Provinsi Gorontalo
memiliki beberapa objek wisata yang menarik untuk dikunjungi dan
dinikmati oleh wisatawan baik dari nusantara maupun mancanegara.
Adapun beberapa objek wisata
adalah sebagai berikut.
1. Pentadio Resort
Objek wisata ini diresmikan
oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Drs. Jusuf Kalla pada tanggal
25 Februari 2004. Objek wisata yang dibangun dengan biaya Rp 15 miliar
dengan dana APB Kabupaten Gorontalo merupakan objek wisata yang bertaraf
internasional, dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, serta dikelola
secara profesional. Objek wisata ini terletak di Desa Pentadio, Kecamatan
Telagabiru, Kabupaten Gorontalo. Lokasinya sangat menarik dan strategis
karena terletak di kawasan Danau Limboto.
Gerbang
Objek Wisata Pentadio Resort (Foto: JulianurCom)
|
Fasilitas yang ada
di Pentadio Resort ini, antara lain, restauran, toko suvernir, kolam renang,
pondokan, sauna, air mancar, lokasi pemancingan, dan bak air panas. Di
lokasi ini juga terdapat sumber air panas yang mengalir ke Danau Limboto.
Di lokasi tersebut para pengunjung dapat menyaksikan semburan mata
air yang cukup panas sehingga dapat digunakan untuk merebus telur
hingga matang. Mereka dapat menikmati siraman air dari sumber mata air
yang cukup hangat yang sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kulit.
Restauran
di Pentadio Resort (Foto: JulianurCom)
|
Tempat
Sauna di Pentadio Resort (Foto: JulianurCom)
|
Toko
Suvenir di Pentadio Resort (Foto: JulianurCom)
|
Kolam
Renang Bertaraf Internasional di Pentadio Resort (Foto: JulianurCom)
|
Gerbang
Masuk Lokasi Pentadio Resort
|
2. Benteng Otanaha
Objek wisata ini terletak
di atas bukit di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo.
Benteng ini dibangun sekitar tahun 1522.
Adapun sejarah pembangunan
benteng ini adalah sebagai berikut.
Sekitar abad ke-15,dugaan
orang bahwa sebagian besar daratan Gorontalo adalah air laut. Ketika itu,
Kerajaan Gorontalo di bawah Pemerintahan Raja Ilato, atau Matolodulakiki
bersama permaisurinya Tilangohula (1505–1585). Mereka memilik tiga keturunan,
yakni Ndoba (wanita),Tiliaya (wanita),dan Naha (pria).Waktu usia remaja,Naha
melanglang buana ke negeri seberang, sedangkan Ndoba dan Tiliaya tinggal
di wilayah kerajaan.
Suatu ketika sebuah kapal
layar Portugal singgah di Pelabuhan Gorontalo Karena kehabisan bahan makanan,
pengaruh cuaca buruk, dan gangguan bajak laut.
Gerbang
Objek Wisata Benteng Otanaha (Foto: JulianurCom)
|
Lokasi
Benteng Otanaha (Foto: JulianurCom)
|
Benteng
Otanaha (Foto: JulianurCom)
|
Mereka menghadap
kepada Raja Ilato. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan,
bahwa untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negeri, akan dibangun atau
didirikan tiga buah benteng di atas perbukitan Kelurahan Dembe, Kecamatan
Kota Barat yang sekarang ini, yakni pada tahun 1525.
Ternyata, para nakhoda Portugis
hanya memperalat Pasukan Ndoba dan Tiliaya ketika akan mengusir bajak laut
yang sering menggangu nelayan di pantai.Seluruh rakyat dan pasukan Ndoba
dan Tiliaya yang diperkuat empat Apitalau, bangkit dan mendesak bangsa
Portugis untuk segera meninggalkan daratan Gorontalo.Para nakhkoda Portugis
langsung meninggalkan Pelabuhan Gorontalo.
