupan
para petani yang hanya hidup dari hasil komoditas tersebut.
"Bagaimana kami bisa hidup
layak dari hasil jagung bila harga selalu dipermainkan para kaki tangan
pedagang pengumpul itu," ujar Saleh Hilimi. Permainan harga jagung di tingkat
petani bisa disebabkan berbagai faktor, antara lain, kurangnya pengawasan
di lapangan oleh pemerintah setempat untuk mengamankan kebijakan harga
Gubernur Gorontalo. Para petugas berkaitan dengan kebijakan harga tersebut
jarang turun ke lapangan dan hanya berpatokan kepada laporan para pedagang
pengumpul jagung sehingga mereka tidak mengetahui langsung perihal permainan
harga. Saleh Hilimi berharap agar Gubernur Gorontalo, Fadel Huhammad,
selaku pembuat kebijakan soal harga jagung agar bertindak tegas terhadap
siapa saja yang kedapatan atau terbukti memainkan harga jagung.
Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD) yang mendapat kepercayaan sebagai penampung jagung hasil panen para
petani, supaya ikut secara aktif mengamankan harga jagung yang sesuai dengan
kebijakan Gubernur, kata Hilimi. (Ant/D-2)
BMI Makassar Berencana
Buka Layanan Baru di Provinsi
Gorontalo
Kamis, 24 April 2003
MAKASSAR –ROL-- Bank Muamalat
Indonesia (BMI) Cabang Makassar dalam tahun 2003 berencana akan melakukan
ekspansi gerai baru ke sejumlah lokasi. Total ada sembilan gerai, delapan
di antaranya di wilayah Sulawesi Selatan dan satu lagi di Provinsi Gorontalo.
Ekspansi ini seiring dengan
berkembangnya status BMI Makassar yang dulu hanya cabang, tetapi sejak
1 Maret 2003 sudah beralih menjadi Kantor Regional Wilayah Sulawesi dan
Irian.
''Dengan langkah pengembangan
tersebut diharapkan akhir 2003 nanti sudah ada 14 Kantor Bank Muamalat
di Regional Sulawesi,'' ujar Ishak Herdiman, manager regional wilayah Sulawesi
di Makasar, kemarin.
Sejak beroperasi September
1997, dari tahun ke tahun BMI Makassar mengalami perkembangan yang cukup
menggembirakan. Saat ini, menurut Ishak, aset BMI Makassar sudah mencapai
Rp 82 miliar. Total aset saat ini naik 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dana pihak ketiga naik 51 persen, pembiayaan naik 43 persen, dan keuntungan
pun mengalami kenaikan 51 persen. ''Berdasarkan tingkat kesehatan bank,
Cabang Makassar ini termasuk kategori sehat,'' ujar Ishak.
Selain akan melakukan ekpansi
kantor, baik berupa kantor cabang, cabang pembantu, maupun kantor kas,
kemarin pihak BMI merelokasi kantor utama BMI yang berlokasi di kawasan
pusat perbelanjaan Makassar Mall ke Jalan Dr Sam Ratulangi. Menurut Ishak,
relokasi kantor baru itu tidak lain sebagai upaya meningkatkan pelayanan
kepada nasabah.
''Kami sering menerima keluhan
nasabah yang mengatakan kawasan ini (kantor lama) selalu macet akibat semrawutnya
angkutan kota,'' ujar Ishak. Kantor baru BMI Makassar saat ini terbilang
berada di kawasan yang cukup strategis. Lokasinya terletak di tengah kota
yang jalannya dilewati sejumlah rute angkutan kota. ''Semoga dengan beroperasinya
kantor baru ini, kami makin bisa memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah,''
ujarnya.
Menurut Ishak, kepercayaan
nasabah dan stakeholder kepada BMI bisa terus terjaga. Apalagi karena kemitraan
yang dijalin tidak semata-mata untuk mencari keuntungan duniawi saja. BMI
sangat selektif dalam memilih mitra. Tidak mungkin BMI menjalin kemitraan
dengan pengusaha yang berkaitan dengan miras, pengusaha properti yang menyediakan
peralatan untuk klab malam, atau memberikan bantuan pembiayaan kepada peternak
babi.
