Berita tentang kegiatan
transportasi di Provinsi Gorontalo.
Terobosan Besar:
Pelita Terbangkan Fokker
100 ke Gorontalo
Rabu, 23 April 2003
GORONTALO —GPO-- Keberadaan
Pelita Air adalah berkat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat serta
Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Gorontalo yang tidak henti-hentinya,
terutama dalam rangka peningkatan pelayanan di provinsi termuda ini.
Demikian, ditegaskan Direktur
Pelita Air, Dahlan Hasyim, berkaitan dengan penerbangan perdana Fokker
100 ke Gorontalo. Menurut Hasyim dengan dibukanya penerbangan pesawat berbadan
sedang ke Gorontalo, bukan merupakan tujuan akhir. Itu merupakan awa l
dari pekerjaan yang lebih besar, khususnya bagi General Sales Agent (GSA)
Pelita Air di Gorontalo. Kalau dulu kita hanya terbang ke Gorontalo dengan
Fokker-28 yang berkapasitas penumpang yang lebih sedikit, maka kini terbang
dengan Fokker 100 yang berkapasitas penumpang hampir seratus orang. Itu
berarti kita harus memacu tingkat layanan dan promosi yang luar biasa sebagai
prasyarat suksesnya Pelita di Gorontalo ini,” papar Hasyim.
Sementara itu, Kepala Bappeda
Provinsi Gorontalo yang mewakili Gubernur Gorontalo, dalam sambutannya
menyatakan rasa bangga dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan
Pelita Air terhadap Gorontalo. “Ini merupakan rintisan luar biasa yang
dilakukan Pelita Air di tengah-tengah minimnya fasilitas dan sarana yang
dimiliki bandara di Gorontalo.”
Kepada para undangan yang
hadir di acara Penerbangan Perdana Fokker-100 itu, di antaranya Kepala
Bandara, Husni Djau, dan beberapa orang anggota Deprov, Sudirman juga menjelaskan
soal rencana Pemda yang akan membangun bandara. Posisi run way Jalaluddin
saat ini sudah diperpanjang sekitar 400 meter, dan pada tahun anggaran
2003 ini akan ditambah menadi 2.200 meter lagi ke arah barat. Total dana
yang akan dianggarkan untuk pembangunan Bandara Djalaludin berasal dari
APBN sekitar 10,4 miliar lebih.
Sudirman juga mengkritisi
pihak Direksi dan GSA Pelita Air perihal harga tiket Gorontalo yang masih
lebih tinggi jika dibandingkan dengan Manado. Padahal sampai tahun ini
penumpang cukup membludak yang menggunakan jasa Pelita Air ini dari dan
ke Gorontalo.
Soal tiket, menurut GSA Pelita
Air Gorontalo, Hamid Kuna, itu sebenarnya sudah diperhitungkan seminimal
mungkin. Dan, hasilnya harga terakhir itulah yang bisa disepakati untuk
penerbangan ke Gorontalo. “Memang berbeda dengan Manado yang sudah banyak
disinggahi berbagai maskapai, sedangkan Gorontalo hanya disinggahi empat
maskapai (Pelita, Merpati, Bouraq, dan Citilink Garuda).”
Kepada GP, Hamid yang juga
Ketua Umum DPN Aspekindo itu menegaskan bahwa masyarakat dan Pemda Gorontalo
patut bersyukur, karena kepercayaan yang luar biasa sudah dilakukan pihak
manajemen Pelita Air. Tidak seperti Bengkulu, provinsi yang sudah lama,
tetapi belum juga mendapat kepercayaan dari maskapai penerbangan mana pun.
“Prihatin, selama ini Bengkulu hanya disinggahi satu maskapai saja,” ujar
Hamid.(GP-41)
Gorontalo Mendapat Tambahan
Kapal Feri
Rabu, 30 April 2003
JAKARTA –GPO-- Sungguh tidak
disangka Gorontalo menjadi perhatian Pemerintah Pusat. Provinsi ini
mendapat tambahan lagi satu kapal feri untuk memperlancar transportasi
antar pulau.
Tambahan kapal feri ini makin
jelas setelah pertemuan antara Dirjen Perhubungan Dephub, Iskandar Abubakar,
dengan Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, di Kantor Dephub Pusat, kemarin.