Ndoba dan Tiliaya tampil
sebagai dua tokoh wanita pejuang waktu itu langsung mempersiapkan penduduk
sekitar untuk menangkis serangan musuh dan kemungkinan perang yang akan
terjadi.Pasukan Ndoba dan Tiliaya,diperkuat lagi dengan angkatan laut yang
dipimpin oleh para Apitalau atau ‘kapten laut’, yakni Apitalau Lakoro,
Pitalau Lagona, Apitalau Lakadjo, dan Apitalau Djailani.
Sekitar tahun 1585, Naha
menemukan kembali ketiga benteng tersebut. Ia memperistri seorang wanita
bernama Ohihiya.Dari pasangan suami istri ini lahirlah dua putra, yakni
Paha (Pahu) dan Limonu.Pada waktu itu terjadi perang melawan Hemuto
atau pemimpin golongan transmigran melalui jalur utara. Naha dan Paha gugur
melawan Hemuto.
Limonu menuntut balas atas
kematian ayah dan kakaknya. Naha, Ohihiya, Paha, dan Limonu telah memanfaatkan
ketiga benteng tersebut sebagai pusat kekuatan pertahanan. Dengan latar
belakang peristiwa di atas,maka ketiga benteng dimaksud telah diabadikan
dengan nama sebagai berikut. Pertama, Otanaha. Ota artinya benteng. Naha
adalah orang yang menemukan benteng tersebut. Otanaha berarti benteng yang
ditemukan oleh Naha.
Kedua,Otahiya. Ota artinya
benteng. Hiya akronim dari kata Ohihiya, istri Naha Otahiya, berarti
benteng milik Ohihiya. Ketiga Ulupahu.Ulu akronim dari kata Uwole,artinya
milik dari Pahu adalah putera Naha.Ulupahu berarti benteng milik Pahu Putra
Naha.
Benteng Otanaha, Otahiya,
dan Ulupahu dibangun sekitar tahun1522 atas prakarsa Raja Ilato dan para
nakhoda Portugal.
Benteng Otanaha terletak
di atas sebuah bukit, dan memiliki 4 buah tempat persinggahan dan 348 buah
anak tangga ke puncak sampai ke lokasi benteng. Jumlah anak tangga tidak
sama untuk setiap persinggahan. Dari dasar ke tempat persinggahan I terdapat
52 anak tangga; II = 83; III = 53; IV = 89; Benteng = 71 anak tangga (total:
348 tangga naik).
3. Makam Keramat “Ju
Panggola”
Makam Keramat Ju Panggola
terletak di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, kira-kira 1 km ke
arah barat dari lokasi Benteng Otanaha. Makam keramat ini terletak
di atas bukit pada ketinggian 50 meter dari jalan raya, tepat di perbatasan
Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. Dari atas bukit ini kita dapat
melihat Danau Limboto yang luas, dengan airnya yang makin kritis, dari
kedalaman 32 meter kini tinggal 5 hingga 7 meter.
Gerbang
Lokasi Makam Keramat Ju Panggola,
di
Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat,
Kota
Gorontalo (Foto: JulianurCom)
|
Pemandangan
Danau Limboto
Dilihat
dari Masjid Quba
(Foto:
JulianurCom)
|
Ju Panggola adalah
sebuah gelar atau julukan. Ju berarti ‘ya’, sedangkan Panggola berati ‘tua’.
Jadi, Ju Panggola artinya Ya Pak Tua. Dalam sejarah nama Pak Tua tersebut
adalah Ilato, yang artinya kilat. Karena kesaktian dan sifat keramatnya
Ilato, mempunyai kemampuan untuk menghilang dan muncul jika negeri dalam
keadaan gawat.
Pak Tua atau “Ju Panggola”
gelar ini muncul dari masyarakat karena setiap beliau tampil, dengan profil
Kakek Tua yang mengenakan jubah putih. Ia mempunyai jenggot putih yang
sangat panjang yang melewati lutut. Ia juga dijuluki sebagai “Awuliya”
karena beliau adalah penyebar agama Islam sejak tahun 1400, sebelum para
Wali Songo berada di Pulau Jawa.