Secara umum, BMI tahun ini
akan membuka sedikitnya 120 titik layanan baru. Titik layanan ini, papar
Dirut BMI A Riawan Amin, mencakup kantor cabang, kantor cabang pembantu,
kantor kas, maupun berbentuk gerai. ina
Formulir P4B untuk Gorontalo
Cukup
Rabu, 16 April 2003
JAKARTA -- Rupanya ada kesalahan
perhitungan jumlah penduduk dalam penyelenggaraan pendaftaran penduduk
dan pendaftaran pemilih berkelanjutan (P4B) yang berlangsung sejak
1 April 2003. Akibatnya, banyak daerah yang mengalami kekurangan logistik
untuk keperluan P4B dan KPU harus mengeluarkan dana Rp 950 juta.
Wakil Ketua Komisi Pemilihan
Umum (KPU), Prof Dr Ramlan Surbakti, mengakui hal itu. "Persiapan KPU ternyata
sangat konservatif, karena hanya berdasar kepada jumlah penduduk tahun
2002. Akibatnya, kita hanya mencetak formulir berdasarkan jumlah penduduk
2002 ditambah cadangan 2,5 persen. Ternyata formulir tersebut kurang,"
kata Ramlan seusai rapat pleno KPU, Selasa (15/4/03) kemarin.
Sesuai dengan laporan kekurangan
penerimaan oleh BPS, formulir KPU-SD adalah 1.777.340 plus cadangan 107.040,
total yang akan dicetak berjumlah 1.884.380. Kekurangan formulir KPU-KL
1.156.910 tambah cadangan 74.590, total yang akan dicetak 1.231.500, stiker
2.247.120, serta cadangan 130.160, totalnya 2.377.280.
Untuk memenuhi kebutuhan
itu, KPU harus mengeluarkan dana Rp 950 juta. Dana ini akan dipakai untuk
mencetak formulir SPU-SD, formulir KPU-KL, dan stiker, plus pendistribusiannya
di 24 provinsi di Indonesia yang kekurangan. Enam provinsi lainnya sudah
tercukupi yaitu Bengkulu, Yogyakarta, Bali, NTB, Gorontalo, dan
Maluku.
Formulir KPU-SD ini adalah
formulir manual atau biasa juga disebut formulir nonscanner. Data
kependudukan dari formulir KPU-SD tidak langsung diproses di komputer database,
melainkan disimpan di rumah kepala desa dan camat. Formulir KPU-SD ini,
antara lain, digunakan untuk mendata penduduk liar.
Sedangkan formulir KPU-KL
adalah formulir standar P4B. Formulir KPU-KL ini biasa juga disebut formulir
scanner,
karena semua data dari formulir ini akan diolah ke dalam sistem komputer
untuk menjadi data base penduduk Indonesia. Ditanyakan dari mana KPU akan
mengambil dana sebesar Rp 950 juta itu, Ramlan mengatakan bahwa dana itu
sepenuhnya berasal dari anggaran KPU. "Kita tidak akan minta dana dari
pemerintah lagi," katanya. Dari pos mana anggaran tersebut akan diambil,
Ramlan belum bisa memastikan.
Adapun proses pencetakan
formulir dan stiker itu, kata Ramlan, akan diserahkan kepada perusahaan
lewat proses penunjukan. "Kita tidak akan melakukan tender karena makan
waktu," katanya. run
Bosowa Investasikan Dana
Rp 25 Miliar di Gorontalo
Senin, 14 April 2003
GORONTALO—GP Online--Kunjungan
Pengurus Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) ke Gorontalo dalam
rangka Musda Kadinda (Kamar Dagang dan Industri Daerah) Provinsi Gorontalo
berbuah manis. Salah seorang pengusaha yang ikut dalam rombongan Ketua
Umum Aburizal Bakri, yaitu H.M. Aksa Mahmud mengatakan bahwa dalam waktu
dekat ini bakal berinvestasi di Gorontalo yakni dalam bentuk pengadaan
pengepakan semen.
