![]() |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

![]() |
Kabupaten Pohuwato dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bonebolango dan Kabupaten Pohuwato di Provinsi Gorontalo, yang disahkan oleh DPR pada tanggal 27 Januari 2003. Kabupaten Pohuwato secara resmi berdiri pada tanggal 6 Mei 2003 yang ditandai dengan pelantikan Drs. Jahja K. Nasib sebagai Penjabat Bupati Pohuwato. |
(Penjabat Bupati) |
Dalam Penjelasan Umum UU tersebut antara lain desebutkan bahwa dalam rangka peningkatan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan di Kabupaten Boalemo yang mempunyai luas wilayah ± 6.761,67 km2 perlu dibentuk Kabupaten Pohuwato yang terdiri atas 5 (lima) Kecamatan, yaitu Kecamatan Popayato, Kecamatan Lemito, Kecamatan Randangan, Kecamatan Marisa, dan Kecamatan Paguat dengan luas wilayah keseluruhan ± 4.244,31 km2." |
Wilayah Administratif dan
Penduduk
Letak
Kabupaten Pohuwato terletak pada posisi, dengan batas wilayah sebagai berikut:
Pada tahun 2003 beberapa
kecamatan di Kabupaten Pohuwato dimekarkan sehingga menambah jumlah wilayah
kecamatan di Kabupaten Pohuwato. Adapun kecamatan yang baru dimekarkan
itu adalah Kecamatan Patilango dan Kecamatan Taluditi, yang keduanya diresmikan
oleh Gubernur Gorontalo, Ir. Fadel Muhammad pada Desember 2003.
Dengan demikian, sampai dengan
Mei 2004 Kabupaten Pohuwato memiliki tujuh wilayah kecamatan sebagai berikut.
|
|
|
Desa |
Kelurahan |
|
|
|
Lemito |
|
|
[1] Lemito, [2] Dudewulo, [3] Torosiaje, [4] Lomuli, [5] |
|
|
Marisa |
(2001) |
|
[1] Balayo, [2] Bulili, [3] Buntulia Selatan, [4] Buntulia Utara, [5]
Duhiadaa, [6] Huluwa, [7] Huyula, [8] Iloheluma, [9] Imbodu, [10] Kalimas
*, [11] Malango, [12] Manawa, [13] Manunggalkarya, [14] Marisa Selatan,
[15] Marisa Utara, [16] Motolohu, [17] Pancakarsa (UPT), [18] Pohuwato,
[19] Sidorukun, [20] Sukamakmur *, [22]
Taluduyunu, dan [ [23] Teratai; |
|
|
Paguat |
|
|
[1] Bunuyo, [2] Karangetang, [3] Libuo, [4] Otodjini, [5] Padengo, [6] Pentadu, [7] Popaya, [8] Siduana, [9] Sipayo, dan [10] Soginti; |
|
|
Patilanggio |
|
|
[1] Sukamakmur, [2] Manawa, [3] |
|
|
Popayato |
|
|
[1} Bukittingki, [2] Bunto, [3] Londoun, [4] Maleo, [5] Marisa, [6] Milangodaa, [7] Molosipat, [8] Padengo, [9] Popayato, [10] Tahele, [11] Telaga, dan [12] Tunasjaya; |
|
|
Randangan |
|
|
[1] Ayula, [2] Banoraja, [3] Wonggarasi Barat, [4] Wonggarasi Timur, [5] |
|
|
Taluditi |
|
|
[1] Kalimas, [2] |
|
|
Pohuwato |
|
|
Marisa [ibu kota kabupaten] |
TABEL 6
WILAYAH, LUAS, DAN
JUMLAH PENDUDUK
KABUPATEN POHUWATO
TAHUN 1997 dan 2004
|
|
(2004) |
Ibu Kota |
(km2) |
Desa (1997) |
Kelurahan (2004) |
Penduduk |
(jiwa/km2) (1997) |
|
|
|
Lemito |
|
|
|
|
|
|
Azan Ismail |
|
|
Marisa |
|
1.519,00
|
|
|
|
|
Zakaria Utiarahman |
|
|
Paguat |
|
530,00
|
|
|
|
|
Rudin Olii |
|
|
Popayato |
|
2.181,60
|
|
|
|
|
Jhon Nento |
|
|
Randangan |
|
|
|
|
|
|
Yunus Abdullah |
|
|
Patilanggio |
|
|
|
|
|
|
Syaril Dilapangga |
|
|
Taluditi |
|
|
|
|
|
|
Abdullah Huntoyungo |
| - | Kabupaten Pohuwato |
|
4.230,60
|
|
|
[105.593] |
|
-Drs. Jahja K. Nasib (Penjabat Bupati) |

Pemerintahan
Adapun
nama jabatan dan pejabat Pemerintahan Kabupaten Pohuwato sampai dengan
Maret 2004 adalah sebagai berikut.
