Free Web space and hosting from 20megsfree.com
Search the Web

 
 

Sejarah Singkat
 
Kabupaten Bonebolango dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bonebolango dan Kabupaten Pohuwato di Provinsi Gorontalo. Undang-undang tersebut disetujui dan disahkan oleh DPR RI pada Sidang Paripurna IV, Senin, 27 Januari 2003.

Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran yang kedua Kabupaten Gorontalo. Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2003 disebutkan bahwa "Ibu kota Kabupaten Bone Bolango berkedudukan di Suwawa" (Pasal 8 ayat 1).

Dalam Penjelasan Umum UU Nomor 6 Tahun 2003 antara lain disebukan:

"Dalam rangka peningkatan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan di Kabupaten Gorontalo yang mempunyai luas wilayah ± 5.338,98 km2 perlu dibentuk Kabupaten Bonebolango yang terdiri atas 4 (empat) Kecamatan, yaitu Kecamatan Tapa, Kecamatan Kabila, Kecamatan Suwawa, dan Kecamatan Bonepantai dengan luas wilayah keseluruhan ± 1.984,31 km2."
Yang menjadi Penjabat Bupati Bonebolango adalah Drs. Ismet Mile, M.M., mantan Wakil Bupati Kabupaten Gorontalo, yang dilantik bersamaan dengan peresmian Kabupaten Bonebolango pada tanggal 6 Mei 2003.

Setelah menjadi kabupaten yang mandiri, beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Bonebolango dimekarkan sehingga lahirlah beberapa kecamatan baru, yakni: (1) Boneraya dan (2) Bone, (3) Kabilabone (mekaran dari Kecamatan Bonepantai),  (4) Tilongkabila, (5) Botupingge (mekaran dari Kecamatan Kabila), (6) Bulango (mekaran dari Kecamatan Tapa).

Dengan demikian, maka jumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Bonebolango hingga Maret 2004 menjadi sepuluh buah, yakni sebagai berikut.
 

No.
Nama Kecamatan
Jumlah 
Desa
Jumlah 
Kelurahan
Nama Desa / Kelurahan
1.
Bone
-
-
[1]
2.
Bonepantai
14 
(2002)
-
[1] Bilungala, [2] Kaidundu, [3] Mamungaa, [4] Molotabu, [5] 
Monano, [6] Oluhuta, [7] Sogitia, [8] Taludaa Barat, [9] Taludaa Timur, [10] Tamboo, [11] Tolotio, [12] Tombulilato, [13] Tombulilato Barat, [14] Tongo, dan [15] Uabanga;
3.
Boneraya
-
-
[1] Tombulilato, 
4.
Botupingge
4
-
[1] Buata, [2] Luwohu, [3]  Panggulo;  dan [4] Timbuolo [ibu kota].
5.
Bulango
6
-
[1] Bandungan, [2]  Boidu, [3]  Longalo, [4] Mongiilo, [5] Owata; dan [6] Tupa [ibu kota],
6.
Kabila
4
4
[1] Dutohe, [2]  Oluhuta (K, ibu kota), [3] Padengo (K), [4] Pauwo (K), [5] Poowo, [6] Tanggilingo, [7] Toto Selatan, [8] Tumbihe (K). (K= Kelurahan);
7.
Kabilabone
-
-
[1] Molotabu, [2] Oluhuta, [3] Huangobotu
8.
Suwawa
14
-
[1] Boludawa (ibu kota), [2] Bonedaa, [3] Bube, [4] Bulontala, [5] Duano, [6] Dumbayabulan, [7] Huluduotamo, [8] Libungo, [9] Lombongo, [10] Lompotoo, [11] Molintogupo, [12] Pinogu, [13] Tingohubu, dan [14] Tulabolo;
9.
Tapa
9
-
[1] Ayula  Utara,  [2] Ayula Selatan,  [3] Bulotalangi, [4] Dunggala¸  [5] Huntu Selatan,  [6] Huntu Utara, [7] Langge,
[8] Talulobutu [ibu kota]; dan [9]  Talumopato;
10.
Tilongkabila
7
-
[1] Bongoime [ibu kota], [2] Bongopini, [3] Lonuo,  [4] Moutong, 
[5] Tamboo, [6] Toto Utara, dan [7] Tunggulo;
-
Kabupaten
Bonebolango
59
4
Suwawa [ibu kota kabupaten]

Sumber: JulianurCom, 2004.