Ketua Kadin Sulsel yang juga
pimpinan PT Bosowa yang bergerak dalam bidang produksi semen ini
menjelaskan bahwa rencana berinvestasi di Gorontalo ini sudah lama dipikirkan.
Pihaknya juga sudah beberapa kali menyurvei lokasi, yaitu di sekitar Pelabuhan
Gorontalo. Yang sedang ditunggu saat ini adalah bantuan dari Pemerintah
Provinsi Gorontalo dalam hal lokasi. Aksa Mahmud menjelaskan bahwa invetasi
pengepakan semen tersebut bernilai Rp 25 miliar. Katanya, ini adalah pabrik
pengepakan yang sedang atau medium. Mengapa tidak langsung yang
besar saja? Ia menjawab bahwa kebutuhan semen di Gorontalo dalam sebulan
hanya delapan ribu ton. “Karena itu, pabrik pengepakan ini direncanakan
berkapasitas sepuluh ribu ton,” ujarnya, kemarin. Lebih lanjut, ia menjelaskan
bahwa semen dari luar daerah akan didatangkan ke Gorontalo dalam bentuk
curah. Nanti setelah tiba di Gorontalo baru dilakukan pengepakan.
Sementara itu, para pengusaha
lain juga sedang melihat-lihat potensi apa yang bisa diusahakan di Gorontalo.
(GP-46)
Sejumlah Satwa Langka di
Gorontalo dan
Sulut Terancam Punah
Rabu, 02 April 2003, 08:41 WIB
Manado--RRI-Online--Sejumlah
satwa langkah seperti kura-kura hijau, penyu pisik, anoa, kuskus, babirusa,
dan rusa di Provinsi Provinsi Gorontalo Sulawesi Utara (Sulut) terancam
punah akibat makin maraknya perdagangan satwa tersebut.Wildlife Trade Project
Assistant Wildlife Conservation Society (WSC) - Indonesia Program, Sulawesi,
Anna Pombo, Rabu kepada Antara di Manado, mengatakan bahwa satwa-satwa
itu akan punah bila tidak segera dilakukan usaha pencegahan oleh instansi
berwenang.
Anna Pombo ketika melakukan
pemonitoran di Provinsi Gorontalo belum lama ini mengatakan bahwa perdagangan
daging satwa liar itu berlangsung secara terbuka. Sedangkan di pihak lain,
instansi terkait, termasuk aparat keamanan, tidak melakukan suatu usaha
pencegahan. Bahkan pada tempat tertentu, yakni di sekitar poros utama
jalan Limboto, Kabupaten Gorontalo, ada tempat penampungan kura-kura hijau
dan penyu sisik hasil tangkapan masyarakat yang akan diekspor ke Hongkong,
Singapura, dan Cina.
Daging anoa, kuskus, rusa,
babirusa dijual kepada masyarakat dengan harga bervariasi. Daging babirusa
sekitar Rp15 ribu per kilogram, kata Anna Pombo. Babirusa pemasarannya
sampai ke Kabupaten Minahasa, Sulut, lanjut Ambo. Padahal dalam undang-undang
konservasi satwa-satwa tersebut termasuk hewan yang dilindungi hukum. Akan
tetapi, banyak masyarakat di kedua provinsi tersebut belum mengetahui atau
memahami mengenai undang-undang koservasi tersebut.