|
|
|
|
|
|
Bupati (Penjabat) | Drs. Jahja K. Nasib |
|
|
Wakil Bupati | - |
|
|
Sekretaris Daerah | Drs. Ranis Luwiti |
|
|
Asisten I | Hikman Katohidar,S.H. |
|
|
Asisten II | Ir. Yusuf Giasi |
|
|
Asisten III | H.Thamrin Hunowu, S.Sos. |
|
|
Kepala Bagian | - |
|
|
Bagian Ekonomi & Lingkungan
Hidup |
Drs. Achmad Djuuna |
|
|
Bagian Hukum | Nizma Sanad, S.H. |
|
|
Bagian Humas | Drs. Abdul Muthalib Dunggio |
|
|
Bagian Kepegawaian | Jusuf Potale, S.H. |
|
|
Bagian Keuangan | Drs. Mahyudin Ahmad |
|
|
Bagian Pembangunan | Ir. Fitriani Lasantu |
|
|
Bagian Pemerintahan | Zubair Adji |
|
|
Bagian Umum | Harun Daud |
| No. | Kepala Badan | - |
|
|
Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah |
Drs. Jusdin Puluhulawa |
|
|
Badan Pengawas Daerah | Drs. Amin Haras |
| -- | - | - |
| - | Kepala Dinas | - |
|
|
Dinas Kehutanan | Drs. Lahmudin Laparaga |
|
|
Dinas Kesehatan | dr. Ibnu Hidayat |
|
|
Dinas Pariwisata | Drs. Rustam Akuba |
|
|
Dinas Pendidikan & Kebudayaan | Dra. Hj. Luciana Bouty |
|
|
Dinas Perhubungan | Drs. M.S. Binol |
|
|
Dinas Perikanan dan Kelautan | Ir. Mahmudi Irdja |
|
|
Dinas Perindustrian, Perdagkop,
& Pertambangan |
Muz Zakaria, S.E. |
|
|
Dinas Peternakan | Dinas Peternakan |
|
|
Dinas PU & Kimpraswil | Ir. Jusuf Busumbul |
|
|
Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi |
Heni P. Bakari |
| - | - | - |
|
|
Kepala Kantor | |
|
|
Kantor Kesbanglinmas | Tasrif Haras |
DPRD
Berdasarkan jumlah penduduk dan wilayahnya, DPRD Kabupaten Pohuwato Periode 2004-2009 mendapat jatah 25 kursi untuk anggota Dewan yang dipilih melalui Pemilu 5 April 2004. Anggota Dewan ini merupakan anggota legislatif pertama di Kabupaten Pohuwato yang merupakan mekaran Kabupaten Boalemo tahun 2003 lalu.
Anggota Dewan Kabupaten Pohuwato
ini terdiri atas: (1) Golkar - 10 kursi; (2) PBB - 4 kursi; (3) PBR - 3
kursi; (4) PDIP - 3 kursi; (5) PPP - 2 kursi; dan (6) PKB - 2 kursi, sebagai
berikut.
|
|
|
I. Golkar
|
IV. PKB
|
*) Sumber: JulianurCom, 2004
Kabupaten Pohuwato
Kamis, 29 Januari 2004
Gorontalo–Kompas–BERPISAH
dari orangtua mungkin menyedihkan. Bagi yang sudah siap dan berbekal mantap,
justru perpisahan menjadi tantangan dan kesempatan meraih lebih banyak.
Itu yang terjadi dengan Kabupaten Pohuwato, daerah pemekaran Kabupaten
Boalemo di tahun 2003. Daerah baru yang lahirnya berbarengan dengan Kabupaten
Bonebolango ini kaya potensi. Tidak perlu khawatir akan masa depan asal
bisa mengelola peluang dan kekuatan yang tersedia di depan mata.