Sementara itu, sebagian masyarakat di beberapa desa di wilayah Suwawa bagian timur sedang memperjuangkan untuk pemekaran wilayah Kecamatan Suwawa, membentuk kecamatan baru, yakni Kecamatan Suwawa Timur.

Wilayah Administratif dan Penduduk

Kabupaten Bonebolango terletak pada posisi, dengan batas-batas sebagai berikut:

TABEL
WILAYAH, LUAS, DAN JUMLAH PENDUDUK
KABUPATEN BONEBOLANGO
TAHUN 2002 DAN 2004
No.
Nama Kecamatan
(2004)
Ibu Kota
Luas (km2)
(2002)
Jumlah Desa
(2004)
Jumlah Kelurahan
(2004)
Jumlah Penduduk
(1997)
Kepadatan
(1997)
Nama Camat
1
Bone
-
-
-
-
-
-
Ibrahim Ruchban
2
Bonepantai
Bilungala
517,20 
[14]
-
27.775
53,70
Sugondo Makmur, S.Pd.
3
Boneraya
-
-
-
-
-
-
Anas Tangahu
4
Botupingge
Timbuolo
-
4
-
-
-
Marni Nisabu
5
Bulango
Tupa
-
6
-
-
-
Hamid Delatu
6
Kabila
Oluhuta
356,00
4
4
35.077
98,53
Taufik Sidiki
7
Kabilabone
-
-
-
-
-
-
Roha Hulopi
8
Suwawa
Boludawa
771,60
14
-
20.578 
26,67
Rizal Yakop
9
Tapa
Talulobutu
339,60
9
-
25.484 
75,04
Harun Badjoda
10
Tilongkabila
Bongoime
-
7
-
-
-
Saleh Tambipi
-
Kabupaten Bonebolango
Suwawa
1,984.40
59
4
108.914*) [122.722]
54,89
Drs. Ismet Mile, M.M. (Bupati pjs)

*) Jumlah Penduduk Kabupaten Bonebolango menurut data terakhir Februari 2004 adalah 122.722 jiwa.

Sumber: JulianurCom, 2004.

Peta Wilayah Kabupaten Bonebolango, Provinsi Gorontalo Tahun 2004

Pemerintahan

Adapun nama jabatan dan pejabat Pemerintahan Kabupaten Bonebolango sampai dengan Maret 2004 adalah sebagai berikut.
 

No.
Jabatan
Nama Pejabat
1
Bupati (Penjabat) Drs. Ismet Mile, M.M.
2
Wakil Bupati -
3
Sekretrais Daerah Drs. Hamran S. Amu, M.Si.
4
Asisten I, Tata Praja Drs. Bram Tangahu, M.Si.
5
Asisten II, Pembangunan Drs. Yudhi Ekwanto
6
Asisten III, Administrasi Drs. Abd. Kadir Ialhude
-
Kepala Bagian -
1
Bagian Ekonomi Rustam Liputo, B.A.
2
Bagian Hukum Lan S.K. Neu
3
Bagian Humas Anas Mile
4
Bagian Kepegawaian Djamaluddin Wartabone, S.Pd.
5
Bagian Keuangan Tanwir Ali, S.E.
6
Bagian Pembangunan Warson Tangahu, S.E.
7
Bagian Pemerintahan A. K. Lahayi, S.Sos.
8
Bagian Umum Amin Tohopi, S.E.
-
Kepala Dinas -
1
Dinas Kehutanan, Pertambangan, & Energi Drs. Imsail Datau, M.M.
2
Dinas Kesbang Linmas & PM Syamsu Umar, S.Sos.
3
Dinas Kesehatan dr. Irfandi Hoesa
4
Dinas Kesejahteraan Sosial Drs. Sudin Maaruf
5
Dinas Naker & Transmigrasi Drs. Anis Naki, M.M.
6
Dinas Pendapatan Daerah Drs. Binol Harun, S.I.P.
7
Dinas Pendidikan dan Nasional Drs. Walidun Husain, M.Si.
8
Dinas Perhubungan & Pariwisata Syamsu Umar (plh)
9
Dinas Perikanan & Kelautan Kismo Waris
10
Dinas Perindag & Koperasi Ir. Nilda Tulen
11
Dinas Pertanian & Perkebunan Ir. Tonton Yasin
12
Dinas Peternakan & Kesehatan Hewan Ibrahim Ntau, B.Sc., S.E.
13
Dinas PU & Kimpraswil Ir. Robert C.D. Kaban, M.Sc.
-
- -
 -
Kepala Kantor / Jabatan Lain -
1
Kantor Catatan Sipil & Keluarga Berencana dr. Rusli Katili
2
Kantor Departemen Agama Drs. Abdul Latif Mile
3
Sekretaris Dewan Galdi Lahay (plh)

Sumber: JulianurCom, 2004.
 