Aliran yang ditinggalkan
oleh Ju Panggola adalah ilmu putih, yang diterapkan lewat “langga” atau
ilmu bela diri dalam dunia persilatan. Beliau tidak secara langsung melatih
para muridnya, melainkan hanya meneteskan air di mata sang murid,
dan secara otomatis para muridnya memperoleh jurus-jurus persilatan secara
spontan, baik melalui mimpi maupun melalui gerakan refleks.
Makam tersebut memiliki banyak
keajaiban,antara lain, tanah di atas bukit itu berbau harum. Menurut sejarah
bahwa bukit tersebut pernah dihuni oleh beliau sebagai tempat bermunajat
ke hadirat Alla swt.
Lokasi
Makam Ju Panggola
dan
Pengambilan Tanah
di
Dalam Masjid Quba (Foto: JulianurCom)
|
Masjid
Quba, Lokasi Makam Keramat Ju Panggola,
yang
Wafat 1 Muharam 1084 H (18 April 1673)
(Foto:
JulianurCom)
|
Keajaiban tersebut
masih dapat disaksikan hingga sekarang ini. Di makam itu setiap penziarah
datang dan mengambil segengaman tanah di seputar makam, dan anehnya tanah
galian tersebut tidak pernah menjadi lubang yang dalam padahal ribuan
manusia mengambil tanah tersebut sebagai azimat.
Makam Ju Panggola setiap
hari mendapat kunjungan dari para wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun
mancanegara. Sebagian dari mereka melaksanakan salat di Masjid Ju Panggola,
sambil berdoa dan memohonkan berkah penyebuhan dari sakit yang diderita
mereka.
4. Monumen Pahlawan Nani
Wartabone
Monumen Nani Wartabone dibangun
sekitar tahun 1987 pada masa pemerintahan Drs. A. Nadjamudin, Walikotamadya
Gorontalo. Monumen ini terletak di Lapangan Teruna Remaja, Kelurahan Biawu,
Kecamatan Kota Selalatan, Kota Gorontalo, tepat di depan rumah Dinas Gubernur
Provinsi Gorontalo saat ini .
Monumen
Pahlawan Nasional Haji Nani Wartabone,
di
Lapangan Teruna Remaja, Gorontalo
|
Nani Wartabone adalah
putra asli Daerah Gorontalo yang telah banyak mengabdikan diri sebagai
pejuang bangsa dan negara, khususnya dalam gerakan patriotisme melawan
penjajahan Belanda. Gerakan patriotisme Rakyat Gorontalo di bawah pimpinan
Nani Wartabone, dengan menggunakan taktik dan strategi perjuangan mampu
mengusir bangsa penjajah, Belanda, dari Bumi Kerawang, Gorontalo. Perjuangan
rakyat Gorontalo yang patriotik mencapai klimasnya pada tanggal 23 Januari
1942, menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang mampu memproklamasikan
kemerdekaan RI dari Bumi Gorontalo, lepas dari cengkeraman penjajahan Belanda.
|
Jiwa patriotisme
yang tumbuh dan terpelihara sejak abad ke-17, berpuncak pada patriotisme
23 Januari 1942, merupakan batu-batu kerikil yang dipersembahkan rakyat
Gorontalo dalam batas-batas kemampuannya dalam pembangunan Republik Indonesia
yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945.
Jiwa patriotik tersebut muncul
dan tumbuh terus pada masa kekuasaan Jepang, serta terus dibina dan diwariskan
kepada generasi sekarang.
Monemen Nani Wartabone dibangun
untuk menghomati jasa Pahlawanan Perintis Kemerdekaan Nani Wartabone, asal
Gorontalo, dan mengingatkan masyarakat Gorontalo akan peristiwa bersejarah
23 Januari 1942, dengan harapan hasil perjuangan itu akan tumbuh dalam
jiwa generasi sesudahnya untuk membangun Indonesia tercinta ini dalam mengisi
kemerdekaan.
