Free Web space and hosting from 20megsfree.com
Search the Web

 
 

Transportasi Darat

Provinsi Gorontalo memiliki sarana transportasi baik darat, laut, maupun udara. Transportasi darat melayani penumpang dan angkutan barang, baik dalam provinsi maupun antarprovinsi. Gorontalo memiliki dua terminal yang melayani penumpang dan angkutan barang antarprovinsi, yaitu Terminal 1942 di Kota Gorontalo dan Terminal Isimu, Kabupaten Gorontalo, yang dapat menghubungkan Gorontalo dengan hampir seluruh kota utama di Pulau Sulawesi, yakni dari Gorontalo menuju ke Manado, Bitung, Kotamobagu, Palu, Poso, 

 
Foto: Terminal Kota Pasar Sentral Gorontalo
(Foto: Pemda Kota Gorontalo)
 
Parepare, dan Makassar, dengan menggunakan bus besar dan bus DAMRI. Untuk penumpang jarak dekat atau dalam kota dan sekitarnya, ada banyak jenis alat transportasi yang dapat digunakan, antara lain, mikrolet, bendi, bentor (bendi motor), becak, dan ojek.

Tiket untuk penumpang bus antarkota dan antarprovinsi dapat diperoleh, antara lain,  di:
1. CV Garuda Djaya, Jalan Andalas 107, Gorontalo, telefon (62)-0435-826631.
2. PT Angkasa Trijaya Express, Jalan Andalas 124, Gorontalo, telefon (62)-0435-831245.

Transportasi Laut 
Untuk transpotasi laut, Provinsi Gorontalo memiliki dua pelabuhan utama, yakni Pelabuhan Gorontalo dan Pelabuhan Anggrek Kwandang, Kabupaten Gorontalo. 

Foto: KM Umsini, secara regular menyinggahi Pelabuhan Anggrek, Kwandang, Kabupaten Gorontalo (dua minggu sekali (Kamis, Jumat)

 

 

Secara regular  kapal penumpang yang menyinggahi Pelabuhan Anggrek, Kwandang, adalah KM Umsini dan KM Kambuna. Sedangkan Pelabuhan Gorontalo  secara periodik disinggahi kapal penumpang KM Tilongkabila yang menggantikan KM Awu. 

KM  Umsini memiliki panjang seluruh 144,00 m, lebar  23,40 m, draft  5,90 m, DWT (deadweight  tonnage; bobot mati) 3434 ton, GRT (gross registred tonnage) 13.860,37 ton, dan NRT  8413,76 ton, dengan kapasitas penumpang, Kelas 1: 40 orang, Kelas 2: 88 orang, Kelas 3: 68 orang, Kelas 4: 656 orang, dan Kelas Ekonomi: 785 orang. 

KM Umsini dibuat pada tahun 1985, dan mulai dioperasikan 14 Maret 1985. 

Foto: KM Kambuna menyinggahi Pelabuhan Anggrek, 
Kwandang, Kabupaten Gorontalo

KM Kambuna memiliki ukuran utama panjang seluruh  144,00 m, lebar 23,00 m, draft  5,90 m, DWT 3400 ton, GRT 3947,80 ton, dan NRT 8583,82 ton, dengan kapasitas penumpang Kelas 1: 100 orang, Kelas 2: 200 orang, Kelas 3: 300 orang, Kelas 4: 472 orang, dan Kelas Ekonomi: 500 orang 

KM Kambuna dibuat pada tahun 1984 dan mulai dioperasikan 25 Maret 1984.
 
 

Foto: KM Tilongkabila, menyinggahi Pelabuhan
Gorontalo secara regular dua minggu sekali

Sedangkan KM Tilongkabila memiliki ukuran utama panjang seluruh   99,80 m, lebar  18,00 m, DWT  1400 ton, NRT 1812 ton, dan BRT : 6400 ton, dengan kapasitas penumpang Kelas 1: 14 orang,
Kelas 2: 40 orang, dan Kelas Ekonomi: 916 orang. 

KM Tilongkabila dibuat pada
tahun  1987/1988, dan mulai dioperasikan 5 November 1988.

Selain itu, ada dua kapal penyeberangan (feri) yang beroperasi setiap hari dari Pelabuhan Gorontalo menuju Pelabuhan Pagimana, Sulawesi Tengah, yang melayani angkutan barang dan penumpang. 
 
