Gorontalo Juara
MTQ Sulawesi
21 Februari 2004
GORONTALO– Suara Karya Online–Kontingen
tuan rumah Provinsi Gorontalo meraih juara umum pada Musabaqah Tilawati
Quran (MTQ) Regional I se-Sulawesi yang berlangsung pada 16-19 Februari
2004 di Gorontalo. Keberhasilan tuan rumah Gorontalo diperoleh setelah
meraih prestasi terbaik di beberapa cabang tilawah golongan anak-anak qari,
golongan dewasa qari, golongan qariat Al-Quran qariah, golongan 1 juz dan
talawah serta hafizah. Wagub Gusnar Ismail ketika menutup acara tersebut,
Kamis malam, mengatakan MTQ Regional itu bisa memantapkan kehidupan internal
di Pulau Sulawesi. (Ant/M-1)
MTQ Regional Pacu Kerukunan
18 Februari 2004
GORONTALO – Suara Karya
Online–Menteri Agama (Menag) Said Agil Al Munawar mengungkapkan, kegiatan
Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Regional bisa menambah tali silahturahim
serta memacu kerukunan hidup umat beragama antar-provinsi se-Indonesia.
Menag Said Agil Al Munawar mengatakan hal tersebut, Senin malam, ketika
membuka MTQ Regional se-Sulawesi di Gorontalo. Kegiatan keagamaan itu dijadwalkan
berlangsung pada 16-19 Februari 2004. Menurut Menag, MTQ regional baru
pertama kali dilaksanakan di Indonesia, dan pada tahun-tahun mendatang
diharapkan diikuti provinsi lainnya.
APBD Gorontalo Berbasis Kinerja
Kamis, 15 Januari 2004
Manado, Kompas - Gubernur
Gorontalo Fadel Muhammad menjelaskan, penyusunan anggaran belanja Provinsi
Gorontalo mulai tahun 2004 dilakukan berdasarkan paradigma baru, yaitu
anggaran atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) berbasis kinerja.
Selain itu, APBD tersebut terfokus hanya pada tiga sektor, pendidikan,
pertanian, dan perikanan.
Kepada Kompas di Manado,
Rabu (14/1/04), Fadel mengatakan, pemilihan tiga fokus itu dilakukan berdasarkan
kondisi objektif, yakni terbatasnya dana, baik dari pusat maupun dana pendapatan
asli daerah (PAD). "Karena terbatasnya dana, fokusnya diarahkan pada tiga
sektor, masing-masing pendidikan 22,03 persen, pertanian 9,45 persen, dan
perikanan 5,82 persen," papar Fadel. Selanjutnya, sisa dana dari total
APBD 2004 Provinsi Gorontalo yang berimbang pada angka sekitar Rp 252 miliar
itu, lanjut Fadel, diarahkan pada penyediaan sarana dan prasarana pendukung.
Sarana itu berupa jalan, jembatan, pengairan, pelabuhan, dan lain sebagainya,
termasuk penunjang sektor pendidikan, pertanian, dan perikanan sekitar
35,57 persen. Sisanya lagi untuk belanja pegawai, administrasi, dan lain-lain.
"Buat apa kita distribusikan
dana ke banyak sektor dalam jumlah kecil-kecil kemudian dampaknya tidak
bisa efektif serta hasil capaiannya minimal? Kan lebih baik memilih tiga
fokus prioritas yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat banyak,"
kata Fadel. Menurut Fadel dibandingkan dengan tahun 2003, anggaran pembangunan
ketiga sektor unggulan Provinsi Gorontalo itu mengalami peningkatan cukup
signifikan, yakni dari sekitar Rp 57 miliar tahun 2003 menjadi lebih Rp
76 miliar tahun 2004.
Hal lain yang menarik dari
Gorontalo, mulai tahun 2004 telah disetujui sistem penyusunan APBD yang
berbasis kinerja. Menurut Fadel Muhammad, proses penyusunannya dilakukan
bersama-sama eksekutif dan legislatif untuk menentukan arah kebijakan umum
guna menyusun strategi dan prioritas pembangunan. Sekaligus pada waktu
bersamaan disusun perkiraan dan prediksi prediksi capaian hingga akhir
tahun 2004.
Prioritasnya disusun berdasarkan
sumber-sumber ekonomi yang dimiliki oleh pemerintah daerah. "Inti proses
ini adalah mendapatkan performance agreement antara eksekutif dan legislatif
yang kemudian dituangkan dalam suatu ukuran yang disebut indikator kinerja,"
kata Fadel. Dalam sistem ini, tambahnya, pelaksanaan pekerjaan terhindar
dari sistem proyek. Semua staf bertanggung jawab dan oleh karena itu berhak
atas insentif. "Dari eselon tertinggi hingga eselon terendah dan atau pangkat
terendah berhak atas dana insentif. Bayangkan dana insentif terendah berkisar
Rp 750.000 untuk pangkat golongan I," ujar Fadel. (fr)
Kapolri Lantik Empat Kapolda
Baru
Jakarta, Senin, 12 Januari
2004 15:36
Kapolri Jenderal Polisi
Da`i Bachtiar di Jakarta, Senin melantik empat kapolda baru, masing-masing
Kapolda Banten Kombes Pol Abdurrahman, Kapolda Gorontalo Kombes Pol Suhara
Heriawan, Kapolda Bangka Belitung Kombes Pol Erwin Lumban Tobing dan Kapolda
Maluku Utara Kombes Pol M Niam Syafruddin.
Menurut Da`i, keempat Kapolda
itu akan memimpin wilayah kepolisian daerah (Polda) baru seiring pembentukkan
provinsi di daerah itu. "Pada prinsipnya upaya pemeliharaan keamanan dan
ketertiban di tingkat daerah bisa berdayakan kepolisian di daerah bersangkutan,"
katanya. Apalagi, lanjutnya, mitra kerja gubernur di provinsi haruslah
setingkat Polda.
Ia mengatakan, keempat Polda
itu masih disebut Polda persiapan, karena harus mempersiapkan terlebih
dahulu sarana dan prasarana serta sumber daya manusia setidaknya selama
satu tahun. [Tma, Ant]
Hari Ini Penerbangan Perdana
Wings
Air
Gorontalo (GP, 9 Januari
2004) – Dunia penerbangan di Gorontalo mulai masuk ke dunia persaingan
yang sehat. Setelah Boeing 737 dikabarkan akan mendarat di Gorontalo, kini
maskapai penerbangan Wings Air mendatangkan jenis pesawat terbaru
buatan tahun 1996. Menurut GSA Pelita Air Hamid Kuna kemarin pesawat
tersebut akan melayani rute penerbangan Gorontalo-Manado, Gorontalo-Palu,
dan Gorontalo-Luwuk. Harga tiket pun cukup terjangkau, yaitu untuk Gorontalo-Manado
Rp 171.000, Gorontalo-Palu Rp 446.000, dan Gorontalo-Luwuk Rp 501.000.