Nani
Wartabone
(Foto:
JulianurCom)
|
Beliau lahir pada
tanggal 30 April 1907 dan wafat tanggal 3 Januari 1996. Ayah beliau bernama
Zakaria Wartabone, seorang Jogugu (semacam Camat) pada zaman Pemerintahan
Belanda. Ibu beliau bernama Saerah Mooduto.
Pada Jumat, 07 November 2003
pukul 10.00 WIB Alm Haji Nani Wartabone dianugerahi gelar sebagai Pahlawan
Nasional oleh Presiden RI Megawati Sukarnoputir bertempat di Istana Negara
ditandai dengan pembacaan Surat Keppres RI Nomor 085/TK/2003, tanggal 6
November 2003.
Beliau pernah memimpin Pemerintahan
Sipil
di Gorontalo pasca-Hindia Belanda yang berumur 144 hari, dengan penduduk
berjumlah 300 ribu orang. Wilayanya mencakup wilayah timur, Molibagu dan
Kaidipang (sekarang wilayah Bolmong), dan wilayah barat, Buol
dan Tolitoli (Sulteng).
|
Administrasi Pemrintahan
Gorontalo dijalankan tanpa melakukan perubahan berarti dari struktur pemerintahan
era Hindia Belanda. Apalagi dari segi personalia, hampir tidak ada kendala
karena sebagaian besar pamong praja di tingkat bawah yang dipegang oleh
pribumi yang loyal terhadap perjuangan tetap menjalankan fungsinya.
5. Danau Limboto
Di objek wisata Danau Limboto
yang terletak di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, yang saat ini
memiliki kedalaman antara 5 hingga 8 meter ini, para pengujung atau wisatawan
dapat menikmati berbagai kegiatan, antara lain, memancing, lomba berperahu,
atau berenang. Selain itu, mereka juga dapat menikmati ikan bakar segar
yang disediakan oleh mayarakat nelayan setempat dengan harga yang relatif
murah.
Danau
Limboto dari tahun ke tahun luas dan tingkat kedalamannya terus berkurang.
Luas Danau Limboto pada tahun 1999 berkisar antara 1.900-3.000 ha, dengan
kedalaman 2-4 meter (Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo, 2000).
Pada tahun 1932, luas perairan ini mencapai 7.000 ha, dengan kedalaman
maksimum 30 m (Sarnita, 1996).
Danau
Limboto di Kabupaten Gorontalo (Foto: JulianurCom)
|
Dengan
demikian, telah terjadi pendangkalan yang cukup cepat di perairan ini yang
mencapai 38,80 cm/tahun. Penggundulan hutan di sekitar perairan tersebut
tampaknya merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pendangkalan
yang cukup tinggi.Data kualitas air selama 1998-1999 menunjukkan bahwa
suhu air permukaan Danau Limboto pada siang hari berkisar antara 29-32,50o
C, sedangkan kecerahannya ("transparency") 35-65 cm. Pada siang hari, kadar
oksigen dalam air permukaan dan dalam lapisan 1 meter di bawah permukaan
berturut-turut adalah 6-10,30 mg/l dan 4-7,10 mg/l.
|
Kandungan
CO 2 pada lapisan permukaan berkisar antara 0-5 mg/l, pH perairan 8,30-8,80
dan total alkalinitasnya ("alkalinity") 55-85 mg CaCO3/l. Kadar senyawa
fosfat berkisar antara 0,02-0,07 mg/l, sedang kandungan nitratnya sangat
kecil (mendekati 0 mg/l), tetapi kadar nitritnya mencapai 0,30-0,90 mg/l,
dan kadar bahan organiknya 30-37 mg/l. Berdasarkan kandungan fosfat, menurut
klasifikasi Parma (1980), Danau Limboto termasuk perperairan yang mesotrof.