 

Pembelian tiket dapat dilayani di PT Pelni Cabang Gorontalo, dengan alamat Jalan 23 Januari no.31, Gorontalo, telefon (62)-0435-821089, faksimile (62)-0435-821145.
Transportasi Udara
Untuk transportasi udara Provinsi Gorontalo memiliki satu bandara, yakni Bandar Udara Djalaluddin, terletak di Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, kira-kira 35 km dari Kota Gorontalo. 

Foto: Pesawat Fokker F-70 milik
Pelita Air Service (PAS) siap 
melayani penerbangan Anda

Bandara ini memiliki landasan pacu dengan panjang 1.850 m dan lebar 30 m, dan hanya dapat didarati pesawat berbadan kecil jenis Cassa dan F-27. Pada pertengahan 2002 Bandara Djalaluddin akan mengalami peningkatan dan penambahan panjang landasan pacu kira-kira 200 meter serta fasilitas lain berupa pembangunan bandara khusus kargo. Pembangunan bandara khusus kargo ini dimaksudkan untuk mendukung ekspor langsung  dari Provinsi Gorontalo ke mancanegara, yakni Filipina, Taiwan, dan Jepang. Jarak tempuh dari Gorontalo ke Filipina sekitar 1 jam, Taiwan 3 jam, dan ke Jepang 4 jam.

Foto: Pesawat Garuda Indonesia 

 Hingga pada tahun 2002 Bandara Djalaluddin secara periodik dilayani oleh PT Bouroraq Airlines dengan jenis pesawat HS-748/B737 yang efektif sejak tanggal 15 Mei 2001,  PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), serta PT Garuda Indonesia yang melayani jalur penerbangan Gorontalo – Jakarta setiap Rabu dan Jumat, aktif sejak Jumat, 7 Juni 2002.
Sementara itu, Pelita Air Service (PAS) mulai 15 Juni 2002 telah membuka rute penerbangan langsung Jakarta-Palu-Gorontalo (p.p.) dengan jadwal penerbangan empat kali sepekan (Selasa, Kamis, Sabtu, dan Ahad), dengan  menggunakan Fokker-28, Fokker- 4000, dan Fokker-100.

General Sales Agent PAS Gorontalo, Hamid Kuna Thalib mengemukakan, Gorontalo adalah rute PAS ketujuh di Kawasan Indonesia (KTI) dan jika potensi arus penumpang membaik, rute Jakarta-Palu-Gorontalo ini akan disambung sampai ke Manado dan Surabaya.

Hamid  menambahkan, pembukaan rute Jakarta-Palu-Gorontalo ini adalah terobosan  baru PAS, guna "memotong" rute-rute yang sudah ada sebelumnya, sekaligus memenuhi permintaan masyarakat yang selama ini merasa kesulitan karena harus ke Manado lebih dulu untuk pergi ke Jakarta.

Erman Djafar menjelaskan, dengan beroperasinya penerbangan nasional ke Gorontalo mendapatkan dukungan positif dari masyarakat Gorontalo di daerah itu maupun yang ada di luar daerah, karena Gorontalo  akan  lebih terbuka.

Sebelumnya Gorontalo hanya dilayani penerbangan Bouraq dengan jadwal dua kali sepekan dari Manado-Gorontalo-Palu dan Jakarta, dan sempat diterbangi penerbangan Merpati Nusantara Airlines (MNA) dari Manado kemudian dihentikan karena terus merugi.

 Pembelian tiket pesawat dapat dilayani, antara lain, di:

  1. PT Bouraq Airlines, dengan alamat Jalan Ahmad Yani no. 26, City Hotel, Gorontalo, telefon (62)-0435-821070, 821678; 
  2. Hotel Wisata, di Jalan 23 Januari no.19, Gorontalo, telefon (62)-0435-821736, 821737; 
  3. PT Rachmat Tour’s & Travel,  Jalan Kartini Gorontalo 96115, Telefon (0435)- 831117, 831118, 827291, 827292, 827293, Faksimile (0435)-822905;
  4. Sinar Mulia Tour & Travel, Jalan Ahmad Yani 23, Lantai I, Gorontalo 96115, Telefon (0435)-823065, 828879, Faksimile  (0435)-823065;
  5. GSA (General Sales Agent) Merpati Gorontalo, Jalan Ahmad Yani 26, Gorontalo 96115, Telefon (0435)-828395, 828397.
  6. PT Barokah Ba'bul Malik Tour & Travel, Jalan Imam Bonjol 40, Gorontalo 96115, Telefon (0435)-827531, Faksimile (0435)-827532.
  7. PT Royal Tours & Travel, Jalan Nani Wartabone 54, Gorontalo, Telefon (0435)-831957, 831137, Faksimile (0435)- 831137;
  8. PT GML Tour & Travel, Jalan Ahmad Yani 46, Gorontalo, Telefon (0435)-831990, 826689, Faksimile (0435)-826689;
  9. PT Wahyu Indah Holiday Tour & Travel, Jalan Jenderal Sudirman 09, Limboto 96212, Telefon (0435)-881477, 882186, Faksimile (0435)-882186.
  10. PT Rachmat Sinar Nusantara (Pelita Air), Jalan Kartini 26, Gorontalo, telefon (0435)- 831117, 831118, 821070, faksimile (62)-0435-822905, email: sales-gorontalo@pelita-air.com;
  11. Citilink Garuda Nusantara (Hotel Yulia), Jalan Ahmad Yani,  Gorontalo, telefon (62)-0435-828395; dan 
  12. Bandara Jalaluddin Gorontalo, Isimu, Kabupaten Gorontalo, telefon (62)-0435-890366, 890377, 890388.
Berita tentang kegiatan transportasi di Provinsi Gorontalo.

Terobosan Besar: 
Pelita Terbangkan Fokker 100 ke Gorontalo 

Rabu, 23 April 2003
GORONTALO —GPO-- Keberadaan Pelita Air adalah berkat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat serta Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Gorontalo yang tidak henti-hentinya, terutama dalam rangka peningkatan pelayanan di provinsi termuda ini.

Demikian, ditegaskan Direktur Pelita Air, Dahlan Hasyim, berkaitan dengan penerbangan perdana Fokker 100 ke Gorontalo. Menurut Hasyim dengan dibukanya penerbangan pesawat berbadan sedang ke Gorontalo, bukan merupakan tujuan akhir. Itu merupakan awa l dari pekerjaan yang lebih besar, khususnya bagi General Sales Agent (GSA) Pelita Air di Gorontalo. Kalau dulu kita hanya terbang ke Gorontalo dengan Fokker-28 yang berkapasitas penumpang yang lebih sedikit, maka kini terbang dengan Fokker 100 yang berkapasitas penumpang hampir seratus orang. Itu berarti kita harus memacu tingkat layanan dan promosi yang luar biasa sebagai prasyarat suksesnya Pelita di Gorontalo ini,” papar Hasyim. 

Sementara itu, Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo yang mewakili Gubernur Gorontalo, dalam sambutannya menyatakan rasa bangga dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Pelita Air terhadap Gorontalo. “Ini merupakan rintisan luar biasa yang dilakukan Pelita Air di tengah-tengah minimnya fasilitas dan sarana yang dimiliki bandara di Gorontalo.” 

Kepada para undangan yang hadir di acara Penerbangan Perdana Fokker-100 itu, di antaranya Kepala Bandara, Husni Djau, dan beberapa orang anggota Deprov, Sudirman juga menjelaskan soal rencana Pemda yang akan membangun bandara. Posisi run way Jalaluddin saat ini sudah diperpanjang sekitar 400 meter, dan pada tahun anggaran 2003 ini akan ditambah menadi 2.200 meter lagi ke arah barat. Total dana yang akan dianggarkan untuk pembangunan Bandara Djalaludin berasal dari APBN sekitar 10,4 miliar lebih. 

Sudirman juga mengkritisi pihak Direksi dan GSA Pelita Air perihal harga tiket Gorontalo yang masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan Manado. Padahal sampai tahun ini penumpang cukup membludak yang menggunakan jasa Pelita Air ini dari dan ke Gorontalo. 

Soal tiket, menurut GSA Pelita Air Gorontalo, Hamid Kuna, itu sebenarnya sudah diperhitungkan seminimal mungkin. Dan, hasilnya harga terakhir itulah yang bisa disepakati untuk penerbangan ke Gorontalo. “Memang berbeda dengan Manado yang sudah banyak disinggahi berbagai maskapai, sedangkan Gorontalo hanya disinggahi empat maskapai (Pelita, Merpati, Bouraq, dan Citilink Garuda).” 