Ikut hadir dalam pertemuan Direktur LLASDP (Lalulintas Angkutan Sungai
Danau dan Pulau) Ahmad Syukri, staf Dishub Gorontalo Albert Maramis, dan
beberapa pejabat lain.
Penambahan kapal feri itu
merupakan terobosan untuk meningkatkan ekonomi rakyat khususnya sektor
perhubungan antarpulau. Lebih lanjut menurut Dirjen Perhubungan Darat,
bantuan kapal feri itu diberikan setelah ia melihat pertumbuhan ekonomi
rakyat Gorontalo yang terus mengalami peningkatan, khususnya program agropolitan
yang ditandai dengan beberapa kali ekspor jagung ke luar Gorontalo. “Tentu
hal itu perlu ditunjang dengan infrastruktur pelabuhan yang memadai serta
penambahan alat transportasi seperti kapal feri,’’ kata Iskandar Abubakar.
Meski Dirjen bersedia menambah
kapal feri, pemerintah daerah harus menyediakan biaya pengoperasian kapal,
khususnya fasilitas pelabuhan. Janji tersebut merupakan realisasi dari
janji Menteri Perhubungan Agum Gumelar sewaktu meresmikan Pelabuhan Gorontalo
beberapa waktu lalu.
Kapal feri tambahan itu sangat
membantu memperlancar perhubungan laut ke Luwuk, Banggai, Unauna, dan daerah-daerah
yang berdekatan dengan Gorontalo.
Fadel juga mengatakan bahwa
Pemda bukan hanya mendapatkan tambahan feri, melainkan meminta kepada Dirjen
Perhubungan untuk dibuatkan galangan kapal di Gorontalo. ‘’Kami sudah mendapatkan
lampu hijau ke arah itu,’’ paparnya. (GP-30)
Dibuka Lagi Penerbangan Rute
Makassar-Gorontalo
Senin, 10 Juni 2002
Gorontalo, Kompas - Setelah
terhenti selama sekitar tiga tahun, sejak Jumat (7/6/02), penerbangan rute
Makassar-Gorontolo-Makassar dibuka lagi. Maskapai yang kali ini melayani
rute tersebut, yakni Citilink Garuda Indonesia dengan frekuensi dua kali
seminggu pada Rabu dan Jumat menggunakan pesawat Foker-28. Pembukaan rute
ini diyakini dapat memacu, sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat
di provinsi baru itu.
Pembukaan rute ini ditandai
dengan penerbangan perdana pesawat Citilink Garuda Indonesia bernomor GA-043
dari Makassar ke Gorontalo pada pukul 18.50 Wita dan tiba pukul 20.20 Wita.
Waktu penerbangan ini tertunda 4,5 jam, sebab pesawat bernomor GA-034 yang
seharusnya terbang pukul 14.20 Wita tiba-tiba mengalami kerusakan pada
sistem hidrolik, sehingga digantikan pesawat dari Denpasar yang baru tiba
di Makassar pukul 18.30 Wita.
Ikut dalam penerbangan perdana
itu antara lain Gubernur Gorontalo Fadel Mohammad, Direktur Niaga PT Garuda
Indonesia Bahrul Hakim, Manajer Proyek Citilink Karin Emma Item, serta
sejumlah pemuka masyarakat Gorontalo di Makassar. Saat pesawat mendarat
di Bandara Djalaluddin, Gorontalo, langsung disambut ratusan warga Gorontalo
yang menunggu sejak pukul 13.00. Mereka juga menggelar upacara adat mensyukuri
pembukaan rute tersebut.
Gubernur Gorontalo Fadel
Muhammad mengatakan, pembukaan rute Makassar-Gorontalo memberikan penghematan
yang cukup besar bagi para penumpang yang ke dan dari Gorontalo. Selama
ini, kata dia, setiap orang yang hendak keluar dari Gorontalo menggunakan
pesawat, harus terlebih dahulu terbang ke Manado menggunakan Bali Air dengan
harga tiket Rp 450.000 per penumpang. Setelah itu dilanjutkan ke Makassar
yang tiketnya seharga Rp 750.000 per penumpang.