Beberapa petugas Polsek juga
tidak tahu bahwa satwa-satwa tersebut dilindungi oleh undang-undang sehingga
sudah terjadi pembataian dan perdagangan daging hewan itu tanpa dilakukan
upaya pencegahan. Begitu juga dengan kasus pembataian babirusa di Kabupaten
Bolaang Mongondow sudah berjalan satu tahun berkas perkaranya masih tertahan
di Kejaksaan Tinggi Sulut, entah kapan akan diajukan ke pengadilan, ujar
Anna Pombo, tampak prihatin. (ant-mrz)
Aburizal-Gobel Boyong
42 Pengusaha
ke Gorontalo
Jumat, 11 April 2003
GORONTALO – GP Online--Tidak
terduga kalau Gorontalo menjadi incaran pengusaha nasional. Buktinya, Ir.
Aburizal Bakrie memboyong sedikitnya 42 pengusaha nasional ke Gorontalo.
Rencana kedatangan Ketua
Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Pusat itu dipastikan besok, Sabtu, 12/4/2003,
untuk menghadiri acara Musda Kadinda Gorontalo. Rupanya mereka bukan sekadar
menghadiri acara Musda, melainkan ingin melihat peluang untuk menanamkan
modalnya di provinsi agropolitan ini. Bahkan, kedatangan rombongan pengusaha
papan atas itu bukan atas undangan Gubernur Gorontalo ataupun Pemprov Gorontalo,
melainkan keingingan mereka sendiri untuk melihat dari dekat potensi yang
ada di Gorontalo.
‘’Itu murni kehendak Pak
Aburizal dan rekan-rekan pengusaha nasional yang ingin ke Gorontalo,’’
ujar Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad kepada GP di Kantor Gubernur
sesaat sebelum menaiki mobil dinasnya kemarin. Selanjutnya Fadel
yang juga mantan Ketua KADIN Pusat itu menjelaskan, rencana kedatangan
rombongan Aburizal bersama pengusaha nasional itu semata-mata ingin melihat
secara dekat perkembangan Gorontalo di bawah kepemimpinan Fadel. ‘’Mereka
yang datang itu masih rekan-rekan saya sewaktu masih aktif menjadi pengusaha
di Jakarta,’’ kata Fadel yang masih mengenakan baju dinas putihnya.
Perlu diketahui bahwa tujuan
kedatangan pengusaha itu merupakan agenda utama mereka menghadiri sekaligus
menyaksikan jalannya Musda Kadinda Gorontalo. Ada beberapa pengusaha yang
tertarik untuk menanamkan modalnya.
Sementara itu, menurut data
dari Biro Ekonomi Pemprov Gorontalo mengenai rombongan pengusaha nasional
yang dipimpin Aburizal Bakri itu, di antaranya Agus Ginandjar Kartasasmita,
M.S Hidayat, Adi Putra Tahir, Bambang Sujagad, Anthon Rianto dan Rahmat
Gobel. Ikut pula HM Aksa Mahmud, Kusumo AM, Chris Canter, Ir Nadjib, Popo
Parulian, Gerda Sumampouw, Adnan Anwar Saleh, Toni Uloli, Rahman Usaman,
Arfan Sofan, Suprayitno, Tri Sulastri, Budoyo Basuki, Tince Sumartini,
Dito Ganinduto, Lalu Mara, Hasyim Hadado, Reza Kamarullah, Fuad H. Masyur,
Aday, dan Levi Pangeran.
Karo Humas Adrian Lahay menjelaskan
bahwa agenda kedatangan Ical –sapaan akrab Aburizal-- Sabtu malam usai
mengikuti Musda Kadinda, rombongan pengusaha akan mengadakan silaturahmi
dengan tokoh, pemuka, masyarakat, dan pengusaha se-Provinsi Gorontalo di
rumah dinas gubernur. Selanjutnya, Ahad pagi, Aburizal akan memberikan
orasi ilmiah di Aula Serba Guna IKIP Negeri Gorontalo bertajuk ‘Konstelasi
Ekonomi Nasional dan Dunia Terkini’, serta 'Bagaimana Peran Para
Pelaku Ekonomi terhadap Iklim Dunia Usaha yang Saat Ini di Indonesia sedang
Dilanda Krisis Berkepanjangan. (GP-46)
Pengembangan Pendidikan Perlu
Berbasis Komoditas
Jumat, 11 April 2003
Gorontalo, Kompas - Konsep
pendidikan yang dikembangkan Direktorat Menengah Kejuruan dengan pendidikan
berbasis produksi tidak cukup. Pendidikan akan berkembang jika dikaitkan
dengan perkembangan komoditas. Demikian Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad
di Gorontalo, Selasa (9/4/03).