Kepada GP, Hamid yang juga Ketua Umum DPN Aspekindo itu menegaskan bahwa masyarakat dan Pemda Gorontalo patut bersyukur, karena kepercayaan yang luar biasa sudah dilakukan pihak manajemen Pelita Air. Tidak seperti Bengkulu, provinsi yang sudah lama,  tetapi belum juga mendapat kepercayaan dari maskapai penerbangan mana pun. “Prihatin, selama ini Bengkulu hanya disinggahi satu maskapai saja,” ujar Hamid.(GP-41)

Gorontalo Mendapat Tambahan Kapal Feri
Rabu, 30 April 2003
JAKARTA –GPO-- Sungguh tidak disangka Gorontalo menjadi  perhatian Pemerintah Pusat. Provinsi ini mendapat tambahan lagi satu kapal feri untuk memperlancar transportasi antar pulau.

Tambahan kapal feri ini makin jelas setelah pertemuan antara Dirjen Perhubungan Dephub, Iskandar Abubakar, dengan Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, di Kantor Dephub Pusat, kemarin. Ikut hadir dalam pertemuan Direktur LLASDP (Lalulintas Angkutan Sungai Danau dan Pulau) Ahmad Syukri, staf Dishub Gorontalo Albert Maramis, dan beberapa pejabat lain. 

Penambahan kapal feri itu merupakan terobosan untuk meningkatkan ekonomi rakyat khususnya sektor perhubungan antarpulau. Lebih lanjut menurut Dirjen Perhubungan Darat, bantuan kapal feri itu diberikan setelah ia melihat pertumbuhan ekonomi rakyat Gorontalo yang terus mengalami peningkatan, khususnya program agropolitan yang ditandai dengan beberapa kali ekspor jagung ke luar Gorontalo. “Tentu hal itu perlu ditunjang dengan infrastruktur pelabuhan yang memadai serta penambahan alat transportasi seperti kapal feri,’’ kata Iskandar Abubakar. 

Meski Dirjen bersedia menambah kapal feri, pemerintah daerah harus menyediakan biaya pengoperasian kapal, khususnya fasilitas pelabuhan. Janji tersebut merupakan realisasi dari janji Menteri Perhubungan Agum Gumelar sewaktu meresmikan Pelabuhan Gorontalo beberapa waktu lalu. 

Kapal feri tambahan itu sangat membantu memperlancar perhubungan laut ke Luwuk, Banggai, Unauna, dan daerah-daerah yang berdekatan dengan Gorontalo. 

Fadel juga mengatakan bahwa Pemda bukan hanya mendapatkan tambahan feri, melainkan meminta kepada Dirjen Perhubungan untuk dibuatkan galangan kapal di Gorontalo. ‘’Kami sudah mendapatkan lampu hijau ke arah itu,’’ paparnya. (GP-30)

Dibuka Lagi Penerbangan Rute Makassar-Gorontalo 

Senin, 10 Juni 2002
Gorontalo, Kompas - Setelah terhenti selama sekitar tiga tahun, sejak Jumat (7/6/02), penerbangan rute Makassar-Gorontolo-Makassar dibuka lagi. Maskapai yang kali ini melayani rute tersebut, yakni Citilink Garuda Indonesia dengan frekuensi dua kali seminggu pada Rabu dan Jumat menggunakan pesawat Foker-28. Pembukaan rute ini diyakini dapat memacu, sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat di provinsi baru itu. 

Pembukaan rute ini ditandai dengan penerbangan perdana pesawat Citilink Garuda Indonesia bernomor GA-043 dari Makassar ke Gorontalo pada pukul 18.50 Wita dan tiba pukul 20.20 Wita. Waktu penerbangan ini tertunda 4,5 jam, sebab pesawat bernomor GA-034 yang seharusnya terbang pukul 14.20 Wita tiba-tiba mengalami kerusakan pada sistem hidrolik, sehingga digantikan pesawat dari Denpasar yang baru tiba di Makassar pukul 18.30 Wita. 
Ikut dalam penerbangan perdana itu antara lain Gubernur Gorontalo Fadel Mohammad, Direktur Niaga PT Garuda Indonesia Bahrul Hakim, Manajer Proyek Citilink Karin Emma Item, serta sejumlah pemuka masyarakat Gorontalo di Makassar. Saat pesawat mendarat di Bandara Djalaluddin, Gorontalo, langsung disambut ratusan warga Gorontalo yang menunggu sejak pukul 13.00. Mereka juga menggelar upacara adat mensyukuri pembukaan rute tersebut. 

Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad mengatakan, pembukaan rute Makassar-Gorontalo memberikan penghematan yang cukup besar bagi para penumpang yang ke dan dari Gorontalo. Selama ini, kata dia, setiap orang yang hendak keluar dari Gorontalo menggunakan pesawat, harus terlebih dahulu terbang ke Manado menggunakan Bali Air dengan harga tiket Rp 450.000 per penumpang. Setelah itu dilanjutkan ke Makassar yang tiketnya seharga Rp 750.000 per penumpang. 

Dengan penerbangan langsung Makassar-Gorontalo, harga tiket hanya Rp 600.000 per penumpang. "Berarti terjadi penghematan separuh dibanding menempuh rute Makassar- Manado-Gorontalo. Inilah yang membuat warga Gorontalo di mana saja berada begitu antusias menyambut pembukaan rute penerbangan Makassar-Gorontalo," jelas Fadel semangat. 

Selain Gorontalo, saat yang sama Citilink juga membuka rute baru Surabaya-Denpasar (GA-042), Denpasar-Surabaya (GA 043), masing-masing sekali per hari. Lalu, rute Makassar-Balikpapan (GA-046), Balikpapan-Makassar (GA-047), masing-masing tiga kali seminggu, serta penambahan frekuensi penerbangan pada rute Makassar-Kendari, dan Kendari-Makassar dari tiga kali menjadi empat kali per minggu. Dengan adanya pembukaan beberapa kota tujuan baru tersebut, Citilink telah menerbangi 30 rute antarkota. (jan) 

Garuda dan Pelita Masuk Gorontalo 
Gorontalo, Jumat, 7 Juni 2002
Jakarta --Media Indonesia Onlie (Miol)--Dua maskapai penerbangan nasional masing-masing PT Garuda Indonesia Airways (GIA) dan Pelita Air Service (PAS),  mulai membuka jalur penerbangan ke Provinsi Gorontalo menggunakan pesawat Fokker-28 dan Fokker-100.

Kepala  Dinas Perhubungan dan Postel Provinsi Gorontalo, Erman Djafar, Jumat (7/6/2002) di Gorontalo mengatakan, penerbangan perdana GIA dimulai hari ini (7/6/2002) dengan pesawat "citylink" dari Makassar, yang juga ditumpangi Gubernur Gorontalo Fadel Mohamad  dan rombongan.

Pesawat Garuda itu dijadwalkan mendarat di Bandara Djalaludin Gorontalo pukul 15.45 Wita, berangkat dari Makassar pukul 14.20  dengan waktu tempuh satu jam dan 25 menit, akan disambut dalam suatu upacara dan doa bersama pemerintah, tokoh adapt, dan masyarakat.

Menurut Erman Djafar, penerbangan Garuda dengan jadwal dua kali sepekan dari Makassar itu, diharapkan ikut mempengaruhi perkembangan sektor jasa yang semakin terbuka serta meningkatkan pelayanan transportasi udara.

Sementara itu, Pelita Air Service (PAS) mulai 15 Juni 2002akan membuka rute penerbangan langsung Jakarta-Palu-Gorontalo (PP) dengan jadwal penerbangan empat kali sepekan, menggunakan Fokker-28 4000 dan Fokker-100.

General Sales Agent PAS Gorontalo, Hamid Kuna Thalib mengemukakan, Gorontalo adalah rute PAS ketujuh di Kawasan Indonesia (KTI) dan jika potensi arus penumpang membaik, rute Jakarta-Palu-Gorontalo ini akan disambung sampai Manado dan Surabaya.

Hamid  menambahkan, pembukaan rute Jakarta-Palu-Gorontalo ini adalah terobosan  baru PAS, guna "memotong" rute-rute yang sudah ada sebelumnya, sekaligus memenuhi permintaan masyarakat yang selama ini merasa kesulitan harus ke Manado lebih dulu untuk pergi ke Jakarta.