Wings Air ini menurut Hamid,
didatangkan setelah dia melihat antusias masyarakat Gorontalo terhadap
dunia usaha penerbangan. “Semua ini saya lakukan untuk masyarakat Goronalo
semata,” kata Hamid kemarin. Memang dengan mulai bertambahnya maskapai
penerbangan di Bandara Djalaluddin Gorontalo sangat berpengaruh terhadap
harga tiket. Bahkan dalam beberapa hari nanti, Hamid juga akan mendatangkan
pesawat Boeraq Boeing 737 yang akan melayani Jakarta-Makassar-Gorontalo.
Untuk soal tanggalnya Hamid kuna belum mau memberikan kepastian. “ Yang
jelas semua sudah siap, tinggal menunggu waktu yang tepat saja,”
ujar Hamid.
Polresta Naik Status, Mapolda
Resmi Januari 2005
Gorontalo (GP, 8 Januari
2004) – Ada perkembangan bari di jajaran Kepolisisan Daerah (Polda) Gorontalo.
Terhitung mulai 1 Januari2004 lalu, status Polresta Gorontalo dinaikan
dari tipe B-2 menjadi tipe B-1 dengan kebutuhan personel minimal 600 orang.
Demikian pula dengan status nama Polresta Gorontalo akan diganti menjadi
Polres Gorontalo, sedangkan Polres Gorontalo diubah menjadi Polres Limboto,
Polres Pohuwato dan Boalemo tetap.
Pejabat sementara Kapolda
Gorontalo, Kombes Pol Drs. Suhana Heryawan saat ditemui, mengatakan bahwa
semua kebijakan Mabes Polri itu atas ususlan pihaknya melalui Polda
Sulut, yang disetujui oleh Kapolri. “ Itu semua atas usulan kita,” ujar
Kapolda yang didampingi para Kapolres semalam.
Sementara itu, soal peresmian
Mapolda Gorontalo di Telaga yang semula dijadwalkan Januari ini, karena
sesuatu dan lain diundurkan hingga Januari 2005. Namun, untuk melaksanakan
operasional kerjanya, pihak Polda Gorontalo sudah menempati gedung itu
dan tidak lagi berkantor di Jalan Jamaludin Malik (Dinas Kesehatan Kota).
“Kita sudah mempunyai tanah untuk pembangunan Mapolres Bonebolango. Mapolda
resmi Januari 2005,” tandas mantan Karo Diklat Polda Sulut ini.
Nani Wartabone Peroleh Anugerah
Pahlawan Nasional
Sabtu, 08 November 2003
02:52 WIB
JAKARTA--MIOL: Presiden
Megawati Soekarnoputri Jumat di Istana Negara, Jakarta menganugerahkan
gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Haji Nani Wartabone, pejuang besar
asal Provinsi Gorontalo, yang diterima keluarganya.
Acara penganugerahan yang
diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Pahlawan itu dihadiri pula
suami Megawati, Taufiq Kiemas, Ketua DPR Akbar Tandjung, Wakil Ketua DPR
Sutardjo Surjoguritno, serta Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad. Wakil Presiden
Hamzah Haz tidak hadir.
Pada acara ini diserahkan
pula Bintang Budaya Parama Dharma kepada 10 tokoh yang sebagian besar adalah
seniman dan seniwati, yang seluruhnya sudah meninggal.Mereka Bing Slamet,
Miss Tjitjih, Ali Akbar Navis, Djadoeg Djajakusuma, KRT Djajadipura, Ki
Suratman (tokoh Taman Siswa), I Gusti Bagus Sugriwa, I Ketut Marya, Fifi
Young, dan Tan Tjeng Bok.
Nani Wartabone yang dilahirkan
30 April 1907 di Kabupaten Gorontalo pernah memimpin pemerintahan Gorontalo
pada 1942, namun kemudian ditawan Belanda. (Ant/O-1)
Gubernur Gorontalo Mengadu
kepada Dewan Pers
Kamis, 23 Oktober 2003
Jakarta, Kompas - Gubernur
Provinsi Gorontalo Fadel Muhammad menyampaikan pengaduan ke Dewan Pers
terkait dengan sejumlah pemberitaan yang dilakukan berkali-kali oleh Harian
Limboto Express milik Pemerintah Kabupaten Limboto, Gorontalo. Pengaduan
disampaikan karena sejumlah pemberitaan di harian itu, dinilai Fadel, sebagai
upaya pembunuhan karakter (character assassination) atas dirinya."Setelah
saya cermati, pemberitaan harian itu tidak proporsional dan melanggar kode
etik jurnalistik. Berita-beritanya cenderung membunuh karakter saya. Karena
itu, saya mengadu ke Dewan Pers minta diselesaikan," ujar Fadel Muhammad
di Dewan Pers, Jakarta, Rabu (22/10/02).
Sebelum mengadu ke Dewan
Pers, Fadel telah mengajukan surat peringatan (somasi) ke Limboto Express.
Karena dirasa tidak ada perubahan dalam gaya jurnalistiknya, Fadel mengadu
ke Dewan Pers. Fadel mengaku sebisa mungkin menghindarkan kasus ini ke
pengadilan. Dalam pengaduan itu, Fadel membawa sejumlah terbitan harian
itu sebagai bukti. Di antaranya berita utama berjudul Orang Gorontalo Bodoh,
Pernyataan Fadel Bikin Orang Gorontalo Marah, Fadel Bikin Malu Rakyat Gorontalo,
dan Gubernur Serobot Proyek Subsidi BBM Transmigrasi, yang dimuat sejak
akhir Agustus 2003.Dalam pengaduannya, Fadel yang datang sendiri diterima
Ketua Dewan Pers Ichlasul Amal didampingi sejumlah pengurus. "Kami akan
membuat penilaian dengan sanksi setelah memanggil pihak Limboto Express,"
ujar Ichlasul.
Sementara itu, anggota Dewan
Pers RH Siregar di Semarang menyatakan, melihat perkembangan pers saat
ini, Dewan Pers memang diminta bertindak lebih represif, terutama terhadap
media yang dinilai kebablasan maupun terhadap wartawan yang melanggar kode
etik wartawan Indonesia (KEWI). "Tetapi, tuntutan itu memang tak bisa dan
tidak mungkin dipenuhi Dewan Pers. Sebab, Dewan Pers tidak mempunyai kewenangan
untuk melakukan penegakan hukum serta KEWI," ujarnya dalam diskusi yang
digelar Badan Informasi, Komunikasi, dan Kehumasan Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah, Rabu.