DPRD

Berdasarkan hasil perolehan suara pada Pemilihan Umum 5 April 2004 Kabupaten Bonebolango berdasarkan jumlah penduduk dan wilayahnya mendapat jatah 25 kursi untuk anggota dewan periode 2004-2009, yang terdiri atas 7 partai politik pemenang pemilu.

Anggota Dewan Kabupaten (Dekab) Bonebolango yang pertama sejak dimekarkan 6 Mei 2003 dilantik pada Kamis, 26 Agustus 2004 oleh Gubernur Gorontalo Ir. Fadel Muhammad.
 
 

I. Golkar
  1. Drs. Antoni Karim (Tapa)
  2. Muzakir Imran (Kabila)
  3. Idris Abdullah Kalea  (Bonepantai)
  4. Lusiana Mooduto, A.Md.  (Bonepantai)
  5. Jusuf Umar (Tapa)
  6. Mitahudin Jasin, S.Pd.  (Kabila)
  7. Nunu Dahlan Lahay (Suwawa)
  8. Moh. Kilat Wartabone (Suwawa)
II. PPP
  1. Ir. Aleks Olii, M.Sc. (Tapa)
  2. Mohamad Jefry Isa (Tapa)
  3. Imran Ahmad  (Kabila)
  4. Tahir S. Badu  (Kabila)
  5. Capt. Mustad R.H. Sidiki (Suwawa)
  6. Ardjun H. Mogulaingo (Bonepantai)
III. PDI-P
  1. Amran Mustapa, S.T. (Tapa)
  2. Masnun Nurdin  (Kabila)
  3. Fadjar Wartabone (Suwawa)

IV. PAN
  1. Abd. Gafir Nasaru, S.Ag.  (Kabila)
  2. H. Tardjun Ruchban (Bonepantai)
V. PBB
  1. Erna Patutie (Tapa)
  2. Ardjon Rauf, Sm.H.  (Kabila)
  3. Yakub Tangahu, S.H. (Suwawa)
VI. PKS
  1. Irwan Mamesah, S.Pd.  (Kabila)
  2. Lukman Dadi Katili (Bonepantai)
VII. PBR
  1. Andris Amirudin Makmur (Bonepantai)


 

Sumber: JulianurCom 2004.

Kabupaten Bonebolango
Selasa, 03 Februari 2004
Gorontalo-Kompas-DALAM siklus hidup manusia, bayi berumur 11 bulan baru punya beberapa gigi. Ucapan- ucapannya belum bisa dimengerti, berdiri sendiri pun tidak sanggup. Begitu pula Kabupaten Bonebolango, pecahan dari Kabupaten Gorontalo pada bulan Januari  2003.

Pada usia 11 bulan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah belum terbentuk sehingga peraturan daerah belum bisa disahkan. Lambang kabupaten juga masih nihil. Dinas-dinas yang bertugas melayani masyarakat belum memiliki tempat sendiri, terpaksa menyewa rumah penduduk di Jalan Nani Wartabone di Kecamatan Suwawa. Nama daerah yang masih dalam tahap mengenali jati diri ini diambil dari dua nama sungai, Bone dan Bolango. Tetapi, bukan kedua sungai ini yang menjadi penyangga utama sistem pengairan persawahan di bagian Bonebolango yang landai. Sungai Lomaya menjadi penyokong irigasi persawahan di bagian utara dan Sungai Alale mengairi sawah di bagian timur. Bila dihitung kontribusinya dalam skala provinsi, produksi padi kabupaten ini sekitar delapan persen dari produksi Provinsi Gorontalo. Tahun 2002, sekitar 12.700 ton dipanen dari 3.700 hektar sawah. Persawahan tersebar di seluruh kecamatan, kecuali Kecamatan Bonepantai. Morfologi daerah paling selatan ini berbeda dengan tiga kecamatan lain. Terpisah oleh gunung, belum ada jalan yang menghubungkan langsung dari ibu kota kabupaten di Kecamatan Suwawa. Jika penduduk dari Kecamatan Bonepantai ingin mengurus sesuatu di Kecamatan Suwawa, satu-satunya jalan harus memutar lewat Kota Gorontalo, baru menuju ibu kota kabupaten. Padahal, dari bagian paling ujung kecamatan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Utara ke Kota Gorontalo dibutuhkan waktu lebih kurang tiga jam menggunakan kendaraan roda empat. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke Suwawa selama setengah jam. Masalah prasarana cukup mengganggu perjalanan. Beberapa ruas jalan sepanjang pantai menuju Kota Gorontalo kurang baik. Saat hujan, pengemudi harus hati-hati karena jalan berlumpur. Belokan tajam serta menanjak membutuhkan kewaspadaan pengemudi.