Erman Djafar menjelaskan, dengan beroperasinya penerbangan nasional ke Gorontalo mendapatkan dukungan positif dari masyarakat Gorontalo di daerah itu maupun yang ada di luar daerah, karena Gorontalo  akan  lebih terbuka.

Sebelumnya Gorontalo hanya dilayani penerbangan Bouraq dengan jadwal dua kali sepekan dari Manado-Gorontalo-Palu dan Jakarta, dan sempat diterbangi penerbangan Merpati Nusantara Airlines (MNA) dari Manado kemudian dihentikan karena terus merugi. (Ant/ima)

Garuda Tambah Armada untuk Penerbangan Citilink 
Media Indonesia, Senin, 10 Juni 2002
MAKASSAR (Media): PT Garuda Indonesia dalam waktu dekat akan menambah jumlah armada jenis F-28 hingga 10 unit untuk penerbangan Citilink Garuda yang kini hanya memiliki empat pesawat. Penambahan dilakukan bersamaan dengan pengembangan rute penerbangan Citilink ke beberapa daerah.

Menurut Direktur Niaga Garuda Bachrul Hakim, dana penambahan armada akan diambil dari laba yang diperoleh Citilink selama ini, yaitu sejak beroperasi ke sejumlah rute mulai pertengahan 2001. Dia menjelaskan, kini Citilink Garuda melayani 30 rute penerbangan dengan empat pesawat F-28.  "Dalam rangka pengembangan Citilink, armadanya akan terus ditambah secara bertahap hingga mencapai 10 unit," ujar Bachrul seusai meresmikan penerbangan perdana Citilink Garuda rute Makassar-Gorontalo dan Gorontalo-Makassar, Jumat (7/6/02).

Citilink adalah produk layanan penerbangan kelas ekonomi yang dikemas untuk memenuhi kebutuhan pengguna jasa transportasi udara dengan biaya lebih murah dibandingkan layanan Garuda yang lebih dulu ada. Meskipun lebih murah, lanjut Bachrul, namun tarif yang ditetapkan wajar dan memberi keuntungan. Dia menyebutkan, tarif itu dapat ditekan karena Citilink menerapkan pola sistem operasi dengan biaya rendah (low cost operation system). Ditambah lagi, pesawat yang dioperasikan untuk penerbangan ini adalah pesawat milik sendiri, bukan laesing. Dia juga yakin, dalam tiga bulan mendatang laba Citilink akan meningkat 60% karena selama ini setiap bulan keuntungannya menunjukkan tren peningkatan.

Berkaitan dengan dibukanya rute Makassar-Gorontalo dan Gorontalo-Makassar, Bachrul menyebutkan rute tersebut sangat potensial, sebab jumlah warga asal Gorontalo, Makassar, maupun Jakarta mencapai puluhan ribu. Selama ini, kata dia, mereka yang ingin ke Gorontalo selalu kesulitan memperoleh layanan transportasi.

Dari Makassar, mereka harus menggunakan pesawat terbang ke Manado terlebih dulu dengan biaya sekitar Rp750.000. Setelah itu, baru melanjutkan lagi dengan pesawat terbang kecil ke Gorontalo dengan tarif Rp450.000 atau menggunakan angkutan darat dengan waktu tempuh 10 jam.

Dengan hadirnya Citilink Makassar-Gorontalo, kata Bachrul, biaya yang dikeluarkan menjadi 50% lebih murah, karena tarif Citilink Makassar-Gorontalo hanya Rp 600.000. Dengan diresmikannya Citilink rute Makassar-Gorontalo, maka rute yang diterbangi kini berjumlah 30 rute.

Penerbangan perdana Citilink Makassar-Gorontalo sempat terganggu oleh kerusakan pesawat. Rencananya pesawat berangkat dari Makassar pukul 14.20 Wita, namun ditunda hingga pukul 19.00 menunggu kedatangan pesawat pengganti dari Surabaya. (Pbu/E-2)

Pelita Buka Rute Jakarta-Palu-Gorontalo
Senin, 17 Juni 2002
GORONTALO--Media Indonesia Onlin-- Potensi ekspor sumber daya alam (SDA) senilai US$100 ribu per tahun telah menarik minat maskapai penerbangan nasional Pelita Air Service (Pelita) untuk menyinggahi Provinsi Gorontalo tiga kali seminggu.