Diakui Siregar, memang ada
kegamangan dalam masyarakat menghadapi kemerdekaan pers saat ini. Kegamangan
itu tidak hanya dialami masyarakat pers, tetapi juga masyarakat umum. Masyarakat
umum, misalnya, terkejut ketika melihat dan membaca judul berita dari sebuah
media yang terasa vulgar. Sebaliknya, masyarakat pers pun gamang. "Saat
ini sebenarnya situasi transisi. Situasi transisi tidak menentu, entah
sampai kapan," katanya.
Menurut Siregar, sejumlah
kalangan menilai pers telah mempraktikkan "jurnalisme anarki", "jurnalisme
teror", dan "jurnalisme adu domba". "Karena itu, banyak yang minta Dewan
Pers bersikap represif dan proaktif. Tetapi, sejak awal Dewan tidak berpretensi
menjadi tirani baru setelah Departemen Penerangan ditiadakan," katanya.
(TRA/INU)
Ribuan Umat Islam Laksanakan
Zikir Bersama
di Masjid Agung Baiturrahim
Ahad, 26 Oktober 2003 01:00
WIB
GORONTALO--MIOL: Ribuan
warga Muslim se Provinsi Gorontalo dari berbagai komponen Islam serta masyarakat,
Sabtu Pagi, melaksanakan zikir bersama bertempat di Masjid Agung, Baitulrahim
Gorontalo.
Pemantauan ANTARA, warga
muslim dari berbagai wilayah se Gorontalo sejak pagi mulai berdatangan
ke lokasi tempat pelaksanaan acara bertemakan "Hulontadlo Berzikir".
Berbagai organisasi Islam
se-Gorontalo seperti IMM, HMI, KAHMI, Pondok Pesantren, Madrasah serta
para pejabat dari tingkat II, anggota dewan, dan tokoh adat, agama ikut
bersama-sama melaksanakan acara yang untuk pertama dilaksanakan di daerah
itu.
Gubernur Gorontalo mengatakan,
bahwa acara zikir bersama tersebut telah mendatangkan empat orang Dai Kondang
dari Jakarta yakni Uztad KH Mohamad Abdul Syukur, KH Amang Safrudin, KH
Muhamad Yusup AS serta KH Muhamad Hudannul Shidiq.
"Para Uztad tersebut sering
melaksanakan acara keagamaan nasional di Masjid Istiglal Jakarta," kata
Gubernur Gorontalo, Fadel Muhamad. Hulontahlo berzikir merupakan acara
religius sebagai bentuk warga Gorontalo dalam menyambut bulan suci Ramadhan
1424 Hijriah yang diselenggarakan oleh Ikatan Persaudaraan Haji bekerjasama
dengan pemerintah Provinsi Gorontalo.
Selain itu, acara tersebut
merupakan upaya untuk mendekatkan diri bagi masyarakat Gorontalo kepada
sang pencipta serta lebih memperkokoh sarana silahturami dalam rangka memperkokoh
Ukhuwah Islamiah.
(Ant/Ol-01)
Berharap Gerbang Mina Bahari
Menjadi Gerbang Kesejahteraan
Rabu, 22 Oktober 2003
Gorontalo-Kompas-PERHELATAN
akbar benama Gerbang Mina Bahari (Gerakan Nasional Pembangunan Kelautan
dan Perikanan) baru saja dicanangkan Presiden Megawati Soekarnoputri di
atas KRI Tanjung Dalpele di Perairan Teluk Tomini, Provinsi Gorontalo,
Sabtu (11/10) lalu. Sisa-sisa keramaiannya masih terasa benar di Gorontalo.
Gemanya pun, mudah-mudahan tetap bergaung, seperti ketika acara ini digelar.
MENTERI Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri dan pejabat dari instansi
terkait, pengusaha di bidang perikanan serta perbankan hadir di acara ini.
Tiga gubernur yakni Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, Gubernur Sulawesi
Utara AJ Sondakh, dan Gubernur Sulawesi Tengah Aminuddin Ponulele turut
hadir. Tidak ketinggalan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Bernard
Kent Sondakh yang selain sebagai tuan rumah di KRI Tanjung Dalpele, juga
’punggawa’ pasukan penjaga perairan Indonesia.
Tanpa sepatah pun kata, Sabtu
sore itu, Presiden menekan tombol sebagai tanda dicanangkannya Gerbang
Nasional Mina Bahari. Gerakan yang diharapkan dapat menjawab persoalan
kelautan selama ini. Harapan untuk mengatasi krisis ekonomi, mensejahterakan
masyarakat khususnya nelayan, penyerapan tenaga kerja, peningkatan produksi
perikanan sekaligus peningkatan konsumsi ikan, serta hal-hal terkait lainnya.
Tidak salah agaknya bila
banyak yang berharap. Pasalnya sejak sekian lama, kendati menjadi salah
satu potensi terbesar di Indonesia, sektor kelautan memang masih belum
dapat memberi banyak, bahkan hingga Departemen Kelautan dan Perikanan terbentuk.
Nelayan miskin
Selama beberapa dekade pembangunan,
gambaran nelayan umumnya masih saja miskin, dengan rumah-rumah kumuh, hidup
jauh dari berkecukupan, dan fakta-fakta lain yang tepat menggambarkan kemiskinan.
Akan halnya usaha perikanan sendiri, atau usaha lain yang terkait dengan
kelautan, tidak banyak yang berjalan baik. Produksi ikan sangat rendah,
dibanding potensi lestari yang dimiliki. Bahkan boleh dikatakan, tidak
seperti bidang usaha lainnya seperti bisnis properti, waralaba, atau industri
barang jadi misalnya, tidak banyak pengusaha yang melirik, apalagi menanamkan
investasinya di sektor ini. Devisa dari laut, tentu saja tidak bisa diharap
menyumbang perbaikan krisis ekonomi. Tidak salah agaknya, bila pihak perbankan
pun enggan mengucurkan kreditnya di sektor kelautan. Singkat kata, sektor
ini menjadi terbelakang dan terkesan dikesampingkan.
Data dan fakta-fakta berikut
sebagaimana dikatidakan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri,
agaknya dapat mewakili kenyataan yang disebut di atas. Untuk produksi ikan
hingga tahun 1998, jumlahnya baru empat juta ton. Sementara devisa dari
perikanan pada tahun yang sama baru 1,6 juta dollar AS.
Sebelum departemen ini terbentuk,
tidak ada pendapatan negara bukan pajak dari sektor ini. Bahkan sumbangan
sub sektor perikanan dari produk primer terhadap Produk Domestik Bruto
(PDB) pada 1998, baru mencapai angka Rp 25 triliun.
Padahal, total nilai ekonomi
potensi sumber daya perikanan Indonesia diperkirakan 82,06 miliar dollar
AS. Ini belum termasuk potensi yang dapat dikembangkan dari sektor pariwisata
bahari maupun perhubungan laut.