Meski berhadapan langsung dengan laut biru, jernih, dan kaya hasil laut, penduduk di daerah pantai lebih banyak bertani dibandingkan menjadi nelayan. Hampir 45 persen penduduk memilih menggarap ladang sebagai sumber nafkah utama. Tanaman yang dibudidayakan umumnya jagung, ubi kayu, ubi jalar, dan kacang tanah.

Lokasi di tepi Teluk Tomini cukup kondusif untuk perkembangan sektor perikanan. Tidak kurang dua perusahaan mengirim hasil laut ke luar negeri, salah satu negara tujuannya adalah Jepang. Investasi perusahaan tersebut 1 juta dollar AS dengan kapasitas sekitar 1.500 ton per tahun. Selama tahun 2003, mereka mengirim ikan layang dan tuna beku ke Negeri Sakura sekitar 102 ton senilai 140.000 dollar AS.

Akses yang sulit ke Kecamatan Bonepantai berpeluang menyurutkan sektor perikanan di masa depan. Transaksi di tempat pelelangan ikan (TPI) daerah ini lebih rendah volume dan nilainya dibandingkan kecamatan sebelah, Kabila, yang justru memiliki garis pantai lebih pendek. Jika TPI Taludaa di Kecamatan Bonepantai memproduksi sekitar 178.000 ton hasil laut senilai Rp 345 juta, produk TPI di Kecamatan Kabila mencapai 229.000 ton atau senilai Rp 402 juta. Padahal, jumlah nelayan di Bonepantai tujuh kali lipat lebih banyak dibandingkan Kecamatan Kabila.

Pohon kelapa mudah dijumpai di sepanjang jalan yang meliuk-liuk mengikuti garis pantai kabupaten ini. Tercatat, Kecamatan Bonepantai diikuti oleh Kecamatan Suwawa menjadi wilayah yang memiliki pohon kelapa paling banyak. Pemeliharaan kelapa juga dilakukan di kedua kecamatan lain, hanya jumlahnya lebih kecil. Sepanjang tahun 2002, dari kebun 7.143 hektar, produksi kelapa 7.386 ton. Kelapa dari pohon akan dibuat bungkil kopra dan selanjutnya dikirim ke Surabaya untuk diolah lebih lanjut.

Kakao juga tersebar di keempat kecamatan dengan area penanaman terluas di Kecamatan Tapa. Hasil kakao berupa biji kering dijual ke provinsi-provinsi lain, termasuk Jawa Timur. Dari lahan 845 hektar yang ditanami kakao dihasilkan biji kering 175 ton. Di samping kelapa dan kakao, tanaman perkebunan lain yang dibudidayakan antara lain jambu mete, kopi, kemiri, aren, dan kayu manis.Meskipun tidak diketahui nilai dari hasil kegiatannya, pertanian menjadi sumber nafkah sebagian besar penduduk.

Menurut Sensus Penduduk 2000, hampir 31 persen tenaga kerja tersedot dalam pertanian tanaman pangan dan 14,5 persen terserap di pertanian jenis lain, seperti peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan.