"Beraninya kami memasukkan Provinsi Gorontalo ke dalam rute penerbangan kami di kawasan timur karena sudah mendapat jaminan dari para pengusaha lokal bahwa potensi angkutan udara barang dan penumpang di Gorontalo akan meningkat pesat," kata Direktur Keuangan dan Umum Pelita RHW Massie, ketika meresmikan penerbangan perdana Jakarta-Palu-Gorontalo, Sabtu (15/6).

Pelita sendiri dalam melakukan ekspansi ke Gorontalo hanya memanfaatkan beberapa pesawat yang selama ini menganggur. Berdasarkan data yang dikeluarkan Pelita sampai saat ini, perusahaan penerbangan yang awalnya menggeluti penerbangan carter itu memiliki tiga Fokker 100, empat Fokker 28/MK400, satu pesawat RJ-85, lima DASH-7, dan delapan pesawat jenis CASA 212/200. Sedangkan jenis helikopter yang dimiliki berjumlah 27 unit, terdiri atas tujuh Puma SA330, dua Super Puma SA332, tiga Sikorsky S-76, 12 Bolkow BO-105CB, dua BELL 412, dan satu BELL 430. "Jadi, untuk membuka rute Jakarta-Palu-Gorontalo ini, kami sama sekali tidak menambah pesawat. Kami pakai saja pesawat yang ada. Mencapai 70% sampai 80% saja kami sudah bersyukur," ujar Massie.

Keputusan untuk terbang menyinggahi Provinsi Gorontalo, menurut Massie, merupakan keputusan tepat. Apalagi skenario besar Pelita akan mengarahkan pelayanannya ke wilayah Indonesia bagian timur. Menurut dia, kehadiran Pelita di beberapa kota di Indonesia bagian timur saat ini malah sudah ada yang menggeser dominasi perusahaan penerbangan yang merintis di Indonesia Timur. Untuk rute Jakarta-Palu-Gorontalo, lanjut Massie, Pelita akan membuat barrier terhadap persaingan dengan maskapai lain, yaitu mengutamakan peningkatan pelayanan.

Persiapan Bandara Djalaluddin Gorontalo

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad berpendapat bahwa kehadiran dua maskapai penerbangan nasional termasuk Pelita sudah cukup untuk menggerakkan perekonomian di daerahnya. "Kalau lebih dari dua perusahaan penerbangan yang melayani Gorontalo, dilihat dari sisi daya beli masyarakat Gorontalo yang masih terbatas, memang sangat berlebihan. Nanti mereka nggak untung dan berkelahi, malah kita yang rugi," ujar Fadel.

Secara teknis, Fadel merencanakan pembangunan Bandara Jalaluddin, Gorontalo, sebagai bandara kargo. Untuk dapat mendatangkan pesawat kargo yang lebih besar, Fadel sudah mendapat persetujuan dari Menteri Perhubungan Agum Gumelar untuk memanfaatkan dana senilai Rp1,7 miliar dari pemerintah untuk memperpanjang landasan pacu Bandara Jalaluddin menjadi 2.000 meter (sekarang panjang landasan pacu 1.800-an meter).

Permintaan Fadel memang bukan tanpa alasan. Bentuk pelabuhan tersebut, menurut dia, merupakan upaya Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk mengembangkan potensi sumber daya alam daerah. Ada tiga komoditas utama yang dihasilkan Gorontalo, yaitu jagung dan komoditas pertanian lainnya, ikan tuna, dan komoditas derivat pertanian dan perikanan. Dalam setiap minggunya, Gorontalo mengirim 5-10 ton ikan tuna ke luar daerah dan ekspor ke luar negeri. Kini jenis pesawat kecil saja yang singgah di Gorontalo, misalnya dari Filipina. Rencananya komoditas Gorontalo akan dibawa ke Jawa dan Davao Filipina. Sedangkan untuk ekspor ke Jepang dari Gorontalo masih menunggu kelengkapan kantor imigrasi di Bandara Jalaluddin. (Sad/E-2).