Yang menyedihkan, selama
beberapa tahun, kerugian negara dari pencurian ikan lebih dari Rp 5 miliar
per tahun. Ini disebabkan oleh besarnya penangkapan ikan secara ilegal
oleh nelayan-nelayan yang menggunakan kapal berbendera asing di perairan
Indonesia.
Dengan segala keterbatasannya,
berbagai upaya TNI AL dapat menekan kerugian akibat pecurian ikan hingga
tinggal Rp 1 miliar. Dari lebih 5.000 kapal berbendera asing yang selama
ini beroperasi di wilayah perairan Indonesia, 4.000 di antaranya sudah
ditertibkan aparat TNI AL.
Artinya, pemerintah bukannya
tidak melakukan apa-apa. Upaya memaksimalkan potensi kelautan dan meningkatkan
pendapatan negara dari sektor perikanan terus dilakukan. Ini di antaranya
dibuktikan dengan mulai meningkatnya produksi ikan kendati angkanya belum
besar. Sebagai contoh, kalau pada tahun 1998 total produksi ikan hanya
empat juta ton, maka tahun 2002 meningkat jadi 5,6 juta ton.
Dari total produksi tersebut,
lima juta ton untuk konsumsi dalam negeri sedangkan sisanya diekspor dengan
penghasilan devisa sekitar 2,1 miliar dollar AS. Ini berarti meningkat
sekitar 500 juta dollar dibanding devisa perikanan pada tahun 1998 yang
1,6 juta dollar.
"Sebelum ada Departemen Kelautan
dan Perikanan, tidak ada Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor
perikanan. Tapi, sejak departemen ini terbentuk, sektor ini telah menyumbang
PNBP Rp 300 miliar.Tahun ini kami berupaya mencapai Rp 450 miliar dan tahun
depan menargetkan Rp 700-900 miliar," ujar Menteri.
Sumbangan subsektor perikanan
dari produk primer terhadap PDB juga naik. Kalau pada 1998 hanya dua persen
atau Rp 25 triliun, tahun 2002 meningkat tiga persen menjadi Rp 47 triliun.
Bila dihitung dengan produk sekunder atau olahannya maka kontribusi perikanan
pada PDB hampir 100 persen.
Sebagai jawaban
Kendati ada peningkatan,
diakui hasilnya belum maksimal. Ini pula alasan dilaksanakannya program
Gerbang Mina Bahari. Memang, selama ini sudah banyak program yang dilaksanakan
pemerintah untuk sektor kelautan dan perikanan, tapi nyatanya tidak banyak
yang mencapai target seperti saat program disusun. Singkat kata, program
yang sudah-sudah, belum bisa menjadi terobosan yang bisa membantu mengatasi
krisis ekonomi.
Gerbang Mina Bahari adalah
upaya menggarap dan memaksimalkan potensi kelautan sekaligus menjawab semua
permasalahan kelautan dan perikanan secara sinergi antara masyarakat khususnya
nelayan, pemerintah dan pengusaha, termasuk perbankan.
"Selama ini, sudah banyak
program untuk perikanan dilaksanakan pemerintah. Tapi tidak banyak yang
berhasil karena tidak ada sinergi. Semuanya seperti berjalan sendiri-sendiri.
Padahal persoalan kelautan adalah persoalan bersama yang harus diselesaikan
bersama-sama," ujar Tuti Pudjiastuti, salah satu pengusaha ikan dari Pangandaran,
Ciamis, Jawa Barat.
Seperti diakui Rokhmin Dahuri,
hingga saat ini, kendati bukan berarti tidak ada keberhasilan, berbagai
kendala masih dihadapi. "Secara teknis internal, persoalan yang menghambat
kemajuan pembangunan kelautan dan perikanan di antaranya adalah ketimpangan
armada penangkapan ikan, rendahnya kualitas SDM dan teknologi, serta kemampuan
penanganan dan pengolahan hasil-hasil komoditas perikanan. Selain itu,
terbatasnya sarana dan prasarana pemasaran membuat harga-harga faktor produksi
tidak stabil," ujarnya.
Di samping persoalan ini,
masalah makro-struktural ternyata lebih menghambat ketimbang persoalan
teknis-internal. Persoalan ini terkait dengan kebijakan moneter dan fiskal,
kepastian hukum dan keamanan berusaha, kebijakan ekspor-impor, kebijakan
perpajakan dan retribusi, euforia ekonomi daerah, tata ruang, dan pengelolaan
lingkungan.
"Sebagai contoh, suku bunga
usaha kelautan dan perikanan di Indonesia masih tergolong tinggi, sulit
diakses nelayan, dan disamakan dengan suku bunga sektor lainnya. Padahal
sumber daya kelautan dan perikanan memiliki karakteristik yang khas seperti
ketergantungan pada musim dan alam, elastisitas harga yang tinggi, dan
tingkat risiko usaha yang tinggi pula," ujar Rokhmin.
Jadi harapan
Maka pemerintah berharap
Gerbang Mina Bahari bisa benar-benar menjadi jawaban. Pasalnya selain sebagai
program nasional, program ini juga dilaksanakan bersinergi dengan melibatkan
banyak pihak. Pemerintah juga sudah menetapkan sasaran jangka pendek dan
jangka panjang.
"Dalam jangka pendek gerakan
ini diharapkan dapat meningkatkan produksi perikanan hingga 9,5 juta ton
tahun 2006. Selain itu dapat memberi kontribusi pada PDB nasional 10 persen,
devisa ekspor 10 miliar dollar AS, dengan penyerapan tenaga kerja sebesar
7,4 juta orang dan tingkat konsumsi ikan 30 kilogram per kapita per tahun,"
tambahnya.
Untuk mencapai sasaran ada
beberapa proyek unggulan yang dilaksanakan yakni pengembangan industri
tambak udang terpadu di tujuh provinsi yakni Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah
(Jateng), Jawa Timur (Jatim), Sumatera Selatan (Sumsel), Kalimantan Selatan
(Kalsel), dan Kalimantan Barat, serta Gorontalo.
Selain itu, pengembangan
lima pabrik industri rumput laut di Jatim dan Jateng, Sulawesi Selatan,
Lampung, dan Papua serta pengembangan pabrik kerang di Sumatera Utara,
Lampung, Jatim, Sumsel, dan Kalsel. Pengembangan industri lain yang juga
menjadi sasaran adalah industri sosis patin di DKI Jakarta, Jabar, Jambi,
Sumsel, dan Kalsel.
Untuk pengembangan industri
perikanan tangkap terpadu, dipilih daerah Sabang-Aceh, Batam-Riau, Nias-Sumatera
Barat, Bangka-Belitung, Nusa Tenggara Barat, Bitung-Sulawesi Utara, dan
Gorontalo. Sedangkan pemberdayaan masyarakat nelayan, pembudidaya ikan,
dan masyarakat pesisir lainnya, akan dikembangkan di 300 kabupaten/kota.
Ini ditambah lagi dengan pengembangan usaha budidaya kerapu di Bali Barat.
