Sumber: IDI
Online.
Kematian Turun, Kesehatan
Membaik
Limboto--satumed.com--5/4/2002)--
Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo, David Bobihoe mengatakan, derajat
kesehatan masyarakat di kabupaten tersebut sejak tiga tahun terakhir semakin
membaik, Jumat (5/4/02) di Lomboto.Salah satu ukuran, kata Bobihoe, angka
kematian ibu bersalin cenderung menurun, dimana pada tahun 1998 sebesar
254/10.000 ibu melahirkan, tahun 1999 sejumlah 235/10.000 dan pada tahun
2000 sebesar 234/10.00 ibu melahirkan.
Demikian pula angka kematian
bayi selama tiga periode terakhir terus menunjukkan penurunan, tahun 1998
sebesar 85/1000 kelahiran, menurun menjadi 11,7/1000 kelahiran dan tahun
2000 menurun menjadi 4,8/1000 kelahiran. Menurut David, Pemda Kabupaten
Gorontalo terus mengupayakan peningkatan sarana dan prasarana kesehatan,
antara lain pada tahun 2001 lalu penambahan fasilitas persalinan dan anak
serta penambahan ruang vip di RSU Muhammad M. Dunda.
Kabupaten Gorontalo sekarang
ini telah tersedia 22 buah Puskesmas, 110 Puskes Pembantu dan 16 buah Puskes
keliling serta didukung pula oleh Polindes tersebar di seluruh kecamatan.
Tenaga kesehatan sampai 2001 lalu terdapat 862 orang, terdiri dari 42 dokter
umum, sembilan dokter spesialis, serta lebih dari 700 orang tenaga medis
seperti farmasi, perawat, ahli gizi, keteknisan medis dan tenaga nonkesehatan.
Program tahun 2002 ini, pemerintah
daerah akan melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat dalam bentuk pengadaan
obat dan bahan farmasi, pemberdayaan posyandu, pelaksanaan bulan imunisasi
anak sekolah.
Selain itu akan dilakukan
investasi bagi dokter ahli kandungan, internis, anak dan ahli radiologi
agar nantinya semakin menunjang pelayanan kesehatan di Kabupaten Gorontalo.
[Ant]
Sarana Air Bersih RSU Aloe
Saboe
Gorontalo Dikeluhkan Pasien
Jumat, 14 Maret 2003
Gorontalo-ROL-- Sarana air
bersih pada Rumah Sakit Umum (RSU) Aloe Saboe Gorontalo, dikeluhkan oleh
sejumlah pasien maupun keluarga pasien rawat inap di rumah sakit tersebut
karena sering macet. Menurut Amir C., salah seorang keluarga pasien rumah
sakit tersebut, kran di kamar mandi dan WC sering tidak mengeluarkan air.
Bila air itu keluar hanya
sebentar lalu menetes dan berhenti sama sekali. Ha ini membuat pasien atau
keluarga pasien sering "terjebak" kehabisan air di kamar mandi atau di
WC. Menurut dia, jika pasien akan buang air besar atau kencing, air di
kamar mandi dan WC tidak ada, terpaksa mereka menggunakan air minum untuk
membersihkan badan.
Begitu pula untuk mencuci
gelas maupun piring terpaksa harus dibawa pulang ke rumah untuk dicuci.
Akibatnya, bagi keluarga pasien yang rumahnya jauh dari rumah sakit,
hal itu akan sangat merepotkan. Kepala Tata Usaha RSU Aloe Saboe Gorontalo,
Kadir Patuma, ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa air bersih sering macet
karena tekanan air sangat kurang, terutama pada saat jam sibuk.
Menurut Kadir, mereka
meminta kepada keluarga pasien untuk dapat menghemat penggunaan air sehingga
tidak akan mengalami kesulitan bila mau ke kamar mandi, WC, atau mencuci
piring dan gelas. "Kami juga terus berusaha untuk mengoptimalkan sarana
air bersih di setiap ruangan maupun kamar mandi dan WC, "kata Kadir tampak
serius. ant/abi.
RSU Aloei Saboe Gorontalo
Kekurangan
Fasilitas Perawatan
Kamis, 23 Mei 2002
Gorontalo-ROL-- Kondisi
Rumah Sakit Umum (RSU) Aloe Saboe di Kota Gorontalo sangat memprihatinkan
karena banyak pasien tidak tertampung disebabkan kurangnya fasilitas untuk
perawatan.
Direktur RSU Gorontalo,
dr. Sudirman Muhamad, Kamis (23/5/02) di Gorontalo, mengatakan, fasilitas
rumah sakit tersebut kurang memenuhi syarat, antara lain ruangan perawatan
tidak memadai lagi menampung semua pasien.
"Kami tidak dapat mengembangkan
lagi fasilitas perawatan inap di RSU tersebut karena memang areal rumah
sakit sangat kecil, "kata Sudirman.
Menurut dia, kondisi tersebut
sudah dilaporkan kepada walikota dan gubernur setempat agar dibantu fasilitas
rawat inap, antara lain kasur, karena ada pasien rawat inap terpaksa menggunakan
tikar .
Dihubungi secara terpisah,
Gubernur Gorontalo, Fadel Muhamad mengatakan, kondisi rumah sakit tersebut
akan dilaporkan kepada Dirjen Kesehatan RI bisa memperoleh bantuan untuk
mengatasi masalah itu.
Menurut Fadel, Pemerintah
Propinsi Gorontalo akan membantu memindahkan RSU tersebut ketempat lebih
luas sehingga bisa dikembangkan. Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia
(IDI) Provinsi Gorontalo, Alex Bilondatu, mengatakan di daerah tersebut
terdapat 42
dokter umum, 8 dokter gigi, dan 29
dokter
pegawai tidak tetap.ant