DARI deretan angka statistik, bisa jadi justru sang induk akan menangis sedih akibat hilangnya dua pertiga wilayah, juga 160 kilometer bibir pantai yang harus berpindah tangan. Sejauh ini memang belum dipublikasikan angka pembagian hasil kegiatan ekonomi antara induk dan anak, tetapi yang jelas banyak titik-titik kekuatan Boalemo yang harus beralih.
Areal ladang jagung di sepanjang Jalan Trans-Sulawesi salah satunya. Kini, 16.300 hektar ladang jagung dengan produksi sekitar 52.400 ton tahun 2002 menjadi modal perekonomian dan bahkan menjadikan Pohuwato diperhitungkan sebagai penghasil jagung pipil dalam skala provinsi. Sekitar 40 persen jagung dari Provinsi Gorontalo disumbangkan oleh kabupaten ini. Pipilan laku dikirim ke mancanegara seperti Malaysia dan Filipina. Karena pesatnya perkembangan jagung dibandingkankan dengan daerah lain di Provinsi Gorontalo, Pohuwato ditetapkan sejak bulan Desember 2003 menjadi pusat pengembangan agropolitan untuk komoditas jagung.
Jagung memang andalan budidaya tanaman pangan, tetapi bukan berarti komoditas lain diabaikan. Persawahan untuk penanaman padi tetap mendapat perhatian pemerintah kabupaten. Sebuah irigasi baru selesai dibangun untuk melengkapi tiga buah irigasi yang telah ada: Bunuyo, Taluduyunu, dan Balayo. Namun, irigasi baru yang dikenal sebagai irigasi Molosipat ini belum difungsikan, menunggu sawah baru.
Para transmigran dari Pulau Jawa yang terkumpul di bagian tengah, yaitu di Kecamatan Taluditi dan Randangan memperkenalkan budi daya jeruk kepada penduduk sekitar. Dulu, bibit jeruk dibawa langsung dari Pulau Jawa oleh para pendatang. Sekarang, bibit jeruk umumnya didapat dari tetangga sebelah barat, Kabupaten Parigi Moutong yang juga mengembangkan jeruk. Kemiripan iklim meyakinkan para petani bahwa bibit jeruk dari Parigi Moutong juga cocok dikembangkan di daerahnya. Jeruk yang disebut "jeruk manis" ini dihasilkan di Kecamatan Randangan. Pemasaran belum sampai antarpulau, baru lokal, paling jauh sampai Provinsi Sulawesi Utara.
Pertanian memang diminati sebagian besar penduduk sebagai ladang nafkah. Sekitar 53,10 persen penduduk memilih pekerjaan sebagai petani. Sementara sektor perkebunan hanya diminati oleh 4,95 persen.
Perkebunan yang banyak dibudidayakan adalah kelapa. Pohon kelapa berderet-deret. Ada yang rapi, ada pula yang tumbuh dengan jarak satu sama lain tidak beraturan. Kelapa mudah ditemui, terutama di pinggir pantai. Pohon jenis monokotil ini juga sering terlihat ditumpangsarikan dengan jagung. Sepanjang tahun 2002, sekitar 15.350 hektar areal penanaman kelapa menghasilkan 18.500 ton kelapa (produksi kelapa Kabupaten Boalemo-tanpa partisipasi Kabupaten Pohuwato-5.600 ton). Setelah diolah, kelapa yang telah menjadi kopra dikirim ke luar negeri, antara lain ke Jepang, Filipina, dan Korea Selatan.
Selain kelapa, ada juga pembudidayaan jambu mete, kakao, kopi, kemiri, cengkeh, dan lada dalam bentuk perkebunan rakyat. Namun, luas areal dan produksinya tidak sebesar kelapa. Lahan-lahan kosong tidak hanya terlihat di lokasi pusat pemerintahan, di kecamatan-kecamatan pun banyak. Penduduk memanfaatkan lahan tersebut untuk suplai makanan sapi. Dengan dukungan sekitar 7.900 hektar ladang penggembalaan, sapi-sapi dikirim ke provinsi lain, misalnya, Sulawesi Tengah serta daerah-daerah di Kalimantan Timur, seperti Tarakan, Balikpapan, dan Samarinda. Ayam buras juga menjadi andalan peternak dan pasar terbuka lebar. Setelah selama ini pasar utama ayam adalah Provinsi Sulawesi Utara, kini para peternak mulai melirik Provinsi Sulawesi Tengah yang lebih dekat jaraknya.