Dengan penerbangan langsung
Makassar-Gorontalo, harga tiket hanya Rp 600.000 per penumpang. "Berarti
terjadi penghematan separuh dibanding menempuh rute Makassar- Manado-Gorontalo.
Inilah yang membuat warga Gorontalo di mana saja berada begitu antusias
menyambut pembukaan rute penerbangan Makassar-Gorontalo," jelas Fadel semangat.
Selain Gorontalo, saat yang
sama Citilink juga membuka rute baru Surabaya-Denpasar (GA-042), Denpasar-Surabaya
(GA 043), masing-masing sekali per hari. Lalu, rute Makassar-Balikpapan
(GA-046), Balikpapan-Makassar (GA-047), masing-masing tiga kali seminggu,
serta penambahan frekuensi penerbangan pada rute Makassar-Kendari, dan
Kendari-Makassar dari tiga kali menjadi empat kali per minggu. Dengan adanya
pembukaan beberapa kota tujuan baru tersebut, Citilink telah menerbangi
30 rute antarkota. (jan)
Garuda dan Pelita Masuk Gorontalo
Gorontalo, Jumat, 7 Juni
2002
Jakarta --Media Indonesia
Onlie (Miol)--Dua maskapai penerbangan nasional masing-masing PT Garuda
Indonesia Airways (GIA) dan Pelita Air Service (PAS), mulai membuka
jalur penerbangan ke Provinsi Gorontalo menggunakan pesawat Fokker-28 dan
Fokker-100.
Kepala Dinas
Perhubungan dan Postel Provinsi Gorontalo, Erman Djafar, Jumat (7/6/2002)
di Gorontalo mengatakan, penerbangan perdana GIA dimulai hari ini (7/6/2002)
dengan pesawat "citylink" dari Makassar, yang juga ditumpangi Gubernur
Gorontalo Fadel Mohamad dan rombongan.
Pesawat Garuda itu dijadwalkan
mendarat di Bandara Djalaludin Gorontalo pukul 15.45 Wita, berangkat dari
Makassar pukul 14.20 dengan waktu tempuh satu jam dan 25 menit, akan
disambut dalam suatu upacara dan doa bersama pemerintah, tokoh adapt, dan
masyarakat.
Menurut Erman Djafar, penerbangan
Garuda dengan jadwal dua kali sepekan dari Makassar itu, diharapkan ikut
mempengaruhi perkembangan sektor jasa yang semakin terbuka serta meningkatkan
pelayanan transportasi udara.
Sementara itu, Pelita Air
Service (PAS) mulai 15 Juni 2002akan membuka rute penerbangan langsung
Jakarta-Palu-Gorontalo (PP) dengan jadwal penerbangan empat kali sepekan,
menggunakan Fokker-28 4000 dan Fokker-100.
General Sales Agent PAS Gorontalo,
Hamid Kuna Thalib mengemukakan, Gorontalo adalah rute PAS ketujuh di Kawasan
Indonesia (KTI) dan jika potensi arus penumpang membaik, rute Jakarta-Palu-Gorontalo
ini akan disambung sampai Manado dan Surabaya.
Hamid menambahkan,
pembukaan rute Jakarta-Palu-Gorontalo ini adalah terobosan baru PAS,
guna "memotong" rute-rute yang sudah ada sebelumnya, sekaligus memenuhi
permintaan masyarakat yang selama ini merasa kesulitan harus ke Manado
lebih dulu untuk pergi ke Jakarta.
Erman Djafar menjelaskan,
dengan beroperasinya penerbangan nasional ke Gorontalo mendapatkan dukungan
positif dari masyarakat Gorontalo di daerah itu maupun yang ada di luar
daerah, karena Gorontalo akan lebih terbuka.
Sebelumnya Gorontalo hanya
dilayani penerbangan Bouraq dengan jadwal dua kali sepekan dari Manado-Gorontalo-Palu
dan Jakarta, dan sempat diterbangi penerbangan Merpati Nusantara Airlines
(MNA) dari Manado kemudian dihentikan karena terus merugi. (Ant/ima)
Garuda Tambah Armada untuk
Penerbangan Citilink
Media Indonesia, Senin,
10 Juni 2002
MAKASSAR (Media): PT Garuda
Indonesia dalam waktu dekat akan menambah jumlah armada jenis F-28 hingga
10 unit untuk penerbangan Citilink Garuda yang kini hanya memiliki empat
pesawat. Penambahan dilakukan bersamaan dengan pengembangan rute penerbangan
Citilink ke beberapa daerah.