Dalam jangka panjang, gerakan
ini juga diharapkan menciptidakan pembangunan sistem bisnis perikanan terpadu
di setiap kabupaten/kota pesisir. Di daerah-daerah ini akan didirikan pabrik
pengolahan ikan sebagai basis industri perikanan. Model ini dibangun dengan
mengintegrasikan usaha produksi primer dengan pengolahan dan pascapanen
termasuk pemasaran melalui kemitraan antara nelayan dan pembudidaya ikan,
pengusaha, dan pemerintah.Untuk mencapai sasaran ini tentu dibutuhkan prasyarat
dan dukungan dari semua pihak. Mulai dari dukungan politik sampai kebijakan
moneter khususnya mengenai kredit dan fiskal. "Kami berharap kelautan dan
perikanan juga ditetapkan sebagai sektor pembangunan tersendiri dalam nomenklatur
APBN, sehingga ada biro atau direktorat khusus tentang kelautan dan perikanan
di Bappenas," jelas Rokhmin.
Dukungan lain yang dianggap
penting adalah dari Departemen Keuangan dan Bappenas untuk mengalokasikan
budget APBN dan ketersediaan dana kredit. Selain itu dukungan Departemen
Permukiman dan Prasarana Wilayah untuk pembangunan infrastruktur jalan,
air bersih, irigasi, dan sinkronisasi tata ruang darat dan laut.Dukungan
akan listrik, BBM, dan sumber energi lain, diharapkan dari Departemen Energi
dan Sumberdaya Mineral dan dukungan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan
untuk melakukan penguatan dan pengembangan pasar ekspor serta pengendalian
pencemaran industri.
Dukungan lain yang tidak
kalah penting adalah perbankan untuk menyalurkan kredit dan permodalan,
serta TNI dan Polri untuk menjamin keamanan berusaha dan pengawasan. Semoga
Gerbang Mina Bahari ini benar-benar dapat jadi gerbang kesejahteraan, gerbang
untuk pemulihan ekonomi. (Reny Sri Ayu Taslim)
Kita Suka Sekolah, tapi
ti Mama deng ti Papa Tidak Ada Doi...
Rabu, 15 Oktober 2003
Gorontalo-Kompas- SIANG
itu, harusnya SD Negeri 61 Kota Gorontalo sudah tutup. Sejak lama, aktivitas
belajar-mengajar di sekolah ini hanya berlangsung pagi hari. Tapi sejak
pertengahan Agustus lalu, saat siswa-siswi yang masuk pagi pulang, gerbang
sekolah tidak ditutup. Tidak seperti ruang-ruang kelas yang biasanya tertutup,
siang itu, empat pintu kelas dibiarkan terbuka. Sejumlah guru yang tidak
pulang asyik bercakap-cakap sembari mengaso.
Tidak berapa lama, puluhan
siswa berseragam putih-merah tampak memasuki gerbang sekolah. Selintas,
tidak ada bedanya mereka dengan siswa-siswi sekolah lain atau siswa-siswi
yang masuk pagi. Sedikit perbedaan tampak saat melihat mereka dari dekat.
Umumnya kulit tubuh mereka
tampak legam. Potongan tubuh maupun wajahnya pun agak berbeda. Sebagian
di antaranya tampak sudah ’berumur’ untuk ukuran anak berseragam putih-merah.
Bahkan beberapa di antaranya tampak agak gempal dan berotot. Usianya jelas
bukan usia anak SD. Muhammad, misalnya, siswa kelas V, berumur 13 tahun.
Atau Ferianto yang berusia 14 tahun tapi masih duduk di kelas V. Bahkan
Alfian Alfanu, lebih pantas berseragam putih abu-abu ketimbang putih-merah.
Usianya yang 17 tahun, lebih pantas duduk di bangku SMU. Bahkan salah satu
siswa SMU berusia 20 tahun.
Mereka memang beda. Boleh
dikata mereka adalah siswa- siswa istimewa di Gorontalo. Istimewa bukan
hanya karena usia yang lewat batas untuk sekolah di SD, tapi juga karena
keistimewaan lain yang diperoleh. Mereka, misalnya, bersekolah gratis.
Segala keperluan sekolah, seperti uang sekolah, buku, seragam, sepatu,
tas, dan lainnya, diperoleh gratis. Bahkan untuk duduk di bangku sekolah
ini, mereka dibayar Rp 5.000 per siswa per hari!
Sehari-harinya anak-anak
ini bekerja di pasar. Ada yang jadi kuli angkut barang, ada yang jadi buruh
membantu para pedagang, dan segala pekerjaan di mana tenaga mereka dibutuhkan.
Uang Rp 5.000 yang dibayarkan pada mereka lebih sebagai kompensasi atas
kesediaan mereka tidak mencari uang sejak siang hingga sore hari dan duduk
di dalam kelas.
"KITA suka sekolah..., tapi
ti mama deng ti papa tidak ada doi...," tutur Ferianto, Senin (13/10) siang
itu di SD Negeri 61, Kota Gorontalo. Kalimat dalam bahasa dan dialek Gorontalo
tersebut, bila diindonesiakan berarti, "Saya mau sekolah, tapi mama dan
papa tidak punya uang."
Ungkapan ini menjadi kalimat
pembuka saat Feri berkisah tentang keputusan ibunya tiga tahun silam. Saat
itu Feri kelas V SD saat ayahnya berpulang. Ibunya yang tidak bekerja,
praktis membuat kehidupan ekonomi keluarga ini morat-marit. Andre kecil
yang kebetulan sulung di antara empat bersaudara, terpaksa pasrah saat
ibunya memintanya berhenti sekolah. Tanggung jawab sebagai anak tertua
membuat Andre turun ke pasar menjadi kuli angkut barang.
Tidak jauh beda dengan Muhammad.
Kendati kedua orangtuanya masih ada, tetapi penghasilan ayahnya sebagai
buruh tambak dan ibunya yang menjual pisang goreng tidak bisa menutupi
biaya sekolahnya. Jangankan uang sekolah, makan sehari-hari saja enam sekeluarga
ini kadang tidak tercukupi. Putus sekolah dan jadi kuli angkut barang,
jelas adalah pilihan kendati terpaksa. Pun dengan Andre (11), atau Alfian
dan 67 anak lainnya yang sehari-hari jadi kuli di Pasar Sentral Kota Gorontalo.
Akan tetapi mereka beruntung.
Lewat program menyekolahkan anak-anak tidak mampu yang dilaksanakan PKK
Provinsi Gorontalo, anak-anak ini bisa bersekolah lagi. Adalah Hana Hasanah,
istri Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, yang prihatin pada kehidupan anak-anak
ini. "Saya hanya berpikir, sudahlah putus sekolah, setiap hari mereka harus
di pasar, berada dalam kehidupan pasar yang keras, bergaul dengan preman-preman
pasar. Mungkin dengan bersekolah, mereka bisa sedikit berubah. Tadinya,
kami berpikir mau memberi mereka pendidikan keterampilan saja. Tapi tetap
saja percuma, toh kalau tidak ada modal, keterampilan mereka sia- sia juga.