Lebih dari 70 persen permukaan kabupaten tertutup oleh hutan yang luas keseluruhannya tidak kurang 334.000 hektar. Sekitar 68 persen berstatus hutan produksi. Kayu hutan yang sebagian besar berada di Kecamatan Popayato digunakan oleh penduduk sebagai bahan baku mebel, sementara untuk bangunan dijual hingga ke negeri ginseng, Korea Selatan. Di samping kayu, rotan yang sudah dibersihkan dan diolah setengah jadi dikirim ke Surabaya menjadi bahan baku industri di sana.
Melihat luasan yang belum dikelola, potensi besar membayang di pelupuk mata. Sampai sekarang, hanya ada sebuah HPH yang beroperasi, sementara lima buah lainnya masih dalam tahap mengurus syarat- syarat administrasi. Kecilnya jumlah penduduk cukup mengurangi kekhawatiran terjadinya konversi hutan. Bahkan, masih ada bekas HPH yang bisa dikonversikan seluas 50.000 hektar dan belum ada yang memanfaatkan. Selain itu, potensi rotan 15.000 hektar dengan produksi rata-rata 2,5 ton per hektar serta getah damar 2.000 hektar dengan rata-rata produksi 0,96 ton per hektar.
Laut biru di Teluk Tomini di bagian selatan juga layak dipertimbangkan sebagai pemacu perekonomian masa datang. Potensi tuna, cakalang, dan tongkol 2.100 ton per tahun, juga jenis yang lebih kecil seperti ikan layung, selar, dan teri 4.030 ton/tahun, ditambah kerapu, ikan baronang, dan kuwe 4.070 ton per tahun dapat dimanfaatkan oleh nelayan. Rumput laut yang bisa dikembangkan hingga 900 hektar dengan hasil 18.000 ton per tahun dan mutiara 1.000 hektar menanti usaha nyata. Udang windu bernilai ekonomi tinggi juga siap dikembangkan di tambak seluas 9.000 hektar. Kekuatan Pohuwato di sektor perikanan cukup signifikan dalam skala provinsi. Kabupaten yang usianya hampir satu tahun ini dijadikan pusat produksi perikanan, Kabupaten Boalemo menjadi pusat etalase perikanan. Ratna Sri Widyastuti/Litbang Kompas.
Lumbung Pangan Gorontalo
Kamis, 29 Januari 2004
Gorontalo–Kompas–TIDAK salah
agaknya bila pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Pohuwato yakin dan
mempersiapkan daerah ini menjadi lumbung pangan Provinsi Gorontalo di bagian
barat di masa depan. Setidaknya, keyakinan ini bisa dipahami bila melihat
potensi yang dimiliki daerah pemekaran Kabupaten Bolaemo ini.
Padi, jagung, dan hasil pertanian lain misalnya, adalah salah satu dari beberapa andalan kabupaten ini. Bahkan untuk jagung, Pohuwato mendukung program agropolitan jagung yang digalakkan pemerintah Provinsi Gorontalo. Ini belum lagi tanaman perkebunan seperti kelapa.
"Kami dan bahkan Gubernur
Provinsi Gorontalo sudah menetapkan untuk membenahi dan mempersiapkan daerah
ini ke depan sebagai lumbung pangan Gorontalo di bagian barat. Kami cukup
memiliki potensi, tinggal mengembangkan saja," ujar Sekretaris Kabupaten
Pohuwato Ranis Luwiti.
Untuk mewujudkan rencana
masa depan ini, sejak terbentuk dan berpisah dari induknya, pemerintah
kabupaten ini sudah berusaha menggenjot sektor pertanian. Misalnya, dalam
APBD kabupaten ini, yang Rp 87 miliar, hanya 35 persen yang dialokasikan
untuk anggaran belanja aparatur dan pemerintah. Selebihnya, sekitar 65
persen, dialokasikan untuk belanja publik. Dari 65 persen tersebut, sektor
terbanyak yang mendapat alokasi anggaran adalah pertanian.
"Anggaran ini kami gunakan untuk memberikan bantuan kepada petani, baik berupa peralatan, modal kerja, maupun pendidikan dan penyuluhan. Bahkan bantuan-bantuan ini kami serahkan langsung ke tangan petani tanpa melalui pihak-pihak mana pun atau tanpa melalui banyak tangan. Ini agar bantuan yang tidak seberapa ini bisa lebih tepat sasaran sekaligus menghindari potongan di sana-sini," kata Ranis menjelaskan.