Menurut Fadel, daerah sedang
membangun sumber daya manusia. Selain melalui pendidikan formal, juga melalui
pendidikan luar sekolah, termasuk pesantren.
Pendidikan berbasis komoditas,
menurut Fadel, akan dikembangkan melalui pendidikan menengah kejuruan.
Sebagai tahap pertama, akan dikembangkan SMK yang mengembangkan pertanian
jagung. "Jagung sebagai salah satu komoditas dapat mendukung proses pendidikan.
Selain tetap mendapatkan kurikulum sekolah kejuruan, siswa juga memperoleh
tambahan keterampilan hidup melalui budi daya jagung," ujarnya.
Direncanakan tahun ini kita
akan merekrut sarjana pertanian untuk mendukung program pendidikan berbasis
komoditas. Pertanian merupakan salah satu sektor komoditas yang bisa dikembangkan
di Provinsi Gorontalo. Selain itu, Gorontalo masih menyimpan komoditas
kelautan yang belum diolah secara optimal. "Lulusan sekolah menengah seharusnya
sudah memiliki suatu keahlian yang bisa dijadikan modal hidup di masyarakat,"
katanya.(MAM)
Warga NU Diserukan untuk
Salat Gaib
Kamis, 10 April 2003
GORONTALO --ROL-- Ketua
Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyerukan warga NU agar melakukan salat gaib
seusai Salat Jumat. Salat gaib tersebut ditujukan kepada para syuhada yang
gugur berperang di Irak. Warga Nahdliyin juga diserukan untuk memanjatkan
doa untuk keselamatan rakyat Irak yang tidak berdosa. Mereka telah menjadi
korban kebiadaban negara penjajah, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
Hasyim Muzadi juga mengimbau
warga NU di tanah air agar tetap membina hubungan baik dan ukhuwah Islamiah
dengan sesama umat, baik secara nasional maupun internasional untuk melawan
berbagai bentuk kezaliman dan penjajahan.
Dia menegaskan sejak lama
NU menentang berbagai bentuk kezaliman antarbangsa, termasuk invasi AS
ke Irak. Jauh sebelum terjadinya serangan AS ke Irak, PBNU melalui munas
alim ulama secara tegas menolak aksi dan menyeruhkan negara-negara lain
untuk menentang serangan tersebut.
"Tetapi, alhamdulilah, seruan
kita itu tidak didengarkan, karena AS menginginkan minyak Irak kemudian
mereka juga ingin Yahudi Israel aman dan mereka tidak ingin perdamaian,"
kata Hasyim seusai melantik Pengurus Wilayah NU Provinsi Gorontalo di Ponpes
Safiah Kecamatan Randangan Kabupaten Pohuwato --160 Km sebelah barat Gorontalo--
Selasa (8/4/03) petang.
Hasyim mengungkapkan sikap
keras kepala AS dan sekutunya, Inggris, itu didorong kekhawatiran akan
munculnya negara di Timur Tengah (Timteng) yang menjadi saingan Israel,
yaitu salah satunya Irak. Irak dinilai oleh AS memiliki banyak keunggulan
dibandingkan negara-negara lainnya di Timteng, karena negara pimpinan Saddam
Husein ini memiliki cadangan minyak bumi berlimpah, memiliki semangat nasionalisme
tinggi, mempunyai militer kuat, dan mempunyai cendekiawan yang hebat.
Negara lainnya, misalnya
Arab Saudi, hanya memiliki minyak, tetapi tidak memiliki militer dan tenaga
ahli; Mesir memiliki tenaga ahli yang hebat, tetapi tidak memiliki tentara
yang kuat; sedangkan Kuwait memiliki banyak cadangan minyak, tetapi tidak
memiliki semangat nasionalisme yang kuat.