Setelah berembuk dengan anggota PKK yang lain, diputuskan menyekolahkan
mereka dengan cara biasa, layaknya sekolah umum. Kurikulum dan mata pelajaran
yang digunakan juga mengacu kurikulum di sekolah- sekolah umum," jelas
Hana. Pilihan ini jelas sulit. Tidak mudah mengajak anak-anak ini kembali
bersekolah, mengingat mereka terbiasa bekerja dan menerima uang. Makanya,
kompensasi Rp 5.000 per siswa per hari yang dibayarkan langsung setiap
pulang sekolah adalah alternatif.
"Awalnya uang ini adalah
pengganti penghasilan mereka yang hilang karena tidak bekerja. Selain itu
iming-iming agar mereka mau sekolah. Mudah-mudahan, lama-kelamaan mereka
sekolah bukan lagi karena uang, tapi karena kemauan untuk belajar. Tapi
uang ini akan tetap kami bayarkan selama mereka bersekolah, karena kami
sadar mereka semua adalah tulang punggung keluarga," kata Hana. Persoalan
tidak selesai sampai di sini, karena biaya tetap jadi kendala utama. PKK
tidak punya anggaran untuk ini, padahal, PKK pun segan harus nebeng di
APBD. "Akhirnya kami mencari dana dengan berbagai cara. Misalnya mengaktifkan
usaha PKK yang bisa menghasilkan uang. Kami juga mengadakan malam dana
Peduli Kemiskinan. Alhamdulillah, dari malam dana kami mengumpulkan Rp
150 juta. Ada juga sumbangan Sekjen Pendidikan dan Kebudayaan Rp 50 juta
serta dana-dana lain dari usaha PKK. Setidaknya untuk modal awal, program
ini bisa kami jalankan," jelasnya.
Uang yang terkumpul ini kemudian
digunakan membeli keperluan sekolah anak-anak ini mulai dari seragam hingga
buku-buku. Setiap anak mendapat dua pasang seragam dan dua pasang sepatu.
Sebanyak 30 anak di SLTP, 35 anak di SD, dan dua sisanya di SMU. Untuk
siswa SD dan SLTP, sekolahnya menggunakan SD Negeri 61, sementara dua siswa
SMU dititipkan di salah satu SMU di Gorontalo, bergabung dengan siswa lainnya.
Dana yang ada juga digunakan membayar uang sekolah dan gaji guru. Sebanyak
15 guru SMP dan tujuh guru SD diikutkan dalam program ini. Guru SD digaji
Rp 300.000 per bulan dan guru SMP Rp 200.000 per bulan. Sisanya untuk membayar
kompensasi Rp 5.000 per siswa per hari.
"Setidaknya sampai tahun
2004, dana kami cukup untuk gaji maupun pembayaran anak-anak ini. Selebihnya,
kami terus mencari dana melalui usaha PKK maupun sumbangan donatur-donatur
lain yang bersedia. Kami bertekad program ini jalan terus, hingga semua
anak-anak menyelesaikan SMU. Kami juga akan melanjutkan program ini ke
pasar- pasar lain, atau ke tempat-tempat lain di mana banyak anak putus
sekolah," tambah Hana.
Upaya PKK Provinsi Gorontalo
ini bukan tanpa hasil. Ini antara lain terlihat dari minat dan kemauan
belajar anak- anak yang kian hari kian baik. Perilaku mereka pun, diakui
para guru yang mengajar, mulai berubah, tidak lagi liar.
"Memang butuh kesabaran
yang lebih besar untuk menghadapi anak-anak ini. Pertama kali mengajar
mereka, saya hampir putus asa. Sudah sulit menerima pelajaran, perilaku
mereka pun boleh dikata masih liar. Mereka sangat bandel. Tapi, dengan
kesabaran, mereka mulai berubah. Mereka mulai sopan," ujar Suniar, wali
kelas 5A.
Lain lagi kata Sri Dewi,
wali kelas V B. "Kalau ada pelajaran yang sulit mereka terima, kami harus
menerangkan sambil membujuk. Tidak bisa dikerasi atau ditegasi seperti
anak-anak lain. Tapi beruntung, sebulan program ini jalan, sudah ada perubahan,"
ujarnya. Untuk soal disiplin, PKK juga punya cara lain, yakni memotong
uang harian. Untuk kesalahan terlambat atau tidak mengenakan seragam misalnya,
masing-masing kena denda Rp 1.000, sedangkan mereka yang berkelahi dipotong
Rp 2.500. "Rupanya model denda seperti ini ada gunanya juga, karena tidak
ada yang mau uang hariannya dipotong," kata Hana.
Jelas saja. Karena seperti
kata Andre, Feri, Alfian, atau yang lain, uang gaji sekolah ini biasanya
langsung diberikan kepada ibu mereka sepulang sekolah. Sebagian lagi uangnya
ditabung.... (Reny Sri Ayu Taslim)
Presiden Canangkan Gerbang
Mina Bahari
Ahad, 12 Oktober 2003
Teluk Tomini, Kompas - Presiden
Megawati Soekarnoputri, Sabtu (11/10/03), mencanangkan Gerakan Pembangunan
Nasional Kelautan dan Perikanan atau Gerbang Mina Bahari di atas KRI Teluk
Daltele, di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Pada kesempatan itu, Menteri
Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri mengatakan, penertiban kapal asing
yang selama ini menangkap ikan di perairan Indonesia telah menekan kerugian
negara dari sektor perikanan. "Sebelumnya akibat pencurian ikan Indonesia
kehilangan devisa 5 miliar dollar AS, kini setelah penertiban kapal asing
oleh TNI AL kerugian bisa ditekan hanya tinggal 1 miliar dollar AS," kata
Rokhmin Dahuri.
Presiden bersama suami, Taufik
Kiemas, tiba di KRI Teluk Daltele dengan menggunakan KM Hiu milik Departemen
Kelautan dan Perikanan pukul 15.00 WITA. Usai menekan tombol sebagai tanda
dimulainya pencanangan Gerbang Mina Bahari, Presiden bersama rombongan
meninggalkan KRI Teluk Daltele menuju Pulau Togian. Selanjutnya dengan
menggunakan helikopter, Presiden diterbangkan menuju Bandara Jalaluddin
di Provinsi Gorontalo. Dari Gorontalo Presiden langsung terbang ke Jakarta.
Gerbang Mina Bahari merupakan
upaya untuk menggarap dan memaksimalkan sektor perikanan dan kelautan,
sekaligus menjawab semua permasalahan kelautan yang dilakukan secara sinergi
antara masyarakat, pemerintah, dan pengusaha.