Diakui Ranis, salah satu
kendala utama untuk memaksimalkan potensi pertanian ini adalah masalah
sumber daya manusia, khususnya pada petani. Pasalnya, selama ini umumnya
petani di Kabupaten Pohuwato masih bertani dengan cara yang amat tradisional.
Hal ini terutama disebabkan para petani itu belum tersentuh teknologi dan
budidaya pertanian.
Untuk mengakrabkan para
petani dengan teknologi pun bukan hal mudah. Hal itu karena sampai saat
ini sebagian petani juga belum siap dengan teknologi. "Kami akui masih
banyak petani yang bahkan belum siap menerima kehadiran teknologi. Terus
terang, ini juga kendala bagi kami," tutur Ranis lagi.
Bukan hanya pada petani,
secara umum permasalahan sumber daya manusia ini juga terjadi pada hampir
semua sektor, seperti pertambangan maupun perikanan. Memang, perikanan
adalah salah satu potensi besar lainnya di Pohuwato. Bahkan, sebanyak enam
dari tujuh kecamatan di kabupaten ini berada di bibir Teluk Tomini. Akan
tetapi, karena masih berkutat dengan peralatan sederhana, potensi perikanan
ini pun tidak memberikan hasil yang maksimal.
Satu masalah sumber daya manusia lain yang juga dianggap berat bagi pemerintah setempat adalah sifat masyarakat yang cepat puas atas apa yang sudah dicapai. "Makanya kami terus melakukan pendekatan dan perbaikan kualitas sumber daya manusia. Untuk petani yang sebagian besar masih bertani dengan cara yang sangat tradisional, kami mencoba untuk terus membenahi dan pelan-pelan mengenalkan mereka pada pertanian berteknologi, sederhana sekalipun," ujar Ranis.
Diakui Ranis, persoalan anggaran memang menjadi kendala utama untuk memasukkan teknologi ke masyarakat. Tentu saja dalam hal ini pemerintah tidak tinggal diam. Selain membenahi ke dalam, pemerintah, misalnya, juga melakukan berbagai upaya ke luar, di antaranya dengan berkoordinasi dengan provinsi dan pusat serta menggalang kerja sama dengan swasta. Sebagai langkah awal, tawaran kerja sama dengan dua pengusaha swasta yang total akan menggarap 200 hektar areal pertanaman jagung menjadi hal yang menggembirakan.
Satu potensi lain yang kendati belum diketahui berapa besarnya tetapi cukup menjanjikan adalah tambang emas di Kecamatan Marisa. Meskipun masih dikelola secara sangat tradisional, diakui bahwa kegiatan pertambangan emas ini cukup besar pengaruhnya dalam menggerakkan roda perekonomian setempat. Bahkan, pertambangan juga cukup membantu mengangkat taraf hidup masyarakat menjadi lebih baik.
Keberadaan pertambangan emas ini, kata Ranis, diketahui setelah sebuah perusahaan melakukan penelitian di Marisa. Hasil penelitian perusahaan tersebut menyimpulkan bahwa kandungan emas di Marisa tidak terlalu besar. Oleh masyarakat, bekas-bekas galian penelitian ini kemudian digali lagi dengan cara tradisional. Tidak diduga hasilnya cukup menjanjikan, setidaknya bagi masyarakat setempat.
"Sampai saat ini tambang emas itu masih dikelola secara sederhana oleh masyarakat. Saya tidak tahu persis seberapa besarnya, tapi yang kami lihat bahwa kehidupan masyarakat saat ini benar-benar telah berubah. Rumah-rumah mereka yang tadinya berupa gubuk kini menjadi bangunan berdinding tembok dan berlantai keramik. Pokoknya, kehidupan masyarakat sangat jauh berubah, semuanya hanya bersumber dari pertambangan emas ini," kata Ranis menjelaskan.
Dia menambahkan, untuk sementara pemerintah tetap membiarkan semua apa adanya dan digarap secara tradisional. "Toh keuntungannya untuk masyarakat juga. Bahkan kami cukup bersyukur karena mereka bisa mendapatkan hasil yang memuaskan walaupun dengan peralatan sederhana. Ini berarti mereka tidak memerlukan modal besar hanya untuk menambang emas," kata Ranis. (Reny Sri Ayu Taslim).