Menurut Direktur Niaga Garuda
Bachrul Hakim, dana penambahan armada akan diambil dari laba yang diperoleh
Citilink selama ini, yaitu sejak beroperasi ke sejumlah rute mulai pertengahan
2001. Dia menjelaskan, kini Citilink Garuda melayani 30 rute penerbangan
dengan empat pesawat F-28. "Dalam rangka pengembangan Citilink, armadanya
akan terus ditambah secara bertahap hingga mencapai 10 unit," ujar Bachrul
seusai meresmikan penerbangan perdana Citilink Garuda rute Makassar-Gorontalo
dan Gorontalo-Makassar, Jumat (7/6/02).
Citilink
adalah produk layanan penerbangan kelas ekonomi yang dikemas untuk memenuhi
kebutuhan pengguna jasa transportasi udara dengan biaya lebih murah dibandingkan
layanan Garuda yang lebih dulu ada. Meskipun lebih murah, lanjut Bachrul,
namun tarif yang ditetapkan wajar dan memberi keuntungan. Dia menyebutkan,
tarif itu dapat ditekan karena Citilink menerapkan pola sistem operasi
dengan biaya rendah (low cost operation system). Ditambah lagi, pesawat
yang dioperasikan untuk penerbangan ini adalah pesawat milik sendiri, bukan
laesing. Dia juga yakin, dalam tiga bulan mendatang laba Citilink akan
meningkat 60% karena selama ini setiap bulan keuntungannya menunjukkan
tren peningkatan.
Berkaitan dengan dibukanya
rute Makassar-Gorontalo dan Gorontalo-Makassar, Bachrul menyebutkan rute
tersebut sangat potensial, sebab jumlah warga asal Gorontalo, Makassar,
maupun Jakarta mencapai puluhan ribu. Selama ini, kata dia, mereka yang
ingin ke Gorontalo selalu kesulitan memperoleh layanan transportasi.
Dari Makassar, mereka harus
menggunakan pesawat terbang ke Manado terlebih dulu dengan biaya sekitar
Rp750.000. Setelah itu, baru melanjutkan lagi dengan pesawat terbang kecil
ke Gorontalo dengan tarif Rp450.000 atau menggunakan angkutan darat dengan
waktu tempuh 10 jam.
Dengan hadirnya Citilink
Makassar-Gorontalo, kata Bachrul, biaya yang dikeluarkan menjadi 50% lebih
murah, karena tarif
Citilink Makassar-Gorontalo hanya Rp 600.000. Dengan diresmikannya
Citilink rute Makassar-Gorontalo, maka rute yang diterbangi kini berjumlah
30 rute.
Penerbangan perdana Citilink
Makassar-Gorontalo sempat terganggu oleh kerusakan pesawat. Rencananya
pesawat berangkat dari Makassar pukul 14.20 Wita, namun ditunda hingga
pukul 19.00 menunggu kedatangan pesawat pengganti dari Surabaya. (Pbu/E-2)
Pelita Buka Rute Jakarta-Palu-Gorontalo
Senin, 17 Juni 2002
GORONTALO--Media Indonesia
Onlin-- Potensi ekspor sumber daya alam (SDA) senilai US$100 ribu per tahun
telah menarik minat maskapai penerbangan nasional Pelita Air Service (Pelita)
untuk menyinggahi Provinsi Gorontalo tiga kali seminggu.
"Beraninya kami
memasukkan Provinsi Gorontalo ke dalam rute penerbangan kami di kawasan
timur karena sudah mendapat jaminan dari para pengusaha lokal bahwa potensi
angkutan udara barang dan penumpang di Gorontalo akan meningkat pesat,"
kata Direktur Keuangan dan Umum Pelita RHW Massie, ketika meresmikan penerbangan
perdana Jakarta-Palu-Gorontalo, Sabtu (15/6).