6. Pemandian Air Panas Lombongo
Objek wisata Pemandian Air
Panas Lombongo
atau
Lombongo Hot Springsterletak
di Desa Duwano, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Gorontalo, kurang lebih 17
km dari Kota Gorontalo (ibu kota provinsi). Objek
wisata ini diresmikan tanggal 6 April 1989 oleh Bupati Gorontalo, Drs.
P.P. Keppel. Harga tiket masuk Rp 2000 / dewasa. Di lokasi ini para
pengunjung dapat menikmati perbagai atraksi kesenian yang sering dilaksanakan
di tempat ini.
Bak
Pemandian Air Panas Lombongo
di
Kabupaten Bonebolango (Foto: JulianurCom)
|
Pentu
Masuk ke Objek Wisata Lombongo,
Kabupaten
Bonebolango (Foto: JulianurCom)
|
Di samping itu,
mereka dapat menikmati hangat air di tempat pemandian (kolam renang) Lombongo
yang juga sangat bermanfat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Tempat
ini juga menarik untuk relaks dan melepaskan segala bentuk kelelahan saat
sibuk bekerja. Kolam renang yang berisi air hangat ini berukuran
500 m2 dengan kedalaman 1 hingga 2 meter.
7.
Menara Keagungan Limboto
Menara
Keagungan diresmikan oleh Wakil Presiden RI Dr. Hamzah Haz, pada hari Sabtu,
20 September 2003. Nama menara ini ditetapkan berdasarkan SK Bupati Gorontalo
Nomor 717 Tahun 2003 tanggal 18 September 2003 yang telah disetujui oleh
DPRD Kabupaten Gorontalo. Menara ini dibangun sejak tahun 2002 dan menelan
biaya Rp 8,6 miliar, dikerjakan oleh PT Gunung Garuda Indonesia dan
PD Pedago Kabupaten Gorontalo.
Tinggi
Menara Keagungan 65 meter, terdiri atas lima lantai, dengan rincian (dari
dasar ke puncak menara):
-
Lantai
I = 446,56 m2 tinggi 10 meter, auditorium 199,3 m2, selasar 212,38m2,
dengan daya tampung 200 orang, dirancang untuk tempat rapat;
-
Lantai
II = 352,25 m2, tinggi 14 meter, kapasitas 120 orang, dirancang sebagai
tempat restauran;
-
Lantai
III = 157,3 m2, tinggi 30 meter, kapasitas 40, dirancanakan sebagai tempat
penjualan suvenir (toko suvenir);
-
Lantai
IV = 96,96 m2, tinggi 39 meter, dengan kapasitas 20 orang;
-
Lantai
V = 31,36 m2, tinggi 58 meter, kapasitas 10 orang.
-
Puncak
menara setinggi 65 berbentuk kubah.
-
Lebar
kaki pancang 21 meter.
Menara
ini dilengkapi dengan dua lampu sorot dengan jarak jangkauan masing-masing
70 km.
Menara
Keagungan Limboto, Kabupaten Gorontalo
(Foto:
JulianurCom)
|
Nama
Pengunjung Perdana Menara Keagungan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Masing-masing
telah menyetor sebesar Rp 50 juta, dan nama-nama mereka diabadikan dalam
prasasti sebagai Pengunjung Perdana. Mereka adalah:
-
Hi. Abdullah
Alkatiri, S.H.
-
Hi. Zainuddin
Hasan, M.B.A.
-
Hi. Syamsur
Yunus
-
Drs. Hi.
Rusli Habibie
-
Agung
Mazin, S.H.
-
Drs. Hi.
Hamzah Isa, S.H.
-
Hi. Roem
Kono
-
Dr. Ir.
Moh. Revodi A.
-
Ir. Hi.
Hamid Kuna
-
Hi. Rahmat
Gobel
-
Dr. Hi.
Dahlan Muda
|
Dari
puncak Menara Keagungan para pengunjung dapat melihat panorama alam seputar
Gorontalo.
8.