Agar Bisa Didarati Boeing 737:
Bandara Djalaluddin Perlu Penebalan 
Jumat, 18 Oktober 2002
GORONTALO—Gorontalo Post Online—Bandara Djalaluddin perlu perhatian yang serius jika ingin didarati oleh pesawat Boeing 737. Karena sebagaimana penyampaian Air Trafic Controller Widi Nugroho bahwa untuk pengembangan Bandara Jalaludin memang sudah saatnya. Dan sekarang ini yang direncanakan baru untuk penambahan landasan pacu sepanjang 450 meter dengan anggaran sekitar Rp 5 M. 

Selain itu, juga harus dilakukan over lay atau penebalan aspal landasan sekitar 15 cm agar pesawat bisa mendarat dengan leluasa. “Jika sudah over lay, maka Boeing 737 sekalipun bisa aman mendarat di sini,” tandas Widi kepada GP kemarin. Sebenarnya sih menurut Widi bahwa pesawat jenis apapun bisa saja mendarat di Bandara Jalaludin tapi landasannya dibenahi dulu. 

Untuk over lay tersebut menurut Widi harus sudah dilaksanakan dalam waktu dekat ini dan jika itu sudah dilaksanakan maka lebih dari setahun landasan tersebut tetap aman didarati pesawat. Sementara itu, Wakil Gubernur Gusnar Ismail mengatakan bahwa persoalan bandara ini harus diperhatikan. Mengingat ke depan intensitas penerbangan akan semakin padat maka yang namanya over lay memang harus dilakukan. “Sedangkan dalam situasi seperti ini penumpangnya padat apalagi di waktu-waktu mendatang,” ujar Gusnar serius. Ditambahkannya bahwa untuk penebalan dan perpanjangan landasan itu penting karena kalau tidak maka intensitasnya pasti menurun dan tingkat kenyamanan penumpang akan berkurang. Untuk  itu, pada  tahun 2003 penebalan dan perpanjangan itu harus sudah ada realisasinya. Yang pasti tahun depan itu penumpangnya makin bertambah banyak lagi. (GP-49). 

Hari Ini, Merpati Terbang Perdana via Djalaluddin 

Selasa, 01 April 2003
GORONTALO—GP Online--Hari ini, Selasa (01/04/2003), Merpati Nusantara Nusantara Airlines (MNA) bakal terbang perdana via Bandara Jalaluddin Gorontalo dengan menggunakan pesawat Jet-F28. Merpati  menjanjikan kecepatan dan ketepatan dengan waktu terbang (tempuh) hanya sekitar 30 menit dari Gorontalo ke Manado. Hal itu jauh lebih singkat daripada yang ditawarkan oleh perusahaan penerbangan lainnya yang waktu tempuh sekitar  55-60 menit untuk rute yang sama (Gorontalo-Manado.)

General Sales Agent (GSA) MNA, Tjenny Asiku, menjelaskan seluruh kesiapan untuk pelaksanaan terbang perdana Merpati tersebut sudah siap sepenuhnya. Seerti sudah dibayangkan sebelumnya, antusiasme calon penumpang untuk terbang bersama Merpati Nusantara Airlines sangat bagus. “Tempat duduk yang ada, seluruhnya telah terisi,” ujar Tjenny singkat.

Tjenny menjelaskan, selama ini Gorontalo-Manado masih dilayani oleh pesawat ukuran kecil. Padahal menurutnya, orang Gorontalo itu inginnya menumpang di pesawat besar yang lebih nyaman dan terjamin. “Makanya kami isi peluang itu dengan mencoba menyediakan pesawat jenis Jet,” tambahnya. 

Apakah MNA tidak takut dengan kondisi bandara saat ini? Tjenny menjelaskan, selama ini bandara Jalaluddin pun sudah didarati oleh pesawat sejenis Fokker 28, baik oleh Citylink maupun Pelita. Ia melanjutkan, kondisi Jalaluddin tidak mengkhawatirkan. Tidak hanya sampai di Manado, Merpati juga melanjutkan perjalanan menuju ke Makassar dan Jakarta. Hanya saja jenis pesawat yang melayani Makassar dan Jakarta itu adalah jenis Boeing 737 seri 400. 

Meskipun baru melayani hanya Selasa dan Jumat,  pihak GSA Merpati Gorontalo mengaku potensi penerbangan baik dari Gorontalo maupun keluar Gorontalo saat ini cukup besar.(GP-46) 

Untuk Jadwal Penerbangan  lengkap
dari / ke Bandara Djalaluddin Gorontalo, klik di sini!