Dalam jangka pendek, Gerakan
Mina Bahari diharapkan dapat memproduksi perikanan hingga 9,5 juta ton
pada tahun 2006. Selain itu, diharapkan pula memberikan kontribusi terhadap
produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 10 persen dari seluruh ekspor
10 miliar dollar AS dengan menyerap tenaga kerja 7,4 juta orang.
Tertibkan 4.000 kapal
Rokhmin Dahuri menjelaskan,
setelah TNI AL melakukan penertiban terhadap kapal asing secara berkesinambungan,
sebanyak 4.000 kapal telah ditangkap."Kita sangat berterima kasih atas
upaya TNI AL yang berhasil menertibkan kapal-kapal asing yang melakukan
pencurian di perairan Indonesia. Setelah TNI AL melakukan penertiban, sebanyak
4.000 kapal berhasil diamankan. Kalau dulu, sebelum ada penertiban terdapat
sekitar 5.000 kapal asing. Kerugian yang dulu mencapai 5 miliar dollar
AS, kini tinggal 1 miliar dollar AS," kata Rokhmin.
Menurut Rokhmin, saat ini
pihaknya terus berupaya untuk mendapatkan devisa negara dari sektor kelautan
dan perikanan. Sebagai contoh, katanya, bila pada tahun 1998 total produksi
ikan hanya 4 juta ton, pada tahun 2002 meningkat menjadi 5,6 juta ton.
Dari seluruh total produksi itu, sebanyak 5 juta ton ditujukan untuk produksi
dalam negeri dan sisanya untuk ekspor dengan pemasukan devisa sebesar 2,1
miliar dollar AS. (REN)
Haz: Ulama atau Tokoh Islam
Indonesia Bukan Teroris
Sabtu, 20 September 2003
20:09 WIB
GORONTALO--MIOL: Wakil Presiden
(Wapres) Hamzah Haz menegaskan, para ulama dan tokoh Islam di Indonesia
bukan tokoh teroris, sehingga bila ada anggapan seperti itu sangat keliru.
Aksi sekelompok orang yang ingin mengacaukan kegamaan bukan program dari
tokoh agama manapun. Penegasan itu dikatakan Wapres ketika membuka seminar
'Pengembangan Budaya Islam Kawasan Timur Indonesia' di Madrasah Aliah Negeri
(MAN) Insan Cendekia Gorontalo, Sabtu.
Wapres Hamzah Haz mengatakan,
para teroris yang sementara ini sedang diproses, tidak ada sangkut pautnya
dengan ajaran agama manapun dan organisasi Islami tidak pernah mentolerir
kejadian itu.Aksi dilakukan sekelompok orang yang ingin mengacaukan kegamaan
di Indonesia bukan merupakan program dari tokoh agama manapun, karena tidak
ada satu agama membenarkan kaumnya untuk saling membunuh satu sama lain.
Untuk menghindari dan menghilangkan
masalah tersebut, maka saat ini sarana pendidikan harus ditingkatkan, terutama
menyangkut ahlak maupun mental agar nantinya tidak ada orang yang bodoh
dam ingin mencelakakan orang lain. Seperti halnya dengan pendapat Wapres,
Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menegaskan pihaknya hanya
menangkap para tersangka yang diduga melakukan aksi terorisme. Hal itu
tidak terkait dengan apakah tersangka itu aktivis masjid atau bukan.
Kepala Bidang Penerangan
Umum Mabes Polri Kombes Pol Zainuri Lubis kepada Antara di Jakarta, Sabtu,
mengatakan, pihaknya tidak berpikir sama sekali bahwa penangkapan itu berkaitan
dengan agama Islam.
"Kita tidak berpikir sama
sekali kalau penangkapan ini ditujukan kepada aktivis masjid atau bukan.
Juga, ini tidak terkait dengan alumni Afghanistan, Poso, atau Ambon. Polisi
hanya menangkap orang yang diduga kuat terkait dengan aksi terorisme,"
ujarnya.*
Karena itu, ia mengharapkan,
semua pihak termasuk media massa tidak lagi mengaitkan penangkapan itu
dengan istilah aktivis masjid atau penculikan. Hal itu dikatakannya menanggapi
pernyataan sejumlah kalangan bahwa polisi sengaja melakukan penangkapan
terhadap aktivis masjid, yang diduga terkait aksi terorisme. Mereka juga
menilai polisi tidak melakukan penangkapan sesuai prosedur yang berlaku.
Menurut Zainuri, dasar penangkapan terhadap para tersangka terorisme itu
adalah UU no 15 Tahun 2003 tentang antiterorisme. "Polisi melakukan penangkapan
sudah disertai bukti-bukti sesuai dengan prosedur yang berlaku," ujarnya.
Namun, ia mengatakan, jika
memang dianggap terjadi kesalahan prosedur dalam penangkapan itu maka semua
pihak bisa memberikan fungsi pengawasannya kepada polisi. "Kalangan media,
DPR, Komnas HAM, dan LSM lainnya bisa memberikan fungsi pengawasannya,"
ujar Zainuri.*
Pada kesempatan di Gorontalo
itu, Wapres meminta kepada bupati dan gubernur serta muspida agar dalam
melaksanakan pembangunan harus memperhatikan masalah pendidikan, karena
pendidikan merupakan suatu pilar bagi pembangunan daerah.
"Jika perlu, anggaran untuk
pendidikan di setiap daerah alokasinya sebesar 30 persen dari total APBD,"
kata Wapres Hamzah Haz. (Ant/O-1)
Laut, "Tambang" Provinsi
Gorontalo
yang Belum Digarap Maksimal
Kamis, 25 September 2003
Gorontalo–Kompas–GORONTALO
sangat kaya akan hasil laut, memang kenyataan yang tidak boleh dimungkiri.
Tidak berlebihan juga kiranya jika menyebut laut sebagai "tambang" Gorontalo.
Faktanya, Provinsi yang baru lahir 22 Desember 2000 ini memang dikelilingi
laut. Di pantai selatan atau di Teluk Tomini, misalnya, terdapat garis
pantai sepanjang lebih kurang 330 kilometer. Dan di pantai utara atau Laut
Sulawesi, terdapat garis pantai sepanjang lebih kurang 230 km.
Kedua sisi pantai ini memiliki
kelebihannya masing-masing. Pantai utara yang juga merupakan perairan zona
ekonomi eksklusif (ZEE) Laut Sulawesi, kaya akan ikan pelagis. Sementara
di pantai selatan atau yang lebih dikenal sebagai Teluk Tomini, sangat
banyak yang meyakini sebagai perairan yang memiliki kekayaan hayati paling
lengkap di dunia. Keyakinan ini boleh jadi benar, mengingat Teluk Tomini
dilewati garis khatulistiwa.