Usaha nonpertanian belum banyak diminati. Industri besar selain perusahaan pengekspor hasil laut beku belum ada. Kegiatan pengolahan yang tumbuh masih sebatas industri skala kecil dan rumah tangga. Beberapa industri kain kerawang yang hasilnya sebagian untuk seragam karyawan pemerintah kabupaten telah muncul dan cenderung mengumpul di Kecamatan Tapa dan Suwawa. Industri kerajinan anyaman juga hadir di Kecamatan Bonepantai dan Suwawa. Industri makanan dan minuman, termasuk yang mengolah hasil kebun penduduk, lebih banyak tumbuh di Kecamatan Kabila dan Tapa.

Pengembangan industri saat ini terkutub di dua kecamatan: Kabila dan Tapa. Salah satu faktor pendorongnya adalah akses yang lebih mudah ke Kota Gorontalo. Jarak yang dekat, kurang dari setengah jam dari Kota Gorontalo, dan angkutan umum lalu lalang memudahkan pemasaran serta pengangkutan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proses produksi.

Ke depan, tugas yang menanti masih berderet panjang. Infrastruktur harus terus dilengkapi. Jaringan jalan menuju ke wilayah-wilayah yang terisolasi sangat diperlukan. Selain Kecamatan Bonepantai, masih ada daerah di ibu kota kabupaten yang tidak terjangkau kendaraan umum karena terpisah oleh sungai dan hanya ada jembatan kayu gantung sempit untuk menyeberanginya. Kendaraan roda empat tidak bisa masuk dan sepeda motor pun harus dituntun ketika melintas. Bila jalan-jalan yang menghubungkan daerah-daerah terpencil dapat segera direalisasikan, perekonomian lebih cepat berderap, termasuk kecamatan di pinggir Teluk Tomini.

Hutan yang tersebar di seluruh kecamatan juga patut mendapat perhatian. Selama ini hutan memberi peran dalam perdagangan luar negeri. Hasil hutan produksi di Kecamatan Suwawa dan Bonepantai seluas 12.000 hektar diekspor ke Korea, Jepang, dan Singapura. Pada masa datang, hutan bisa membantu ekonomi daerah.RATNA SRI WIDYASTUTI Litbang Kompas.

Emas, Pariwisata, dan Perikanan
Selasa, 03 Februari 2004
Kalau bicara potensi, sebenarnya Kabupaten Bonebolango punya satu potensi besar bisa menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 1 triliun per tahun. Potensi itu adalah emas senilai 6 miliar di Taman Nasional Nani Wartabone. Bukan hanya emas, taman nasional ini diketahui memiliki cadangan perak dan tembaga dalam nilai yang juga miliaran dollar AS atau triliunan rupiah.

Potensi ini bukan isapan jempol belaka karena hasil penelitian lengkap cadangan berikut nilainya ini dilakukan beberapa tahun lalu oleh perusahaan dari Australia, PT Tropic. Sayangnya, dengan alasan taman nasional ini termasuk paru-paru dunia dan harus dilindungi, potensi itu pun terpaksa didiamkan. "Kalau mau diistilahkan, di taman nasional itu ibaratnya bebek mati kehausan di sungai. Tetapi karena ini untuk kepentingan dan permintaan dunia, kami menerima saja untuk tidak melakukan kegiatan apa pun, terutama penambangan di situ. Syukur, masyarakat juga sampai sejauh ini mau mengerti," ujar Bupati Bonebolango Ismet Mile.

Ismet berharap kerelaan masyarakat untuk tidak mengeksploitasi tambang emas tersebut bisa mendapat kompensasi dari pemerintah dan dunia luar untuk setidaknya membantu masyarakat setempat agar punya alternatif pendapatan lain, misalnya pariwisata.

"Saat ini kami sedang berupaya mengembangkan sektor pariwisata dengan mengandalkan taman nasional ini. Di dalam taman nasional ini kan ada pemandian air panas, air dingin, ada pemandangan alam yang indah, dan lain-lain yang sangat potensial dikembangkan untuk ekowisata. Hanya memang ini masih terkendala oleh keterbatasan sarana dan fasilitas," ungkap Ismet.

Pemerintah dan masyarakat, tutur Ismet, saat ini tidak hanya berdiam diri saja menunggu bantuan dari luar. Setidaknya Rp 7 miliar dari APBD sudah dianggarkan untuk mulai membenahi fasilitas di taman nasional tersebut. Pemerintah mengharapkan pembangunan dan pengembangan sektor pariwisata, khususnya di Taman Nasional Nani Wartabone, bisa memberi andil, terutama pada pendapatan daerah, penyerapan tenaga kerja, dan hal lain yang bisa jadi penggerak ekonomi masyarakat setempat. "Kami sadar anggaran yang kami sisihkan untuk membenahi taman nasional ini masih sangat terbatas. Karena itu, kami berharap pihak lain mau membantu kami. Sebab, ini kami lakukan semata-mata agar ada alternatif pendapatan masyarakat dan daerah karena tidak mengutak-atik cadangan tambang di sana," katanya.