Pelita sendiri dalam melakukan
ekspansi ke Gorontalo hanya memanfaatkan beberapa pesawat yang selama ini
menganggur. Berdasarkan data yang dikeluarkan Pelita sampai saat ini, perusahaan
penerbangan yang awalnya menggeluti penerbangan carter itu memiliki tiga
Fokker 100, empat Fokker 28/MK400, satu pesawat RJ-85, lima DASH-7, dan
delapan pesawat jenis CASA 212/200. Sedangkan jenis helikopter yang dimiliki
berjumlah 27 unit, terdiri atas tujuh Puma SA330, dua Super Puma SA332,
tiga Sikorsky S-76, 12 Bolkow BO-105CB, dua BELL 412, dan satu BELL 430.
"Jadi, untuk membuka rute Jakarta-Palu-Gorontalo ini, kami sama sekali
tidak menambah pesawat. Kami pakai saja pesawat yang ada. Mencapai 70%
sampai 80% saja kami sudah bersyukur," ujar Massie.
Keputusan untuk terbang menyinggahi
Provinsi Gorontalo, menurut Massie, merupakan keputusan tepat. Apalagi
skenario besar Pelita akan mengarahkan pelayanannya ke wilayah Indonesia
bagian timur. Menurut dia, kehadiran Pelita di beberapa kota di Indonesia
bagian timur saat ini malah sudah ada yang menggeser dominasi perusahaan
penerbangan yang merintis di Indonesia Timur. Untuk rute Jakarta-Palu-Gorontalo,
lanjut Massie, Pelita akan membuat barrier terhadap persaingan dengan maskapai
lain, yaitu mengutamakan peningkatan pelayanan.
Persiapan Bandara Djalaluddin
Gorontalo
Sementara itu, dalam kesempatan
yang sama, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad berpendapat bahwa kehadiran
dua maskapai penerbangan nasional termasuk Pelita sudah cukup untuk menggerakkan
perekonomian di daerahnya. "Kalau lebih dari dua perusahaan penerbangan
yang melayani Gorontalo, dilihat dari sisi daya beli masyarakat Gorontalo
yang masih terbatas, memang sangat berlebihan. Nanti mereka nggak untung
dan berkelahi, malah kita yang rugi," ujar Fadel.
Secara teknis, Fadel merencanakan
pembangunan Bandara Jalaluddin, Gorontalo, sebagai bandara kargo. Untuk
dapat mendatangkan pesawat kargo yang lebih besar, Fadel sudah mendapat
persetujuan dari Menteri Perhubungan Agum Gumelar untuk memanfaatkan dana
senilai Rp1,7 miliar dari pemerintah untuk memperpanjang landasan pacu
Bandara Jalaluddin menjadi 2.000 meter (sekarang panjang landasan pacu
1.800-an meter).
Permintaan Fadel memang bukan
tanpa alasan. Bentuk pelabuhan tersebut, menurut dia, merupakan upaya Pemerintah
Provinsi Gorontalo untuk mengembangkan potensi sumber daya alam daerah.
Ada tiga komoditas utama yang dihasilkan Gorontalo, yaitu jagung dan komoditas
pertanian lainnya, ikan tuna, dan komoditas derivat pertanian dan perikanan.
Dalam setiap minggunya, Gorontalo mengirim 5-10 ton ikan tuna ke luar daerah
dan ekspor ke luar negeri. Kini jenis pesawat kecil saja yang singgah di
Gorontalo, misalnya dari Filipina. Rencananya komoditas Gorontalo akan
dibawa ke Jawa dan Davao Filipina. Sedangkan untuk ekspor ke Jepang dari
Gorontalo masih menunggu kelengkapan kantor imigrasi di Bandara Jalaluddin.
(Sad/E-2).
Agar Bisa Didarati Boeing
737:
Bandara Djalaluddin Perlu
Penebalan
Jumat, 18 Oktober 2002
GORONTALO—Gorontalo Post
Online—Bandara Djalaluddin perlu perhatian yang serius jika ingin didarati
oleh pesawat Boeing 737. Karena sebagaimana penyampaian Air Trafic Controller
Widi Nugroho bahwa untuk pengembangan Bandara Jalaludin memang sudah saatnya.