Sebagai gambaran, selain
ikan tuna, laut Gorontalo juga kaya akan cakalang, layang, tongkol, kakap,
kerapu, dan beragam ikan lainnya. Belum lagi beragam cumi-cumi, lobster,
dan juga kerang-kerangan. Bahkan, sejumlah besar wilayah pesisir di Gorontalo
sangat potensial untuk pengembangan budi daya perairan. Daerah ini potensial
untuk budi daya udang windu, rumput laut, teripang pasir, kerapu tikus,
tuna, kepiting bakau, dan lainnya. Belum lagi kalau kita bicara soal pengembangan
perikanan darat.
Dengan fakta ini, laut menjadi
salah satu andalan sumber pemasukan tidak hanya bagi pemerintah provinsi,
tetapi juga masyarakat. Maka tidak heran, sejak Fadel Muhammad memimpin
provinsi ke-32 ini, perhatiannya dicurahkan ke laut.
"Kekayaan kami di sini selain
jagung, ya, di laut ini. Artinya, untuk membangun daerah ini, kedua potensi
ini, terutama laut, yang harus dimaksimalkan," ujar Fadel. Agaknya, Fadel
tidak sekadar berucap. Setibanya di Gorontalo dan menjadi gubernur, perhatiannya
memang dicurahkan di laut. Untuk segala tetek bengek soal laut, Fadel memulainya
dari nelayan. Alasannya sederhana saja, nelayan adalah ujung tombak untuk
urusan mencari ikan. Maka, Fadel pun mendatangi para pencari ikan ini di
kampung-kampung nelayan. Yang pertama ditanya soal harga pembelian ikan
hasil tangkapan nelayan oleh pengusaha. Jawaban yang diperoleh tentu saja
cukup mengejutkan, Rp 7.500 per kilogram untuk ikan tuna. Itu sudah harga
yang paling tinggi.
"Saya kemudian mendatangi
para pengusaha dan pedagang pengumpul ikan. Saya kumpulkan mereka semua.
Lalu saya minta mereka menaikkan harga beli ikan menjadi Rp 15.000 per
kilogram. Tentu saja mereka menolak, tetapi saya tetap ngotot. Sebagai
gantinya, saya minta mereka mengemukakan apa kesulitannya dalam urusan
usaha perikanan," ujar Fadel. Singkat cerita, kesepakatan pun tercapai.
Pedagang dan pengusaha setuju menaikkan harga beli ikan sesuai keinginan
pemerintah. Hasilnya? Saat ini setidaknya sudah ada tiga perusahaan besar
di Gorontalo yang secara intens mengekspor ikan ke Jepang, Taiwan, Korea
Selatan, Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai negara lain. Perusahaan ini
antara lain PT Kurenai Jaya dan PT Sinar Ponula Deheto. Bahkan, saat ini
salah satu perusahaan perikanan terbesar di Indonesia, PT Bukaka, mulai
melirik Gorontalo.
KENDATI kekayaan Gorontalo
berada di laut, toh hingga saat ini sumber daya laut ini belum tergarap
maksimal. Sebagai gambaran, dari potensi lestari 82,200 ton per tahun,
sampai saat ini baru sekitar 27,39 persen hasil laut Gorontalo yang dimanfaatkan.
Umumnya armada penangkapan di Gorontalo berupa kapal yang berukuran di
bawah 30 GT. Kapal-kapal seperti ini hanya mampu menjangkau jalur penangkapan
I dan II. "Ke depan, untuk mendorong perikanan tangkap di Gorontalo, teknologi
dan armada penangkapan akan dikembangkan agar dapat menjangkau perairan
ZEE Laut Sulawesi," ujar Fadel Muhammad.
Tentu saja bukan soal mudah
menyelesaikan persoalan ini. Banyak sebab lain di samping persoalan teknis,
soal kapal, dan peralatan tangkap tadi. Hampir semuanya klasik. Sebut saja
soal akses permodalan yang kurang memadai, akses pasar, dan keterbatasan
sarana/prasarana pendukung. Untuk akses pasar, misalnya, baik dari maupun
menuju ke Gorontalo, masih kurang memadai. Bandara Djalaluddin hingga kini
masih belum dapat didarati pesawat berbadan lebar. Sedangkan pelabuhan
laut yang ada belum banyak disinggahi kapal-kapal penumpang. Dampaknya
tentu saja berupa tingginya biaya pada setiap unit usaha atau kegiatan.
Pasalnya, setiap transaksi perdagangan yang dilakukan di Gorontalo, harus
melalui jalur Manado atau Palu. Padahal, kedua daerah ini nyaris sama jauhnya
dari Gorontalo. Untuk sampai ke Manado, dengan kendaraan darat misalnya,
perjalanan harus ditempuh minimal delapan jam. Sementara untuk ke Palu
dibutuhkan waktu lebih dari 12 jam, dengan kondisi jalan yang tidak seluruhnya
mulus. Padahal, sebagian besar produk unggulan Gorontalo, di antaranya
ikan, termasuk dalam kategori perishable goods mengingat kecepatan penurunan
mutunya.
Yang tidak kalah penting
adalah soal sumber daya manusia, baik kualitas maupun kuantitasnya. Sebagai
catatan, hingga akhir tahun 2002 penduduk Gorontalo masih 844.736 jiwa
dengan luas wilayah 12.215,45 kilometer persegi (tingkat kepadatan penduduk
hanya sekitar 68 jiwa per km²). Itu kalau dilihat dari sudut kuantitas.
Dari segi kualitas, persoalannya tidak kalah peliknya. Pasalnya, kata Fadel,
kapasitas sumber daya manusia di Gorontalo-baik sebagai produsen maupun
pelaku usaha di bidang perikanan dan kelautan-masih rendah, terutama kemampuan
menerima apalagi menguasai teknologi maju. Masih banyak pula yang belum
memiliki wawasan yang berorientasi masa depan. (RENY SRI AYU TASLIM)
Bank Muamalat Resmi Beroperasi
di Gorontalo
Rabu, 3 September 2003
Gorontalo–GP-Bank Muamalat
Kantor Cabang Gorontalo diresmikan oleh Gubernur Gorontalo Ir. Fadel Muhammad
yang sekaligus sebagai nasabah pertama, pada Rabu, 3 September 2003. Bank
ini beralamat di Jalan Raja Eyato no. 35A, Kota Gorontalo, Telefon (0435)-831747,
Faksimile (0435)-830260.
Bank Muamalat berdiri sejak
1 Mei 1992, dan Bank Muamalat Cabang Gorontalo merupakan cabang yang
ke-30 se-Indonesia, dan sebagai outlet ke-88. Modal awal Bank Muamalat
adalah Rp 106 miliar, sekarang (September 2003) mencapai Rp 2,6 triliun.
Kepala Kantor Cabang Gorontalo adalah Moedigdo Sigit Prakoso.