Rumah Adat Bandayo Pomboide
Bandayo
Pomboide, Rumah Adat Gorontalo, di Limboto,
Kabupaten
Gorontalo (Foto: JulianurCom)
|
Rumah
adat Bandayo Pomboide ini terletak di depan Kantor Bupati Gorontalo. Bantayo
artinya
' gedung' atau 'bangunan', sedangkan Pomboide
berarti 'tempat bermusyawarah'.
Bantayo Pomboide sering digunakan sebagai lokasi pagelaran budaya Gorontalo
serta pertunjukan sendratari seantero Gorontalo.
Rumah
adat ini memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan rumah jenis
lainnya. Di dalamnya terdapat berbagai ruang dan kamar yang khas yang mempunyai
fungsi yang berbeda.
Teknik
arsitekturnya menunjukkan nilai-nilai budaya masyarakat Gorontalo yang
bernuansa Islami.
|
9.
Benteng Orange
Lokasi
Benteng Orange di Kwandang,
Kabupaten
Gorontalo (Foto: JulianurCom)
|
Objek
wisata Benteng Oranye (Orange Fortress) merupakan salah satu
peninggalan bersejarah yang terdapat di Kecamatan Kwandang, kurang lebih
61 km dari Kota Gorontalo. Benteng ini merupakan cagar budaya
Benteng
ini dibangun oleh bangsa Portugal pada abad ke-17 (tahun 1630). Benteng
ini berukuran panjang 40 meter, lebar 32 meter, dan tinggi 5 meter (40x32x5
meter). Benteng ini memiliki 178 buah anak tangga.
|
10.
Taluhu Barakati
Objek
Wisata Taluhu Barakati terletak di Desa Iluta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten
Gorontalo, kira-kira 3 kilometer ke arah barat dari lokasi Benteng
Otanaha.
Kata
Taluhu
Barakati berasal dari dua kata, yaitu taluhu, yang berarti 'air',
dan barakati yang berarti 'berkah' atau 'rahmat''. Dinamakan
demikian karena di sini terdapat sumber mata air yang sangat jernih, sejuk,
dan menyegarkan laksana berkah yang tercurah kepada hamba Allah swt.
Konon
lokasi ini dalam legenda masyarakat setempat dipercayai sebagai lokasi
permandian permaisuri dan kerabat kerajaan yang ada di Batudaa.
Dewasa
ini lokasi tersebut sering digunakan lokasi kegiatan pertunjukkan seni
dan budaya, seperti lomba pemilihan putra-putri Gorontalo terbaik atau
yang dikenal dengan nama Nou & Uti.
Lokasi
Objek Wisata Taluhu Barakati
di
Desa Iluta, Kecamatan Batudaa
(Foto:
JulianurCom)
|
Sumber
Mata Air
Taluhu
Barakati
(Foto:
JulianurCom)
|
Objek
wisata Taluhu Barakati ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas, antara
lain dua kolam renang (untuk anak-anak dan untuk dewasa), tribune, kamar
ganti pakaian, dan tempat peristirahatan terbuka.
11. Objek Wisata Lain
Di samping yang telah
disebutkan di atas, Provinsi Gorontalo memiliki beberapa objek wisata yang
lain yang cukup menarik dan perlu dikembangkan, antara lain, Goa Ular di
Kecamatan Batudaa (kira-kira 28 km dari Kota Gorontalo), Danau Perintis
di Kecamatan Suwawa (18 km dari Kota Gorontalo), Taman Laut Pulau
Limba di Kecamatan
Objek Wisata Kebun Binatang
Bongohulawa,
di Limboto, Kabupaten Gorontalo
(Foto: JulianurCom)
|
Paguyaman, Pulau
Bitila di Kecamatan Paguat, Pantai Pasir Putih di Kecamatan Tilamuta, Air
Terjun di Kecamatan Tilamuta, Cagar Alam Panua di Kelurahan Libuo, Kota
Gorontalo, dan Pulau Asiangi di Kecamatan Tilamuta, dan Tangga 2000 di
Kelurahan Pohe, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.
|
Copyright JulianurCom
@ 2004.
|