Satu potensi wisata lain yang juga tidak kalah besarnya adalah Taman Laut Olele di Pantai Olele. Dari hasil penelitian yang dilakukan orang-orang luar, taman laut ini diyakini memiliki keindahan yang bahkan jauh di atas Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara.

Selain sektor pariwisata, sektor lain yang juga digenjot adalah perikanan. Dengan modal 80 km garis pantai di bibir Teluk Tomini, adanya enam perusahaan asing yang beroperasi, serta keberadaan nelayan dan pedagang ikan, pemerintah berharap perikanan dapat menjadi salah satu potensi unggulan Bonebolango. Apalagi sejauh ini kegiatan keenam perusahaan yang di antaranya berasal dari Jepang dan Korea itu lebih kepada ekspor ikan ke Jepang, Korea, negara-negara Asia lain, hingga Eropa.

Diakui Ismet, keenam perusahaan yang beroperasi di Bonebolango saat ini memberi sumbangan yang tidak sedikit pada daerah dan masyarakat setempat. Untuk PAD, misalnya, perikanan memberi kontribusi 35 persen. Adapun untuk penyerapan tenaga kerja mencapai ribuan. Ini di antaranya nelayan, pedagang ikan, dan masyarakat yang terlibat dalam perusahaan.

Dalam operasinya, perusahaan-perusahaan ini membina nelayan-nelayan tradisional dan pedagang ikan dengan menampung hasil tangkapan mereka. Kepada mereka, perusahaan juga memberikan pendidikan dan pelatihan, terutama menyangkut pascatangkap, mengingat ikan-ikan ini diekspor. Satu hal yang juga menggembirakan adalah perusahaan ini lebih berperan sebagai penampung hasil tangkapan kemudian mengekspor, dan bukan menangkap.

"Kami berharap, ke depan, Bonebolango dapat menjadi kawasan ekonomi terpadu untuk menunjang perekonomian Provinsi Gorontalo. Kami juga berharap dengan andalan sektor perikanan, daerah ini dapat jadi lumbung ikan Gorontalo atau pusat perikanan di Provinsi Gorontalo," ungkap Ismet. Hanya saja, tambah Ismet, persoalannya kembali lagi pada kendala pembiayaan. Dengan dana alokasi umum (DAU) Rp 70 miliar, dana alokasi khusus (DAK) Rp 4 miliar, serta dana-dana dekonsentrasi lainnya untuk bidang kesehatan, transmigrasi, pendidikan, dan lainnya tentu saja masih jauh dari cukup. "Untuk membenahi segala sektor, utamanya untuk membangun dan melengkapi fasilitas guna menunjang seluruh kegiatan masyarakat, dana yang ada sekarang tentulah minim. Padahal, untuk dana itu harus berbagi juga dengan anggaran biaya pemerintah," katanya.

Ismet juga mempertanyakan rencana pembangunan bendungan di Sungai Bone yang hingga kini mandek. Rencana pembangunan bendungan ini sebenarnya sudah berjalan saat pemerintahan Presiden Habibie. Bahkan, gambar rancangan bendungan pun sudah selesai. Perhitungan waktu itu, bendungan ini setidaknya akan menelan biaya Rp 34 triliun. Tetapi, sayangnya pascakejatuhan Habibie, rencana ini tidak pernah disinggung lagi.

"Padahal, bendungan ini menurut penelitian bisa dimanfaatkan sebagai sumber pengairan untuk pertanian, tenaga listrik, dan pariwisata. Bahkan untuk tenaga listrik, bendungan ini diperkirakan bisa menyumbang keperluan listrik bukan hanya untuk Provinsi Gorontalo, tetapi juga Sulawesi Utara. Untuk pertanian, jelas ini juga sangat penting mengingat kendala pengembangan pertanian di Bonebolango sekarang ini adalah pengairan," kata Ismet. (Reny Sri Ayu Taslim)