Dan sekarang ini yang direncanakan baru untuk penambahan landasan pacu
sepanjang 450 meter dengan anggaran sekitar Rp 5 M.
Selain itu, juga harus dilakukan
over
lay atau penebalan aspal landasan sekitar 15 cm agar pesawat bisa mendarat
dengan leluasa. “Jika sudah over lay, maka Boeing 737 sekalipun
bisa aman mendarat di sini,” tandas Widi kepada GP kemarin. Sebenarnya
sih menurut Widi bahwa pesawat jenis apapun bisa saja mendarat di Bandara
Jalaludin tapi landasannya dibenahi dulu.
Untuk over lay tersebut
menurut Widi harus sudah dilaksanakan dalam waktu dekat ini dan jika itu
sudah dilaksanakan maka lebih dari setahun landasan tersebut tetap aman
didarati pesawat. Sementara itu, Wakil Gubernur Gusnar Ismail mengatakan
bahwa persoalan bandara ini harus diperhatikan. Mengingat ke depan intensitas
penerbangan akan semakin padat maka yang namanya over lay memang harus
dilakukan. “Sedangkan dalam situasi seperti ini penumpangnya padat apalagi
di waktu-waktu mendatang,” ujar Gusnar serius. Ditambahkannya bahwa untuk
penebalan dan perpanjangan landasan itu penting karena kalau tidak maka
intensitasnya pasti menurun dan tingkat kenyamanan penumpang akan berkurang.
Untuk itu, pada tahun 2003 penebalan dan perpanjangan itu harus
sudah ada realisasinya. Yang pasti tahun depan itu penumpangnya makin bertambah
banyak lagi. (GP-49).
Hari Ini, Merpati
Terbang Perdana via Djalaluddin
Selasa, 01 April 2003
GORONTALO—GP Online--Hari
ini, Selasa (01/04/2003), Merpati Nusantara Nusantara Airlines (MNA) bakal
terbang perdana via Bandara Jalaluddin Gorontalo dengan menggunakan pesawat
Jet-F28. Merpati menjanjikan kecepatan dan ketepatan dengan waktu
terbang (tempuh) hanya sekitar 30 menit dari Gorontalo ke Manado. Hal itu
jauh lebih singkat daripada yang ditawarkan oleh perusahaan penerbangan
lainnya yang waktu tempuh sekitar 55-60 menit untuk rute yang sama
(Gorontalo-Manado.)
General Sales Agent (GSA)
MNA, Tjenny Asiku, menjelaskan seluruh kesiapan untuk pelaksanaan terbang
perdana Merpati tersebut sudah siap sepenuhnya. Seerti sudah dibayangkan
sebelumnya, antusiasme calon penumpang untuk terbang bersama Merpati Nusantara
Airlines sangat bagus. “Tempat duduk yang ada, seluruhnya telah terisi,”
ujar Tjenny singkat.
Tjenny menjelaskan, selama
ini Gorontalo-Manado masih dilayani oleh pesawat ukuran kecil. Padahal
menurutnya, orang Gorontalo itu inginnya menumpang di pesawat besar yang
lebih nyaman dan terjamin. “Makanya kami isi peluang itu dengan mencoba
menyediakan pesawat jenis Jet,” tambahnya.
Apakah MNA tidak takut dengan
kondisi bandara saat ini? Tjenny menjelaskan, selama ini bandara Jalaluddin
pun sudah didarati oleh pesawat sejenis Fokker 28, baik oleh Citylink
maupun Pelita. Ia melanjutkan, kondisi Jalaluddin tidak mengkhawatirkan.
Tidak hanya sampai di Manado, Merpati juga melanjutkan perjalanan menuju
ke Makassar dan Jakarta. Hanya saja jenis pesawat yang melayani Makassar
dan Jakarta itu adalah jenis Boeing 737 seri 400.
Meskipun baru melayani hanya
Selasa dan Jumat, pihak GSA Merpati Gorontalo mengaku potensi penerbangan
baik dari Gorontalo maupun keluar Gorontalo saat ini cukup besar.(GP-46)
Untuk Jadwal Penerbangan lengkap
dari / ke Bandara
Djalaluddin Gorontalo, klik di sini!
|