"Kelemahan Irak adaah memiliki
presiden yang suka menggnggu sampai tetangga pun diserang. Karena itu,
AS menilai tindakan Irak itu berbahaya bagi keselamatan negara Israel sehingga
harus ditumpas, sambil mencari keuntungan untuk menguasai minyak Irak,"
tukas KH Hasyim Muzadi sambil menambahkan bahwa Irak merupakan saingan
berat Israel.
Dia mengemukakan bahwa perang
yang saat ini berkobar di Irak secara teori bukan perang antaragama, tetapi
pada prinsipnya invasi AS dan sekutunya adalah satu bentuk penjajahan sebagaimana
Belanda pernah bertindak serupa terhadap Indonesia puluhan tahun lampau.
Yang namanya penjajahan,
menurut KH Hasyim Muzadi, agama apa pun dan di mana pun sangat menentangnya.
Pemimpin tertinggi agama Katolik Paus Yohanes Paulus II juga termasuk
yang menentang serangan itu. Hal yang sama juga dilakukan kelompok agama
di Indonesia dan sebagian besar masyarakat dunia dari berbagai penganut
agama. ant
Gorontalo Peroleh Dana Pemilu
2004 Terkecil
Laporan : Angelina Maria
Donna
Jakarta, KCM, Selasa, 8 April
2003
Gorontalo memperoleh
alokasi biaya operasional Pemilu 2004 sebanyak Rp 1.329.810.000 atau paling
kecil dibandingkan dengan 29 Provinsi lainnya. Total dana untuk seluruh
biaya operasional seluruh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi dan Kabupaten/Kota
adalah 98.461.823.000 rupiah. Demikian, diungkapkan Sekretaris Umum KPU
Safder Yusaac kepada pers di kantor KPU, Jakarta (8/4/03).
Menurutnya, alokasi anggaran
bagi tiap-tiap daerah berbeda bergantung kepada jumlah kabupaten / kota
dan jumlah penduduk provinsi. "Alokasi dana setiap provinsi
tidak sama, bergantung kepada jumlah kabupten/kota di setiap provinsi,"
tuturnya.
Sedangkan beberapa
provinsi lainnya seperti Jawa Tengah mendapat dana Rp 7.116.515.000; Papua
memperoleh Rp6.614.851.000; dan Sulawesi Selatan sebanyak Rp 6.261.710.000.
Alokasi dana terkecil adalah untuk Provinsi Gorontalo sebesar Rp 1.329.810.000.
Yusaac mengatakan hari ini
KPU telah mengirimkan petunjuk pelaksanaan (juklak) tentang tata cara pengelolaan
anggaran Pemilu 2004 kepada seluruh provinsi. Diharapkan minggu depan dana
tersebut sudah bisa dicairkan.
Dijelaskannya dana
sebesar Rp 98 miliar tersebut sudah termasuk beberapa daerah pemekaran
seperti Gorontalo, Banten dan Bangka-Belitung. Jadi, seluruhnya terdapat
30 provinsi dan 438 kabupaten/kota.
Uang tersebut, imbuh Yusaac,
akan digunakan KPU daerah untuk membiayai ongkos operasional sehari-hari,
seperti belanja pegawai, perjalanan ke daerah-daerah tertentu, dan untuk
verifikasi partai politik.
Ia menambahkan anggaran untuk
untuk KPU kecamatan baru akan diajukan kepada Departemen Keuangan
(Depkeu) setelah KPU tingkat kecamatan terbentuk.
Pada bagian lain, dia mengatakan,
saat ini KPU telah mengajukan anggaran pembelian mobil dan motor bagi KPU
provinsi dan kabupaten/kota. Masing -masing daerah akan mendapatkan
satu mobil dan dua motor untuk operasional dengan total anggaran 93 miliar.
(dna)